Gaya Pengasuhan Ibu Dulu Ketika Anaknya Ujian

 

Hari ini saya dapat reminder dari wali kelas si bocah kalau bulan depan sebelum puasa, anak-anak sudah menghadapi ujian semester. Tak berapa lama, whatsapp group saya heboh dengan celoteh para ibu yang membahas tentang ujian sekolah. Beruntungnya isi celotehan bukan berbagi kepanikan menghadapi ujian, tetapi berbagi pengalaman bagaimana ibu-ibu kita dulu menghadapi anak-anaknya yang mau ujian. Isinya? Beragam. Ada yang diwajibkan dapat juara 1, ada yang super selow, belajar terserah, gak belajar, rasain sendiri. Bagaimana dengan ibu saya?

Ibu saya bukan seorang ibu yang bisa mengenyam pendidikan tinggi. Kehidupan ibu cukup keras dalam mengawal adik-adiknya. Beliau rela untuk tidak meneruskan sekolah demi adik-adiknya bisa bersekolah, hingga lulus sarjana. Sementara ibu sendiri hanya bisa sekolah sampai kelas 5 SD. Beliau menghabiskan masa mudanya dengan bekerja di sebuah pabrik kosmetik ternama di Surabaya.

Ibu tak pernah memaksakan kami untuk harus menjadi juara. Pun ibu tak pernah memberikan target kepada kami harus mendapat nilai tertentu. Untuk urusan nilai dan ranking, ibu sangat demokratis. Yang ibu tahu hanya ibu harus bekerja sekuat tenaga bersama bapak, demi memberikan hidup yang layak untuk empat anaknya.

Namun jangan dikata hal yang sama berlaku untuk urusan pekerjaan rumah. Saya dan adik-adik punya kewajiban untuk mencuci baju seluruh orang di rumah sejak kami masih duduk di sekolah dasar. Setiap pagi, selain harus mengisi air untuk mandi, kami harus membantu ibu mencuci baju. Awalnya tugas kami hanya membilas baju atau menjemur baju yang sudah dicuci saja. Lama kelamaan, tugas mencuci diserahkan kepada kami sepenuhnya. Kalau bangun kesiangan, jangan dikira kami bebas dari tugas mencuci baju. Kalau bangun kesiangan ya tetap harus selesaikan dulu mencuci baju, baru bisa berangkat sekolah. Sampai sekolah terlambat? Resiko ditanggung sendiri. Mungkin itu juga yang menyebabkan kami harus pandai-pandai mengatur waktu sendiri, sejak kami masih SD. Hampir tidak ada teriakan cempreng yang membangunkan kami. Lantas kenapa sekarang saya menikmati sekali gegoleran di tempat tidur kalau libur tiba ya? Anggap saja itu bentuk pelampiasan dan kemerdekaan. *ngeles*

Untuk urusan ujian, ibu tak pernah benar-benar tahu. Apakah besok mulai ujian atau tidak, ibu blasss gak paham. Jadi tidak ada teriakan panjang, atau tausiah berjam-jam ketika kami mau ujian. Suasana menjelang ujian, mau itu ujian ebtanas atau ujian catur wulan (dulu masih pakai sistem cawu), semuanya bergantung sama kesiapan kami masing-masing. Justru yang sering terjadi malah saya yang ngomel panjang untuk mengajak dua adik lelaki saya belajar.

Yaaaa… mohon dimaklumi, sebagai anak pertama dan perempuan satu-satunya, saya adalah mahluk paling bawel di rumah. Apalagi untuk urusan belajar dan urusan sekolah. Mungkin ibu bisa selow juga karena sudah ada saya yang nyinyirnya masyaAllah ketika adik-adiknya mau ujian. Hampir setiap malam saya yang nguprek-uprek adik dan membantu mereka belajar. Bahkan kalau bapak menyalakan TV saat kami belajar, sudah bisa ditebak siapa yang bakal nyinyir duluan.

Entah kesambet setan mana, yang jelas ketika berurusan dengan pelajaran di sekolah, saya mudah panik sendiri. Meski ibu atau bapak tidak pernah menegur saya atau bertanya dapat nilai berapa, saya merasa takut ketika teman-teman bisa melakukan sesuatu, tetapi saya tidak bisa. Kesadaran untuk belajar itu timbul karena ada rasa saya tidak ingin tertinggal, saya juga harus bisa.

Ibu tidak pernah mewajibkan jam sekian sampai jam sekian harus belajar. Ibu tidak pernah menanyakan hari ini saya ada PR atau ulangan harian saya dapat berapa? Ibu tidak tahu sama sekali apakah hari ini saya bisa menjawab pertanyaan di sekolah atau saya kena strap karena terlupa mengerjakan tugas. Mungkin yang ibu tahu hanya hari ini anaknya pulang sekolah tidak menangis. Itu saja sudah cukup.

Saya kecil adalah mahluk penakut dan cengeng. Masuk TK, saya berkali-kali membuat baju ibu sobek karena adu tarik. Saya tidak mau masuk kelas tanpa ditemani ibu. Saya kecil adalah sasaran empuk perundungan. Waktu TK saya punya teman yang rajin sekali memukul dengan keset atau penggaris setiap kali berbaris, dan saya adalah sansak setianya setiap hari. Masih terbayang jelas betapa takutnya saya setiap kali waktu sekolah tiba. Maka tak heran, saya pun takut bukan main ketika lupa mengerjakan tugas atau tidak bisa menjawab soal. Itu kenapa ibu tak perlu capek teriak untuk membuat saya belajar.

Meski tidak ada tuntutan dari bapak maupun ibu, kesadaran belajar dan mengatur waktu itulah yang membuat saya menjadi langganan juara ketika sekolah. Setiap ujian tiba, biasanya saya minta ibu membangunkan saya jam 3 pagi untuk belajar. Untuk masalah begadang, iman mata saya sangat lemah. Jadi jika ada yang harus saya kerjakan hingga larut malam, saya memilih tidur dulu, dan bangun lebih awal untuk mengerjakannya. Demikian juga ketika ujian. Saya memilih tidur dulu, dan bangun sebelum shubuh untuk belajar. Pagi buta itu biasanya saya sendiri. Setelah membangunkan saya, jika ibu terlalu capek, kadang ibu tidur lagi. Namun tak jarang ibu turut beranjak ke dapur untuk menjerang air dan membuatkan saya secangkir teh hangat. Setelah ditemani teh hangat, ibu kembali membiarkan saya sendiri khusuk dengan buku-buku.

Demikianlah gaya pengasuhan ibu saya dulu dalam masalah sekolah. Beberapa hal masih saya pakai hingga sekarang. Saya juga tidak pernah menuntut dua bocah kecil saya untuk memiliki nilai tertentu. Saya tidak pernah mewajibkan bocah kecil saya jam sekian harus belajar. Namun untuk membentuk disiplin belajarnya, biasanya saya berikan mereka pilihan, mau belajar siang selepas pulang sekolah, atau belajar malam hari setelah pulang mengaji. Mereka bebas memilih. Bahkan kalau bersama ayahnya, mereka juga bebas untuk tidak memilih keduanya. Tapi kalau sama bundanya, tetap harus dipilih salah satu. Selebihnya mereka bebas bermain dan bereksplorasi, main lego, membaca, bikin-bikin, pretend play, terserah.

Kebebasan yang kami berikan bukan berarti kami tidak peduli dengan pendidikan. Kami tetap concern dengan hal-hal yang menjadi minat dan bakat dua bocah tersebut. Mereka harus menguasai skill tertentu yang menjadi kesukaan mereka. Kami tidak mewajibkan mereka harus memiliki nilai 100 di semua pelajaran. Namun untuk hal-hal yang menjadi kesukaan mereka, tanpa harus dikomando dan dipaksa, nilai 100 mudah saja tergenggam.

Seperti yang sering di dengungkan para alumni the urban mama, “there is always different story in every parenting style”. Tidak ada kebenaran yang mutlak dalam pola asuh. Apa yang terjadi dalam keluarga kami, adalah yang cocok bagi gaya kami. Tulisan kali ini pun hanyalah kenang-kenangan atas nama masa kecil. Jika kalian memiliki pendapat yang berbeda pun tak mengapa. Bebas untuk berbagi di kolom komentar. Semoga bisa membantu melegakan perasaan bagi yang sejalan dan senasib. Selamat (terus) belajar!

Cerita Di Balik Seuntai Gelang

 

Beberapa waktu yang lalu dua bocah bilang ingin ulang tahunnya dirayakan dengan bagi-bagi goodiebag. Ia ingin seperti teman-temannya yang bisa berbagi goodiebag. Berbagai ide isi goodiebag mereka utarakan. Sebelum bunda mules sendirian, maka diajaklah dua bocah berhitung.

Dua bocah didudukkan dan diajak berdiskusi tentang apa saja yang ingin dijadikan goodiebag, siapa saja yang akan mendapat goodiebag, dan berapa yang akan dibuat. Dari diskusi itu dua bocah belajar berhitung kira-kira berapa biaya yang dibutuhkan untuk merayakan ulang tahun sesuai keinginannya.

Rupanya dari cara itu mereka tahu berapa besarnya uang yang harus dikeluarkan ayah dan bunda untuk merayakan ulang tahunnya. Berawal dari itulah lalu si bocah berpikir bagaimana caranya mendapat uang untuk ditabung. Mulai dari ide mau jualan gambar, jual boneka, hingga tercetuslah ide jual gelang.

Ide itu mantap mereka eksekusi karena mereka bisa buat barangnya sendiri, harga jualnya terjangkau untuk teman-temannya dan barangnya mudah dibawa di tas sekolah. Akhirnya selama weekend kemarin mereka sibuk membuat gelang untuk dijual di sekolah.

Selama 2 hari bekerja, jadilah 11 untai gelang mungil yang siap dijual dengan harga 2.000an. Pas lagi beberes, eh ada om nuni yang datang bersama para ponakan yang ceriwis. Melihat duo kunyil yang heboh dengan barang dagangannya, dibelilah 6 gelang oleh si om.

Memang dari dulu si om adalah truly guardian angelnya Kira & Kara, maka yang dibeli om bukan sekedar untaian gelang, tapi om membayar dengan semangat dan cinta untuk duo kunyil. Kalai dipikir-pikir buat apa coba si om beli gelang sebanyak itu dengan warna yang unyu-unyu pula, kalau bukan untuk cinta dan semangat. Bisa ditebak bahagianya dua bocah setelah 6 gelangnya laku.

Ketika sore teman-teman kompleks nya datang untuk bermain, maka disuguhilah 2 kotak manik-manik yang bebas mereka bikin sendiri, gratis! Maka sore itu, teras rumah berubah menjadi tempat crafting para bocah-bocah cilik. Tetep yaaa yang heboh ya cewek-ceweknya, sementara anak laki sibuk lari-larian atau bermain lego.

Dari seuantai gelang yang awalnya mereka buat untuk iseng dipakai sendiri, lalu timbulah semangat dan asa untuk berbagi. Kita tidak bisa menebak dari mana anak-anak bisa belajar tentang banyak hal. Kita hanya perlu menyediakan banyak media untuk belajarnya, karena belajar adalah hak mereka dan memfasilitasinya adalah kewajiban kita.

Buku loakan, manik-manik sisa, kertas bekas, gunting, majalah usang, lem, kapur, atau hanya sekedar tempat yang nyaman untuk bertanya adalah fasilitas belajar yang tak ternilai harganya bagi mereka. Kami tak pernah keberatan mereka menghabiskan jajanan di rumah atau membuat halaman rumah jadi penuh coretan. Kami bahagia turut menjadi bagian dari coretan masa kecil mereka.

Dari seuntai gelang kami belajar tentang banyak hal, tentang semangat pantang menyerah dan tentang empati. Dari seuntai gelang untuk semangat belajar yang akan terus terbawa. Semoga!

Belajar Parenting dari kisah DILAN dan MILEA

Film Dilan 1990 ternyata feedbacknya luar biasa yaaa… Film yang diadaptasi dari Novel Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990 karya Pidi Baiq ini cukup menjadi hiburan yang renyah untuk anak muda. Eh bukan cuma anak muda ding, tapi juga ibu-ibu macam kami. heuheu…

Awalnya ketika ada ajakan nonton bareng teman-teman, ada rasa enggan. Selain karena anggaran nonton yang gak ada, juga karena ngerasa bukan genre film kesukaan saya. Tapi ketika ada tawaran untuk kedua kali, dan bioskop juga udah sepi, akhirnya cusss berdua sama teman nonton filmnya. Keluar dari bioskop, ternyata hati ikut berbunga-bunga. Serasa habis dihujani kata-kata indah. hahaha… receh sekali ya bahagianya. Seneng aja gitu digombalin.

Penasaran dengan isi novelnya, akhirnya ubek-ubek dan dapatlah 2 buah novel DILAN dan 1 novel MILEA. Dalam waktu 4 hari, 3 buku habiiisss… (Ibu macam apa coba? Kayak gak ada kerjaan ajaa…) Novelnya ringan, dengan gaya bahasa yang mengalir, membacanya jadi gak kerasa. Tahu-tahu sudah habis saja.

Novel ini berkisah tentang perjalanan cinta anak SMA antara Dilan dan Milea. Mulai dari masa pendekatan hingga jadian, bahkan hingga putus. Bedanya, kalau novel DILAN diceritakan dari sudut pandang Milea, sedangkan MILEA diceritakan dari sudut pandang Dilan. Setelah baca ketiganya, kita jadi bisa menilai keseluruhan jalan cerita. Kita juga bisa menyelami bagaimana perbedaan jalan pikiran perempuan dan laki-laki, tentang bagaimana mereka menghadapi masalah dan mengambil keputusan.

Jadi, kalau kalian mau tahu kenapa Dilan dan Milea bisa sampai putus, wajib baca semua novelnya. Dengan begitu kamu tidak akan merasa patah hati yang berlebihan. Ayo ngaku, siapa yang patah hati dan gagal move on ketika tahu kalau Dilan dan Milea ternyata putus? hahaha… Gak usah baper! Baca novelnya dan nantikan seri film selanjutnya.

Sebagai seorang yang kini sudah punya anak dan pernah melewati masa-masa SMA dan ditembak sama Dilan versi KW Super, saya memiliki pesan moral yang berbeda. Ternyata setelah selesai membaca 3 novel tersebut, saya dibuat jatuh cinta pada ibunya DILAN. Kalau jatuh cinta sama DILAN kan sudah banyak yang mengalami ya? Lagian saya sudah menikah dan punya DILAN sendiri di rumah. Jadi sudah gak iri lagi sama yang di novel. Tapi kalau ibunya DILAN itu salah satu sosok ibu yang patut ditiru dan diteladani.

Siapa yang setuju kalau menghadapi anak balita dengan anak SMA itu bedanya jauuuhh… Jadi kalau kita tetap pada pola yang sama, bisa jadi anak SMA kita bakal kabur setiap hari dari rumah. ya kali anak SMA mana mau didikte macam anak TK “ayo bajunya diberesin! Mainannya jangan berantakan!”. Engap gak sih kalau di rumah isinya omelan mulu?!

Sebenarnya pada awalnya saya dibuat kagum oleh sosok DILAN yang menaruh respek tertinggi terhadap ibunya, yang kerap ia sapa dengan sebutan “bunda”. Sekesal apapun, semarah apapun, ketika ibunya yang berbicara, maka ia akan duduk diam dan tenang mendengarkan. Coba bayangkan, anak muda, laki-laki yang ada di usia sangat kritis, bisa duduk takzim mendengarkan omelan ibunya, itu yang hebat luar biasa pasti ibunya. Anak SMA itu kan masa-masa pemberontakannya luar biasa ya? itu usia yang pengennya ya “semau gue”, the only rule is no rules.

Demi belajar sifat ibunya, akhirnya khusus pada bagian interaksi dan percakapan sang bunda saya baca ulang. Bagaimana bunda berinteraksi dengan DILAN, dengan adik dan kakaknya, dengan teman-temannya, dan hasilnya menakjubkan! Berikut beberapa hal yang saya pelajari dari sosok sang bunda tentang mengasuh anak remaja:

Bunda memberikan kesempatan kepada anaknya untuk berbuat salah dan memperbaikinya.

Usia anak remaja adalah usia di mana ia belajar untuk mempertanggungjawabkan semua keputusannya. karena itu, dibutuhkan dukungan bahwa keputusan anaknya adalah yang terbaik yang diambil oleh anaknya. Kalaupun memang ternyata keputusan yang diambil salah, maka anak akan belajar dari masa trial and error.

Seperti ketika Bunda harus kembali menghadapi Dilan yang tawuran dengan teman-temannya, sampai harus menginap di kantor polisi. Di situ digambarkan bahwa bunda bukan seorang yang mudah panik. Bunda memberi kesempatan bahwa Dilan sedang mempertanggungjawabkan keputusannya. Bunda pun yakin bahwa Dilan belajar sesuatu dari keputusannya. Bahkan saking kalemnya si bunda menghadapi Dilan, ia justru bisa meminta Milea untuk ikhlas dan sabar. Luar biasa bukan?

Dibandingkan harus marah-marah dan mengomel, bunda memilih memberikan kesempatan bagi Dilan untuk memperbaiki kesalahannya. Bukankah manusia tidak pernah luput dari kesalahan? Daripada harus bersusah payah menghabiskan tenaga untuk membahas kesalahan, sepertinya lebih bijak jika kita memberikan kesempatan pada anak-anak untuk memperbaiki kesalahannya.

Bunda memberikan Kepercayaan kepada anaknya

Suatu hari Dilan kembali melakukan kesalahan berkelahi dengan temannya. Hingga ia harus dikeluarkan dari sekolahnya karena melanggar peraturan untuk kesekian kalinya. Bagaimana reaksi si Bunda?

Ia berkata bahwa Bunda percaya kepada anaknya. Apabila si anak berkelahi, tentu bukan karena si anak yang memulai. Si anak berkelahi itu karena melakukan sesuatu yang menurutnya benar. Lantas bunda melanjutkan nasihatnya bahwa sebenarnya tidak semua hal harus diselesaikan dengan perkelahian. Bunda mengajarkan Dilan untuk berbuat bijaksana dengan menaruh kepercayaan dan mempertanggungjawabkannya.

Bunda memberikan kebebasan dalam mengambil keputusan.

Siapa yang tidak pernah mendengar tentang reputasi geng motor? Ketika anaknya meminta motor dan memutuskan untuk ikut bergabung ke dalam geng motor, Bunda tidak lantas menjadi orang yang frontal melarang. Bahkan ketika anaknya dikenal sebagai panglima tempur sekalipun bunda masih bisa bersikap tenang. Ada masanya ketika Bunda memanfaatkan reputasi anaknya untuk mengatur muridnya yang bandel.

Bunda memberikan kebebasan bagi Dilan untuk mengambil keputusan, karena bunda percaya bahwa ia telah menanamkan pondasi yang cukup baik terhadap anak-anaknya agar mereka tak mudah terbawa arus atau hanya sekedar ikut-ikutan. Terbukti, meski menjadi panglima tempur, Dilan digambarkan bukan sebagai sosok yang urakan.

Bunda Selalu Memberikan Pilihan, Bukan Paksaan.

Anak usia remaja bukan lagi anak yang sukarela diajari atau bahkan didikte melakukan sesuatu. Namun terkadang sebagai ibu kita punya tuntutan agar anak melakukan sesuatu. Namun masalah tidak akan berhenti jika si ibu melakukannya dengan memerintah atau memaksa anak. Nah! Bunda selalu punya pilihan untuk anak-anaknya yang seolah “memaksa” secara halus si anak melakukan sesuatu. Pilihan tersebutlah yang menggiring anak-anak melakukan hal yang dikehendaki bunda.

Seperti ketika Bunda meminta Disa untuk memanggil Banar, kakaknya, ia menggunakan kalimat:

“Bunda yang manggil atau Disa?”

Dengan kalimat pilihan tersebut, anak digiring untuk memanggil kakaknya, tanpa perlu bunda yang melakukannya. Cerdas bukan?

Bunda memberi tahu kapan ia akan marah.

Ini juga menjadi hal yang menarik dari sosok Bunda. Bunda ketika ia akan marah, maka ia memberi tahu kepada anaknya bahwa bunda akan marah. Dengan demikian ia meminta anaknya untuk bersiap-siap. Si anak akan otomatis duduk diam dan mendengarkan dengan takzim selama bunda menumpahkan amarahnya. Tidak ada yang membantah apalagi menyerang balik.

Bagaimana jika anaknya belum siap?

Maka bunda akan terus menunggu hingga anaknya siap. Bahkan tak jarang sampai lupa. Namun demikian, bunda tetap akan memberikan wejangannya ketika sudah merasa lebih tenang dan terkontrol. Sehingga anak pun tetap menaruh segan dan hormat kepada bundanya. Di sinilah seorang bunda dituntut untuk bisa mengendalikan emosinya. Bukan hal yang mudah buat saya yang bawaannya pengen nyolot dan teriak. Tapi sangat berharga untuk dipelajari sebelum kedua bocah benar-benar beranjak remaja. Jika tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Waktu tidak bergerak mundur.

Menarik bukan mempelajari sifat bunda dan caranya “menaklukkan” anak remaja?

Bertemu Anak Kembar, Hindari Melakukan Hal Ini!

 

Apa yang anda rasakan ketika melihat anak kembar? Terlihat lucu dan kompak yaa… Namun tahukah anda, bahwa beberapa hal yang anda katakan bisa sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang si anak?

Hal tersebut sering kami alami. Sebagai ibu dari dua bocah kembar, saya sering merasa kewalahan menghadapi akibat dari celetukan atau asumsi orang lain yang melihat anak kembar. Memang sepertinya apa yang anda tanyakan atau katakan terlihat wajar. Namun, bagi anak kembar, hal tersebut bisa menjadi hal yang sensitif.

Berikut beberapa hal yang harus anda hindari ketika melihat anak kembar:

Membanding-bandingkan

Anak yang lahir sebagai kembar identik, memang terlihat sangat mirip. Bahkan sangat sulit untuk dibedakan. Apalagi bagi kita yang baru pertama kali bertemu atau sangat jarang bertemu. Namun begitu, satu hal yang harus kita sadari, bahwa semirip apapun, mereka tetap dua pribadi yang berbeda. Jadi sangat tidak bijak membandingkan keduanya. Bagaimanapun juga anak kembar pasti memiliki perbedaan.

Hal yang sama sering kami alami, ketika bertemu orang di jalan, atau saudara yang lama tidak bertemu. Berikut beberapa perkataan yang pernah kami temui:

“oh yang kakaknya lebih tinggi dan ternyata adiknya badannya lebih kurus ya?”

“Oh, adiknya lebih ceriwis daripada kakaknya..”

“Adiknya lebih pemalu dan jutek dibandingkan kakaknya. Kakaknya lebih ramah yaa…”

Jika memang anda ingin bertanya atau mengambil kesimpulan dari kedua bocah kembar, ucapkanlah perbedaan-perbedaan itu tidak dihadapan si anak. Jika memang ada anaknya, ucapkan hal-hal tanpa menjatuhkan yang lainnya. Misal:

“Oh yang ini matanya cantik, kalau yang ini rambutnya bagus…”

“Kakaknya yang pintar bercerita, Kalau adiknya yang senyumnya cantik…”

Dengan memberikan dua pujian yang sama-sama, tanpa menjatuhkan, maka si anak akan fokus pada hal indah dalam dirinya masing-masing tanpa merasa tersaingi.

         Baca Juga : Si Kembar Belajar Puasa

Sebagai orang tua dari anak kembar, sering sekali kami mendapat PR untuk membantu si anak mengembalikan rasa percaya dirinya setelah mendapat komentar perbandingan yang negatif dari orang-orang yang ditemuinya.

“Bunda, apa benar aku tidak secantik kakak? Kenapa badanku kurus, gak seperti kakak?”

“Bunda, kenapa aku tidak pandai bercerita seperti adik? Apa aku tidak sepintar adik?”

Hal-hal seperti itu kadang membuat kami harus banyak-banyak menambah stok sabar dan istighfar.

Memperuncing Persaingan Antar Saudara

Lahir sebagai anak kembar, maka mereka bukan hanya terlahir bersama teman, tapi bisa juga  terlahir bersama saingannya. Sejak di dalam rahim mereka bersaing memperoleh nutrisi dari satu ibu. Mereka tumbuh dengan bersaing memperoleh perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Maka, hal yang seharusnya bisa mereka bagi menjadi hal yang mereka perebutkan. Mereka menjadi bersaing satu sama lain.

Pernah mendengar tentang “Sibling Rivalry?”

Jika orang tua dengan satu anak baru merasakan jungkir baliknya menghadapi anak bertengkar setelah anaknya punya adik baru, punya teman, atau setelah anaknya bersekolah, maka kami sudah menghadapi anak saling cakar dan saling gigit sejak mereka masih bayi. Berat? Iya pada awalnya setiap mereka bertengkar, hati kami hancur berantakan. Setiap melihat mereka saling pukul dan saling gigit, kami merasa menjadi orang tua yang gagal.

Kami butuh waktu dan tenaga untuk mengajarkan mereka berbagi dan bekerja sama. Kami jatuh bangun membangun rasa saling menjaga dan saling peduli. Karena kami percaya, mereka adalah sahabat yang bisa saling membantu dan berbagi. Tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin.

Setelah melewati fase saling baku hantam, lantas tiba-tiba ketika ada orang lain yang tiba-tiba berbicara:

“Kamu jangan sampai kalah ya sama saudaramu! Kamu harus lebih pintar! Kamu harus bisa menang!”

         Baca Juga: Si Kembar Masuk SD

Mendengar ucapan seperti itu, bukan hanya membuat merah telinga kami, namun kami bisa berubah menjadi monster yang paling menakutkan di depan anda. Apa hal tersebut pernah kami rasakan? Iya, Pernah! Karena itu kami mohon, jangan peruncing persaingan. Jikalaupun harus berlomba, biarkan mereka bersaing dengan orang lain, tapi tidak dengan saudaranya sendiri.

Memaksakan Harus Serba Sama

Jika anda menganggap bahwa anak kembar itu berarti semua harus sama, maka anda salah besar.

Anak yang lahir sebagai kembar identik, mungkin memiliki wajah yang sangat mirip. Namun mereka tetap dua orang yang berbeda. Mereka memiliki karakter masing-masing, yang terkadang karakternya berbeda 180 derajat. Mereka memiliki kesukaan dan selera masing-masing, yang terkadang tidak sama. Karena itu memaksa mereka memakai semua harus serba sama hanya agar kelihatan lucu, itu sangat tidak adil bagi mereka.

Ketika masih bayi, memilihkan semuanya serba sama mungkin tidak masalah. Banyak yang memilih semua serba sama demi kepraktisan. Membeli baju bayi 1 lusin sekaligus agar harganya lebih murah, memang lebih efisien. Namun hal tersebut tidak berlaku lagi jika mereka sudah mulai bisa memilih dan memiliki selera.

Kami mulai mengajarkan dua bocah kembar kami untuk memiliki selera masing-masing sejak masih kecil. Kami memberikan kebebasan bagi mereka untuk memilih apa yang mereka sukai, tanpa paksaan. Kami belajar menerima selera mereka meski kadang terasa aneh bagi kami. Selera si kakak yang cenderung lebih boyish dan selera si adik yang cenderung lebih girly membuat mereka memiliki karakternya masing-masing tanpa terpengaruh saudara kembarnya. Maka jika ada yang memaksakan mereka memakai baju yang harus sama persis ketika datang ke pesta, bisa menjadi siksaan tersendiri bagi mereka.

Jika anda bermaksud memberikan oleh-oleh untuk anak kembar, pelajari dulu sifat dan karakternya. Tanyakan pada orang tuanya apa kesukaan masing-masing anak. Jika anda tidak ingin hadiah anda menjadi sia-sia, bijaklah dalam memilih sesuai kepribadian anak.

Meminta Melakukan Hal Yang Sama Seperti Saudaranya

Setiap anak terlahir dengan talenta dan bakat masing-masing. Demikian juga dengan anak kembar. Meski memiliki wajah yang serupa, namun terkadang kemampuan, bakat dan minat mereka sangat berbeda. Karena itu jangan sesekali meminta mereka melakukan hal yang sama seperti saudara kembarnya.

“Kakakmu pintar mewarnai, kok mewarnaimu kayak gini!”

Atau

“Lihat kakakmu gak gampang nangis kayak kamu!”

Jika memang ingin memberi motivasi agar anak melakukan hal yang baik, hindarilah membanding-bandingkan dan memintanya melakukan hal yang sama dengan saudaranya. Dibandingkan dengan orang lain saja kita tidak mau, apalagi dibandingkan dengan saudara sendiri. Hal ini bisa membuat hal yang kurang menyenangkan dengan saudaranya.

Tidak semua anak kembar sama-sama terlahir dengan kemampuan yang setara. Satu anak bisa terlahir dengan kemampuan motorik yang menonjol dan anak yang lain terlahir dengan kemampuan bahasa yang menonjol. Tentu saja itu bukan hal yang salah atau keliru. Bukankah memang kemampuan setiap orang berbeda-beda?

Orang tua dari anak kembar terkadang memiliki beban untuk bisa menyesuaikan gaya belajar sesuai dengan kemampuan dan kepribadian masing-masing anak. Jadi sebaiknya jangan tambah beban orang tuanya dengan membanding-bandingkan dan meminta anak kembar melakukan hal yang sama. Karena anak kembar bukan robot yang bisa diprogram agar bisa melakukan gerakan yang sama persis.

Mari saling bertoleransi dan belajar berempati!

Saya Perempuan, Saya ibu. Siapa Saya?

Beberapa waktu yang lalu kami bersama teman-teman dari #BikinBikinDiTaman membuat mini project bertema parenting. Kegiatan ini diinisiasi oleh mbak Iput atau lebih dikenal dengan sebutan IbuRakaRayi.  Mini project tersebut dibuat karena terinspirasi dari berbagai seminar parenting yang sering kami ikuti. Kebetulan kami sama-sama senang berburu ilmu parenting dari satu seminar ke seminar yang lainnya

Dari sanalah kami membayangkan suasana seminar yang bisa sesantai ketika  kita sedang curhat kepada teman. Pasti sangat menyenangkan ya… Seandainya suasana seminar itu bisa senyaman kita biasa ngobrol di meja makan atau di sofa empuk, tentu akan lain rasanya. Nah, di samping itu, bulan Desember bertepatan dengan peringatan hari ibu. Jadi kenapa tidak kita coba untuk membuat satu project kecil untuk ngobrol santai bertema parenting bersama para ibu.

Dari berbagai pertemuan dan diskusi selama sebulan untuk membicarakan project sambil menanti jam sekolah usai, akhirnya keluar juga konsep project #NgobrolParentingDiTaman. Konsepnya masih akan terus diperbaiki, namun sebagai project permulaan, Alhamdulillah berjalan lancar. Menjelang hari H mendadak ada banyak sekali kegiatan dan kejadian yang membuat kami harus sedikit berakrobat demi mewujudkan mini project tersebut. Beruntung teman-teman dibalik #BikinBikinDiTaman sudah biasa diajak berakrobat. Alhamdulillah tektok via whatsapp lumayan lancar. Maka, berikut ringkasan bahasan di mini project #NgobrolParentingDiTaman kemarin:

Di awal sesi mbak Sherli, seorang psikolog dari Klinik Anakku Surabaya sebagai narasumber membagikan worksheet untuk diisi para peserta. Worksheet tersebut berisi pertanyaan seputar perasaan mereka menjadi ibu, dan seberapa jauh peserta mengenal diri sendiri. Worksheet tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi diri kita dan mengenal siapa kita.

Karena pada umumnya, setelah menjadi seorang ibu, kita lebih dikenal sebagai ibu dari si A, atau lebih sering dipanggil Mamanya si A. Sekarang coba mari kita ingat-ingat, untuk para ibu yang sudah memiliki anak usia sekolah, ada berapa ibu-ibu wali murid yang kita tahu nama aslinya? Berapa banyak ibu wali murid yang dipanggil sesuai nama aslinya, bukan nama anaknya? Misal, saya Wiwid adalah ibu dari Kira dan Kara. Biasanya kalau di sekolah lebih sering dipanggil “Mama Kira atau Mamanya Kara”, daripada dipanggil dengan sebutan “mbak Wiwid, atau bu Wiwid”. Benar atau tepat?

Apakah itu salah? Tidak. Menurut mbak Sherli, itu tidak salah. Hal tersebut bisa menjadi salah kalau membuat kita kehilangan identitas diri. Lebih buruk lagi, jika pada akhirnya semua hal baik atau buruk dari anak-anak  menjadi 100% karena ibunya. Sehingga jika ada komentar negatif tentang anak-anak, kita jadi lebih mudah tersinggung dan jadi lebih gampang baper. Bahayanya ketika ibu mudah baper, maka ia akan sibuk dengan luka hatinya sendiri, dibandingkan fokus mencari solusi untuk permasalahan anaknya.

Masih ingat ungkapan “It takes a village to raise a child”? Begitulah karakter anak dibentuk. Anak-anak memiliki karakter bukan dibentuk 100% oleh ibunya saja, tapi juga dipengaruhi oleh ayah, kakek, nenek,  guru, teman-temannya, saudara-saudaranya, bahkan juga lingkungannya. Itu kenapa baik-buruk seorang anak belum tentu 100% karena ibunya. Akan menjadi tidak adil terhadap diri sendiri jika ibu menghakimi dirinya dan merasa bersalah atau baper berkepanjangan.

Menjadi seorang ibu kita diajak untuk lebih sering “eling”. Mbak Sherli mengajak kita untuk mengingat apa yang membuat kita bahagia menjadi seorang ibu dan hal-hal apa saja yang sering membuat kita bête selama menjadi seorang ibu. Menjadi ibu itu dibutuhkan persiapan, bukan sekedar persiapan materi, namun juga kesiapan emosional, intelektual, bahkan kesiapan fisik.  Dengan persiapan yang matang, seorang perempuan akan menjadi lebih percaya diri menjadi seorang ibu. Dengan begitu ia akan lebih siap menghadapi segala macam penghakiman tanpa perlu menjadi baper.

Jika kita eling atau ingat semua hal yang membuat ibu bete atau kesal, maka ia akan tahu kapan harus mengantisipasi dengan introspeksi diri. Harapannya kita jadi tahu apa yang  harus dilakukan untuk memperbaiki diri dalam mendidik anak-anak.  Misal, saya paling kesal kalau saat sudah ngantuk berat Kira dan Kara memberantakan mainannya. Dengan mengetahui bahwa batas kesabaran dan kesadaran saya ada di titik nadir ketika mengantuk, maka saya memilih tidur dan meminta bantuan Ayahnya atau eyangnya menggantikan saya mendampingi Kira dan Kara bermain. Dengan demikian kondisi kondusif dalam mendidik anak dapat terus terjaga.

Baca Juga: Tingkat Kewarasan dan Jam Tidur

Seorang ibu yang percaya diri dan selalu eling akan lebih mudah fokus mencari solusi dalam permasalahan mendidik anak-anak dibandingkan sibuk mengobati rasa bapernya sendiri. Seorang ibu yang memiliki kesiapan dan kematangan dalam ilmu, ia akan tahu bagaimana menghargai dirinya sendiri atas semua capaian terbaiknya. Karena bagaimanapun, semua perjuangan ibu itu layak untuk dihargai. Sibuk angkat jemuran sambil menggendong anak yang rewel itu tidak mudah. Mendengar omelan manager yang omset perusahaannya turun ditambah rengekan anak di rumah yang sedang sakit itu bukan main rasanya. Itulah kenapa setiap perjuangan layak untuk dihargai. Setuju?

Tentu saja, untuk menjadi seorang ibu yang percaya diri dan selalu eling dibutuhkan dukungan lingkungan yang kondusif. Suami yang selalu siaga, orang tua dan mertua yang selalu hangat, bahkan juga teman-teman yang selalu menyediakan telinganya untuk menampung curhat. Ini serius, dukungan teman curhat itu bisa menjadi salah satu dukungan terbaik yang diberikan oleh support group yang bisa menguatkan dan membantu mengingatkan seorang ibu lho…

Ibu pun juga butuh curhat kok! Bisa kepada suami, orang tua, mertua, saudara atau bahkan temannya. Curhat menjadi sarana mengkomunikasikan isi pikiran dan perasaan seorang ibu. Apabila ibu mampu membangun komunikasi yang baik dalam mengungkapkan perasaan dan pikirannya maka akan terbangun emosi yang positif dalam menghadapi masalahnya. Ibu yang terakomodasi dengan baik untuk curhat dan mendapat masukan yang positif, maka si ibu akan lebih mudah menjadi “Waras” dan “eling”. Membangun komunikasi yang baik ini penting agar ibu mendapatkan dukungan yang dibutuhkan. Karena itu tak perlu malu kalau mau curhat ya buuuu…

Bahkan curhat kepada anak itu juga sah lhoo… Dengan sesekali curhat kepada anak, kita memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengenal siapa ibunya sebenarnya. Bahkan kita sah lho mengungkapkan apa kesukaan kita dan apa yang tidak kita sukai kepada anak-anak. Jika biasanya setiap makan ayam ibu selalu mengutamakan anak-anaknya untuk mendapat daging terbaik, dan ibu rela makan bagian kepala, boleh kok sesekali ibu meminta sedikit bagian dagingnya, agar anak-anaknya tahu bahwa sesungguhnya ibunya tidak suka makan kepala ayam. Dengan memberikan kesempatan anak-anak mengenal ibunya, maka jika suatu saat si ibu membutuhkan sesuatu, anak-anaknya akan tahu harus berbuat apa. Bukankah ibu juga manusia yang suatu saat membutuhkan bantuan?

Baca juga: Mengembangkan Ketrampilan Sosial Anak

Untuk itu, ayo kita ingat-ingat lagi, siapa kita? Apa yang membuat kita bahagia menjadi seorang ibu? Apa yang membuat kita kesal dan bête dalam menjalan peran sebagai ibu? Apa alasan kita mau dan bersedia menjadi ibu? Apakah kita terpaksa atau dipaksa menjadi seorang ibu? Persiapan apa saja yang sudah kita lakukan dalam menjadi seorang ibu?

Semoga sedikit membantu mengingat dan mengenali diri.  Dengan demikian kita akan bisa memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri dengan menimba ilmu demi menghadapi tantangan mendidik anak yang tidak pernah ada habisnya. Dengan belajar terus menerus memperbaiki diri, kita bisa menjadi lebih baik setiap hari. Selamat hari ibu!

 

All pic taken by: Mbak Iput

Cerita Tentang Tantangan Membaca

Minggu lalu Kira dan Kara membawa pulang formulir dari sekolah yang isinya tentang laporan daftar buku untuk tantangan membaca. Rupanya sekolah mengadakan program tantangan membaca untuk seluruh muridnya. Tantangan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan cinta literasi di kalangan anak sekoah dasar. Program yang bagus nih!

Baca Juga: Ketika Si Kembar Masuk SD

Tapi ternyata setelah melewati satu minggu dari tantangan tersebut, saya dibuat mules dengan kenyataan-kenyataan yang saya dapati diantara para wali murid. Sebelum curhat tentang para wali murid yang bikin mules tersebut, saya mau curhat tentang perjalanan belajar membaca Kira dan Kara dulu boleh yaaa..

Kira dan Kara sudah akrab dengan buku sejak masih dalam kandungan. Saya senang membaca buku. Bahkan saat mereka dirawat di inkubator, saya rutin membacakan cerita. Mendengar atau tidak, tahu atau tidak, saya tidak peduli. Saya hanya ingin memberikan hal baik untuk mereka. Daripada mengeluh atau menangis di depan tabung inkubator, saya memilih membacakan cerita-cerita yang penuh semangat dan ceria khas anak-anak.

Pada perjalanan waktu, saya pernah membaca entah di artikel mana bahwa mengajarkan membaca pada anak-anak itu bisa dimulai sejak dini. Belajar membaca itu dimulai dengan membacakan buku sejak bayi. Kebiasaan ini bermanfaat untuk menumbuhkan rasa senang membaca dan cinta buku. Konon katanya anak yang biasa dibacakan buku sejak dini akan lebih cepat membaca dan lebih mudah memahami tulisan ketika ia sekolah nanti.

Namun apa kenyataan yang saya dapat di lapangan?

Diantara teman-teman sekelasnya, Kira dan Kara tergolong lambat dalam membaca kalimat. Meski mereka sudah hafal dan mengenal huruf sejak usia 4 tahun, namun entah mengapa ketika memasuki fase belajar membaca sepertinya sangat lambaaat sekali mereka menguasai kata. Menulis dan membaca huruf b dan d sering sekali terbalik hingga sekarang. Saya sempat merasa sedih.

Saya sempat membombardir mereka dengan memaksa belajar membaca dan membelikan segambreng buku tentang belajar membaca. Bukannya senang, mereka malah uring-uringan. Saya merasa mereka susah sekali fokus dalam mengeja kata. Segala macam metode “cara membaca cepat” saya praktekan, namun hasilnya nihil. Kesalahan bukan pada metodenya. Karena panik saya tidak pernah fokus menjalankan satu metode. Tentu saja hasilnya juga amburadul. Akhirnya saya pasrah mengikuti aliran dan pola yang ada.

Baca Juga: Belajar Bahasa Inggris Sejak Dini, Demi Gengsi atau Kebutuhan?

Tuntutan kurikulum saat ini memang berat. Tapi memaksa mereka melakukan sesuatu tentu hasilnya tak pernah maksimal. Bahkan saya harus menabahkan diri ketika wali kelasnya berkali-kali memberi catatan pada saya tentang pelajaran menulis dan membaca dua bocah kunyil itu. Beruntung sekali sekolah membuat program tantangan membaca ini. Program ini membuka mata saya tentang jalur yang telah kami pilih.

Cerita itu berawal ketika ada seorang orang tua murid yang datang ke rumah saya menanyakan tentang tantangan membaca tersebut. Ia bercerita kalau kesulitan mencari bahan bacaan untuk anaknya karena di rumahnya tak banyak buku yang bisa dibaca. Kondisi ekonomi yang sulit tak bisa membuatnya dengan leluasa membelikan buku untuk si bocah. Lantas saya menawarkan untuk membaca buku di rumah bersama Kira dan Kara sepulang sekolah.

Apakah masalah selesai? Ternyata tidak.

Ketika Kira dan Kara mulai sibuk memilih buku, si bocah juga nampak antusias membuka-buka buku. Namun ternyata tak bertahan lama. 5 menit kemudian, ia nampak terlihat bosan. Baru dua halaman dibuka, ia sudah berpindah ke buku yang lainnya. Hingga Kira dan Kara menyelesaikan satu buku, tak satu bukupun ia selesaikan dengan tuntas. Ketika saya tanya apakah ada buku yang ia suka? Ia menjawab capek dan tak suka membaca. Lantas ketika saya minta ia membaca 2 kalimat, ternyata sebenarnya cara membacanya jauuuuh lebih lancar dibandingkan Kira dan Kara. Bahkan untuk buku yang ceritanya terbilang sangat sederhana untuk Kira dan Kara, tak mampu ia lahap. Padahal jika ia mau dan suka, buku yang hanya berisi beberapa halaman itu akan mampu ia selesaikan hanya dalam waktu 5 menit saja. Toh buku itu hanya berisi satu hingga dua kalimat sederhana dalam tiap halamannya.

Saya terpana ketika si ibu mengambil alih tugasnya dengan membaca sendiri dan menuliskan isi laporan tantangan membaca tersebut. Saya kecewa. Saya sedih. Saya merasa menyediakan diri untuk memanipulasi laporan siswa. Saya tidak suka cara itu. Mungkin saya saklek dan kaku, tapi saya tidak suka anak-anak melihat hal yang tidak jujur berlangsung di depan matanya. Kalau sejak kecil memanipulasi laporan membaca, nanti besar ia bisa memanipulasi laporan keuangan. Kan gawat!

Dari kejadian itu saya melihat bahwa rasa senang membaca dan senang mendengar cerita itu memang perlu ditanamkan sejak dini. Keterbatasan ekonomi seharusnya tak menjadi penghalang. Surabaya sudah memiliki perpustakaan daerah tempat kita bisa meminjam buku. Semoga kita tak pernah merasa lelah untuk membacakan anak-anak buku. Agar mereka tumbuh menjadi generasi yang cerdas literasi.

Si Kembar Masuk SD

Harusnya tulisan ini sudah dibuat 4 bulan yang lalu. Berhubung jadi orang yang sok sibuk, jadilah terbengkelai. Kebetulan hari ini yang harusnya saya menyelesaikan deadline kerjaan, ndilalah semua dokumen kerjaan belum dikirim ke email. Orang yang bertugas kirim-kirim dokumen sedang cuti. Merasa memperoleh angin segar untuk “libur” sehari, maka disempatkan menulis curhatan ala bunda kunyil.

Dua bocah kunyil sekarang sudah SD! Hooorrreee…. Kira dan Kara masuk SD tepat di usia 7 tahun. Harusnya secara emosional dan motorik sudah cukup matang untuk menempuh petualangan menjadi siswa Sekolah Dasar. Maka daftarlah mereka ke SD incaran. Pilihan sekolahnya sesuai dengan diskusi dan kesepakatan bersama, antara ayah, bunda, Kira dan Kara. Para bocah tentu saja dilibatkan dalam diskusi. Ini karena mereka yang akan menjalani. Jadi semua harus sesuai kesepakatan bersama.

Pertimbangan Masuk SD Negeri

Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk mendaftarkan Kira dan Kara ke SD Negeri. Pertimbangan-pertimbangan tersebut diantaranya sangat sederhana dan klise ala orang tua malas berpikir rumit. Apa aja sih? Ini sebagian pertimbangannya:

Pertama, Sekolah Dasar Negeri adalah sekolah yang terdekat dari rumah kami. Kami ingin Kira dan Kara benar-benar belajar mandiri. Dimulai dengan berangkat dan pulang sekolah sendiri. Meski tersembunyi alibi bunda bebas antar jemput selama 6 tahun, namun percayalah, niat kami tulus. Kira dan Kara yang jarang main jauh dari rumah bisa mulai belajar dengan menghafal rute dari rumah ke sekolah. Meski jaraknya hanya selemparan batu, tapi bunda kunyil tetap saja melalui fase dag dig dug ketika melepas mereka berangkat sekolah sendiri.

Kedua, sekolah negeri memiliki pergaulan yang sangat beragam. Ibarat miniatur sosial, sekolah negeri lah tempat miniatur sosial sesungguhnya. Di sekolah negeri kamu bisa menemui anak yang tajir melintir sampai anak yang bergantian sepatu dengan kakaknya yang masuk sekolah siang. Serius, beneran ada dan nyata. Di sekolah negeri kamu bisa menemui anak yang usilnya naudzubillah hingga anak yang disuruh apa aja nurut. Di sekolah Negeri kamu bisa menemui anak yang super duper religius hingga anak yang omongannya udah mirip cerita kebun binatang. Jadi kamu mau cari tipe anak yang kayak gimana, Sekolah negeri lah tempatnya.

Nah, memasukkan duo bocah kunyil ke sekolah semacam itu, dibutuhkan doa dan kebulatan tekat maha dahsyat. Ya gimana yaa… Dengan dua bocah yang terbiasa ada di lingkungan yang serba mengayomi, serba mengasihi, dan serba aman nyaman sentosa, tiba-tiba harus masuk ke rimba raya pergaulan yang super dahsyat. Pasti ada fase jetlag. Pasti ada fase shock. Pasti ada fase mogok sekolah. Pasti ada fase nangis tiap hari. Pasti ada fase nyinyir antar orang tua. Pasti ada fase jengkel sama guru. Pasti ada fase kesal sama semuanya. Pasti itu…

Untuk itulah dibutuhkan persiapan hati yang sempurna. Bukan hanya hatinya dua bocah kembar ya… Yang paling utama dan paling penting justru hati orang tuanya.

Saya menyiapkan diri untuk tidak nyinyir berlebihan. Meski fitrah susah dilawan, namun sekarang sudah saatnya memakai rem untuk mulut sendiri biar gak gampang kelepasan nyolotnya. Bawaan bawel sudah dari sananya. Tinggal disalurkan ke kanal yang benar biar gak lepas dan memakan korban. Maka, saya hindari sebisa mungkin untuk komen berlebihan tentang banyak hal. Sebisa mungkin memberikan kontribusi saran, suara, komentar yang benar-benar bermanfaat dan dibutuhkan. Untuk itulah dibutuhkan nyinyir management yang tidak mudah buat bunda kunyil.

Lanjuuut… Pertimbangan ketiga adalah soal biaya. Masuk SD Negeri bebas biaya, ciiiin… Untuk tahun pertama kita hanya butuh beli seragam dan perlengkapan sekolah. Untuk siswa yang tidak mampu ada bantuan. Bahkan kalau mau menyumbangkan seragam layak pakai juga boleh bangeeet. Bebas biaya SPP pula. Daaaan untuk pemegang kartu KIS mendapat subsidi buku paket tematik dari sekolah. Happy kaaan… Itu bagian yang bikin bunda kunyil sedikit terhibur. Dengan demikian, jatah SPP sekolah bisa dialihkan ke dana les yang bermanfaat. Itulah akhirnya bunda kunyil bisa mendaftarkan duo kembar masuk les berenang. Untuk pertimbangan ini, saya sudah siap jika ada yang bergumam “pelit amat…”. Gakpapa lah yaa… Kita gak ada yang tahu isi dompet orang lain, kecuali disodori formulir LHKPN. Ya tapi siapalah saya, hanya pejabat teras rumah mertua, mana punya LHKPN untuk diumumkan. Jadi cukup saya, suami dan Tuhan yang tahu berapa isi dompet kami. *ngikik manis*

Setelah Si Kembar Masuk SD Negeri

Apa yang terjadi setelah duo bocah kembar masuk SD Negeri? Seperti perkiraan sebelumnya. Ada fase bocah pulang dengan wajah sumringah cerah ceria mendapat teman baru. Ada pula saatnya selama seminggu penuh pulang dengan menangis karena dijahilin temannya. Bahkan pernah pulang dengan wajah penuh marah, rupanya habis baku hantam saling pukul di sekolah.

Kok bisa?

Iya bisa, karena disuruh bunda. hahaha… Itu hari di mana saya sudah jengah tiap hari mendengar aduan tentang anak yang sama. Mulai dari digodain, lalu disenggol pas nulis, lalu berisik pas pelajaran, lalu dicolek-colek pas lagi ulangan, hingga dipukul ketika habis imunisasi. Lalu saya tanya, “kamu takut gak sama dia?”. Si bocah menjawab enggak. Dia menangis karena tidak tahan digangguin tapi gak bisa bales. Rupanya dia ingat sama wejangan bundanya, gak boleh membalas memukul jika dipukul. Itu sama saja jahatnya. Nah, ketika PMS dan rasa jengah sudah diubun-ubun, maka saya bilang “ya sudah kalau kamu gak takut, besok kalau kamu dipukul lagi, pukul balik saja…”

Trust me! Mungkin saat itu saya jadi bunda paling buruk sedunia. Biarlah. At least saya tahu seperti apa endingnya. Kalau ternyata keputusan itu salah, kami bisa belajar dari kejadian itu. Kalau memang mau dicaci atau diketawain, no need to worry, bunda kunyil sudah siap.

As we know, kejadian itu beneran keesokan harinya dua bocah saling beradu pukul hingga bocah saya memilih pergi karena ia tahu ini tidak akan selesai. Eh iya, si bocah yang jahil itu laki-laki yaa… Jadi bisa dibayangkan ketika bocah saya yang perempuan berpostur super mungil, dengan berat badan yang tak lebih dari anak umur 5 tahun, beradu pukul dengan bocah lelaki yang sering menggoda anak perempuan yang katanya “cengeng”. Bunda? Puas dooong… Gurunya? Gak kenapa-napa. Karena tahu yang usil memang yang laki, jadilah ketika mendapat aduan dari teman-temannya yang lain, si anak lelaki dipindah duduk paling pojok. Sendirian. That’s it! Case closed!

Kalau ada saran, komentar, atau nasihat, ledekan, tertawa puas karena merasa senasib, tuliskan saja di kolom komentar. Bebasss.. Insyaallah semua di approve kecuali spammer!

Kejadian itu satu-satunya? TIDAK. Itu hanya salah satu kejadian “ajaib” yang kami alami selama 3 bulan bersekolah di sekolah negeri. Yang lainnya? Tunggu saja, siapa tahu saya cukup selo untuk berbagi cerita di sini.

Sekian curhat hari ini, selamat melanjutkan hari!

 

 

 

Memahami Generasi Milenial

Suatu hari Kira dan Kara pulang sekolah mengadu. Temannya melarang mereka makan permen Y, karena katanya ada kandungan minyak Babinya. Tak terima, Kira dan Kara memaksa saya untuk melihatnya di Google. Karena permen Y adalah salah satu jajanan favoritenya. Sebenarnya bisa saja saya mengiyakan apa yang dibilang temannya. Toh selama ini saya sudah cukup jengah melihat mereka mulai gemar makan permen. Namun ternyata, mereka jauh lebih kritis dari yang saya kira. Dengan sigap diambilnya tablet, dan dibukanya aplikasi mesin pencari. Begitulah generasi masa kini.

Generasi jaman Kira dan Kara ini sering disebut Generasi Milenial. Generasi milenial atau generasi yang tumbuh di millennium baru, adalah generasi yang lahir di tahun 2000 ke atas. Ada juga yang memberikan nama mereka adalah Gen-Z. Generasi ini tumbuh di tengah-tengah perkembangan pesat teknologi dan derasnya arus informasi.

Tantangan mendidik anak generasi milenial tentu berbeda dengan mendidik anak-anak generasi sebelumnya. Teknologi di tangan anak zaman sekarang adalah mainan sehari-hari. Istilah-istilah keren yang mungkin asing di telinga kita, sudah akrab di telinga mereka. Mencari informasi hanya cukup menjentikkan jari diantara jajaran keyboard, maka seluruh informasi yang dibutuhkan tersedia di depan mata.

Kira dan Kara adalah anak-anak generasi milenial. Youtube dan Google adalah mainan mereka sehari-hari. Ketika ada pertanyaan yang mentok dan tidak bisa dijawab bundanya, mereka sudah bisa berinisiatif mencarinya di google. Ketika mendapat tugas sekolah tentang pergerakan matahari, mereka bisa mencari ilustrasi ilmiahnya di youtube sesuai kata kunci yang mereka pilih sendiri. Tablet, laptop sudah akrab di tangan mereka. Meski semua masih berstatus milik bunda atau ayah, namun lincah mereka mainkan. Tentu saja semua masih dengan pendampingan. Karena tak semua informasi yang tersedia, ramah untuk pemahaman anak-anak. Begitulah sedikit gambaran tumbuh kembang anak generasi milenial.

GENERASI MILENIAL DAN NORMA

Akan menjadi tidak mudah, ketika orang tua dan anak memiliki pendapat yang berbeda tentang norma. Pemahaman norma bagi anak generasi milenial berbeda dengan pemahaman norma bagi generasi tahun 80’an. Anak yang tumbuh di era gadget mudah digenggam, adalah anak-anak yang terbiasa berinteraksi dengan ponsel pintar di tangan. Anak generasi 80’an adalah anak-anak yang bermain bersama teman menggunakan daun, batu dan kayu. Pola interaksi sosial yang berbeda inilah yang membentuk pemahaman yang berbeda tentang norma dan adab bergaul.

Mengajarkan anak generasi milenial tentang norma tidak bisa dengan ceramah dan nasihat setiap hari. Apa yang kita bicarakan akan menjadi angin lalu dan sebatas mampir di telinga. Menyamakan persepsi antara orang tua dan anak bukan lagi menjadi hal yang mudah. Tantangan orang tua bukan sekedar mendidik mereka untuk mendapat nilai tertinggi di sekolah, melainkan justru bisa berkomunikasi baik dan lancar dengan anaknya sendiri. Percayalah, berkomunikasi bukan lagi menjadi hal yang mudah.

Ironis bukan?

Di era yang katanya teknologi informasi begitu pesat berkembang, justru komunikasi orang tua dengan anak menjadi amat sulit. Di zaman yang ketika berbicara dengan orang di tempat yang jauh bisa langsung bertatap muka, justru pola bicara orang tua dan anak sangat susah untuk saling beradu mata. Teknologi yang katanya bisa membuat yang jauh terasa dekat, ternyata justru menjauhkan yang dekat. Apakah orang tua akan terus menutup mata akan hal ini?

FILM MY GENERATION

Upi melihat cerita dan fenomena generasi milenial ini menjadi kisah yang layak untuk diangkat ke layar lebar. Film yang menceritakan tentang kisah persahabatan remaja SMU ini mengambil cerita dari sudut pandang remaja yang mempertanyakan sikap orang tuanya. Dalam film ini Upi  sebagai Sutradara mengajak orang tua untuk memperlakukan anak-anaknya sebagai teman diskusi, bukan sebagai obyek perintah dan penanaman dogma.

4 pemain baru mengisi tokoh utama dalam film ini. Zeke yang diperankan oleh Bryan Angelo,  Konji diperankan oleh Arya Vasco, Lutesha sebagai Suki dan Alexandra Kosasie sebagai Orly. 4 Remaja yang yang merasa libur sekolahnya berantakan, dan kemudian menemukan petualangan yang tak terduga dalam menghabiskan masa liburannya. Selisih pendapat dengan orang tua, naik dan turunnya emosi persahabatan hingga masalah-masalah yang dihadapi empat remaja ini menjadi pelajaran berharga bagi kehidupan mereka.

Seperti film-film Upi pada umumnya, film My Generation ini juga memberikan gambaran yang terlalu berani untuk menelanjangi realitas kehidupan remaja masa kini. Karena itu pro dan kontra sudah mulai muncul sejak sebelum film ini tayang di bioskop. Memang tidak semua kehidupan remaja persis sama seperti yang tergambar dalam film ini. Namun kita juga tidak bisa menutup mata adanya realita kehidupan remaja yang sekarang sedang menjadi trend. Simak saja siapa selebgram yang sempat menjadi idola di kalangan anak muda dengan jumlah follower sosmed jutaan.

Dalam film ini juga, Upi menyodorkan kaca kepada kita untuk melihat diri sendiri, sudahkah kita memanusiakan anak-anak kita? Orang tua bukan Tuhan yang bisa menghakimi dan menempelkan stempel di wajah anak-anaknya. Orang tua juga manusia yang bisa salah dan khilaf. Sebagai orang tua, sudahkah kita bercermin contoh seperti apa yang sudah kita tunjukkan dan berikan kepada anak-anak kita?

My Generation memberikan gambaran sisi lain remaja generasi milenial yang sebenarnya open minded dan terbuka. Mereka adalah pribadi yang tidak ingin terikat dogma. Jika orang tua mendapati anak-anaknya malas pergi sekolah, tidak menyelesaikan tugas-tugas sekolah, jangan lantas memberikan mereka label pemalas. Mungkin sudah saatnya orang tua memberikan penyegaran dalam metode belajar anak-anak. Ajak mereka berkomunikasi tentang apa yang mereka inginkan dan ajarkan berpikir untuk menemukan solusi bersama-sama. Karena sesungguhnya anak-anak generasi milenial adalah anak-anak yang kritis dan kreatif.

Film yang akan tayang pada tanggal 9 November 2017 serentak di seluruh bioskop di Indonesia ini menjadi reminder untuk orang tua agar mereka mau membuka mata melihat realita kehidupan remaja. Sudah saatnya orang tua juga bepikir dan mengevaluasi diri sendiri tentang pola komunikasi yang dibangun dengan anak-anaknya.

Film ini tidak mengajak atau memberikan teladan pada kebebasan bergaul. Film ini mengajak kita berpikir dan bersikap kritis terhadap moral yang sebenarnya kita tanamkan pada anak-anak kita. Gambaran keterbukaan dan kebebasan bergaul yang ditampilkan dalam film ini hanyalah salah satu potret yang ditunjukkan tentang realita kehidupan remaja saat ini. Namun sesungguhnya yang ingin disoroti dalam film ini bukan pada kebebasan bergaul, namun pada pola komunikasi dan pola asuh penanaman moral yang dilakukan orang tua kepada anak-anaknya.

Tak hanya diisi oleh talenta-talenta baru, film My Generation ini juga akan dilengkapi oleh pemain lama seperti, Surya Saputra, Tyo Pakusadewo, Ira Wibowo, Indah Kalalo, Karina Suwandi dan masih banyak lagi. Untuk mengerjakan film bergenre remaja ini, Upi juga telah melakukan riset social media hearing selama 2 tahun. Riset yang intensif ini juga digunakan Upi untuk melihat gaya percakapan dan pola dialog dalam komunikasi remaja. Sehingga adegan dalam film dapat mengalir halus sesuai trend anak remaja masa kini.

Bagaimana? Sudah siap untuk menonton bersama para anak remaja kita?

Sudah saatnya kita membuka diri untuk mendapatkan nada yang sama dengan anak-anak kita. Agar harmoni dalam keluarga bisa terus terjaga. Semoga kita tetap amanah dalam menjaga titipan-Nya.

……………

disclaimer: Semua foto yang digunakan di artikel ini diambil dari media sosial My Generation Film (IFI Sinema)

 

 

 

Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak

Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak

“Bunda tadi Si N bilang sama aku. Katanya aku tidak boleh berteman sama si J karena agama kita beda. Apa benar aku tidak boleh berteman sama J, bund?”

Itu adalah salah satu curhat bocah kembarku. Kontan saja aku tersentak mendengar curhatnya. Dia dan teman-temannya baru berusia kurang lebih 7 tahun. Tapi mendengar alasan temannya hatiku bergejolak juga. Banyak pikiran berkecamuk. Darimana si kecil mendengar alasan seperti itu? Apa yang diajarkan orang tuanya? Dan pola pikir seperti apa yang mereka harapkan dari generasi ini?

Kita semua tahu. Anak-anak ibarat spon bersih yang siap menyerap apa saja yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Jika kita ingin spon menyerap warna biru, maka kita harus menyiapkan air berwarna biru. Jika kita ingin spon menyerap warna pelangi, maka kita juga harus menyiapkan air berwarna pelangi. Jika kita ingin anak-anak menjadi generasi yang maju, maka kita juga harus siap menjadi orang tua yang maju.

Anna Surti Ariani S.Psi M.Psi Psikolog (Mbak Nina)

Menurut psikolog, Anna Surti Ariani S.Psi M.Psi, atau akrab disapa mbak Nina, di acara Parenting seminar SGM Eksplor, anak generasi maju adalah anak yang supel, kreatif dan mandiri. Untuk mendidik anak menjadi supel, kreatif dan mandiri, orang tua wajib mengembangkan keterampilan sosialnya. Agar si kecil mampu bersosialisasi, orang tua harus memastikan anak memiliki tubuh yang sehat dengan mencukupi nutrisinya. Didik si kecil untuk mengembangkan daya imajinasinya agar mampu menjadi anak yang kreatif. Orang tua juga wajib melatih si kecil mengolah emosinya untuk membentuk mereka menjadi mandiri. Dengan demikian si kecil akan mampu bersosialisasi dengan baik.

Kita tidak mungkin akan terus menerus membatasi pergaulannya. Semakin lama, si kecil pasti akan tumbuh besar dan memiliki lingkungan sosialisasi yang makin beragam. Tidak mungkin juga akan kita kurung di dalam rumah kan? Nah, untuk menghadapi lingkungan sosialisasi yang makin luas inilah dibutuhkan keterampilan bersosialisasi bagi si kecil. Latih mereka sejak dini, ketika lingkungan masih sangat terbatas.

Berikut beberapa tips hal yang diperlukan si kecil agar mereka mampu bersosialisasi dengan baik :

1. Bangun kedekatan dengan orang tua

Dengan membangun kedekatan dengan orang tua, anak-anak akan memiliki orang tempat bertanya dan bercerita tentang apa saja yang ia alami di luar sana. Dengan kedekatan pada orang tua, si kecil juga akan lebih percaya diri berteman dengan siapa saja. Bangun suasana agar si kecil nyaman bercerita tentang apa saja tanpa rasa takut atau was-was.

2. Rasa percaya kepada orang tua

Ini penting untuk memberikan rasa aman bagi si kecil. Dengan rasa percaya pada orang tuanya sendiri, si kecil tidak akan pergi kemana-mana ketika ia memiliki masalah. Ia percaya bahwa orang tuanya adalah tempat yang aman untuk berlindung dan bercerita. Banyak anak-anak yang enggan bercerita kepada orang tuanya sendiri, karena orang tua tidak percaya pada si anak. Sehingga anak-anak lebih nyaman dan memilih bercerita pada orang lain. Tidak masalah jika tempatnya bercerita adalah orang yang tepat dan baik. Bagaimana jika ia bercerita pada orang yang salah? Tempat terbaik untuk bercerita dan bertanya adalah orang tua.

3. Mandiri

Latih anak menjadi mandiri dengan melakukan kebutuhan dasarnya sendiri. Melatih kemandirian tidak bisa instan, harus dimulai sejak dini. Lakukan dari hal-hal kecil dengan pipis dan cebok sendiri. Berlanjut mandi sendiri. Hingga  melatih anak-anak untuk membereskan mainan dan kamarnya sendiri. Melatih kemandirian ini penting untuk menyiapkan anak-anak terjun ke lingkungan sosialisasi yang lebih beragam. Anak yang memiliki jiwa mandiri akan lebih siap menyelesaikan permasalahan yang ditemuinya dalam bersosialisasi.

4. Mengenal Emosi

Ajarkan anak untuk mengenali emosinya sejak dini. Jika anak-anak mengenal emosinya, ia akan berlatih untuk mengontrolnya. Kemampuan mengontrol emosi ini penting dalam bersosialisasi. Kita sendiri tidak nyaman berteman dengan orang yang pemarah atau penggerutu, bukan? Inilah pentingnya mengajarkan mengontrol emosi.

5. Menjaga Diri Sendiri

Kita tidak tahu siapa saja yang akan ditemui anak-anak di luar sana. Kita juga tahu sifat manusia sangat beragam. Kita juga tidak bisa memprediksi niat yang dimiliki semua orang. Karena itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, latih si kecil agar bisa menjaga diri sendiri. Ajarkan pada anak-anak mengenal anggota tubuhnya. Beri tahu mereka mana saja yang boleh disentuh orang lain, dan bagian tubuh mana saja yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. Ini penting untuk membuat si kecil mengerti bagian mana saja yang harus mereka lindungi. Karena berita yang kita dengar di media sosial dan televise bukanlah dongeng pengantar tidur. Hal itu nyata dan ada dimana-mana.

6. Kemampuan Komunikasi

Dengan kemampuan komunikasi yang baik, anak-anak akan dapat membangun hubungan yang baik dengan teman-temannya. Ajarkan pada mereka bagaimana caranya menghadapi teman yang sedang marah, teman yang sedang sedih, maupun teman yang sedang kesal. Dengan komunikasi yang baik juga menghindarkan anak-anak dari konflik yang berkepanjangan.

7. Fokus/konsentrasi dan Imajinasi

Kemampuan fokus atau konsentrasi dibutuhkan anak-anak dalam bergaul dengan teman-temannya. Kemampuan sosialisasi juga membutuhkan daya kreatif dalam berimajinasi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Semakin bagus daya konsentrasi anak-anak, semakin kreatif si anak, akan semakin luwes ia bergaul.

8. Empati

Ini yang sering membuat miris. Generasi yang semakin dekat dengan dunia digital terasa semakin menurun rasa empatinya. Mereka yang terbiasa fokus dengan dirinya sendiri, membuat mereka menjadi anak yang krisis empati. Didik si kecil agar mampu memahami yang dirasakan orang lain. Dengan kemampuan memahami perasaan orang lain, anak-anak akan mampu berempati.

Naaaahhh… itulah tips-tips yang dibagi saat acara Parenting Seminar SGM EKSPLOR kemarin. Acara yang menghadirkan Anna Surti Ariani S.Psi M.Psi Psikolog sebagai salah satu narasumber ini berlangsung meriah dengan banyak orang tua yang antusias bertanya tentang tumbuh kembang si kecil. Parenting seminar yang diberi tema “Peran Orang Tua Dalam Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak Generasi Maju” ini juga memberikan edukasi yang lengkap untuk mendidik anak-anak menjadi generasi maju yang cerdas bersosialisasi. Orang tua pun nampak antusias mengacungkan tangan dan bertanya dalam sesi tanya jawab.

Dari penuturan Astrid Prasetyo, Marketing Manager SGM Eksplor, seminar parenting ini diadakan sebagai wujud dukungan SGM Eksplor bagi orang tua untuk membentuk masa depan anak lebih baik. Dengan adanya seminar parenting yang diadakan di berbagai kota tersebut, diharapkan anak-anak bukan hanya sekedar mendapatkan nutrisi terbaik, namun juga memperolah pola asuh yang tepat. Dari seminar parenting tersebut diharapkan orang tua dapat mendampingi putra-putrinya  tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang maju, yaitu generasi yang memiliki kemampuan sosialisasi yang baik, kreatif dan mandiri.

Acara yang dipandu MC cantik Cici Panda berlangsung dari jam 9 pagi hingga pukul 12 siang. Orang tua pulang dengan perasaan kenyang. Bukan hanya kenyang di perut oleh hidangan yang berlimpah, namun juga kenyang di otak dengan ilmu baru yang bermanfaat.

Festival Ngidam SGM Bunda: Karena Ibu Hamil Wajib Bahagia

FESTIVAL NGIDAM SGM BUNDA: Karena Ibu Hamil Wajib Bahagia

Hal paling menyenangkan ketika hamil adalah masa-masa semua perhatian keluarga tertuju pada kita. Terlebih ketika kami memperoleh kabar kalau janin yang saya kandung kembar. Maka semua perhatian seperti tertuju pada cucu kembar yang akan lahir. Apapun yang menjadi keluhan saya, keinginan saya memperoleh perhatian penuh dari suami dan mertua. Jika biasanya saya terlambat pulang dari kantor tidak ada yang bingung karena sudah terbiasa lembur di kantor, sejak hamil saya pulang telat 5 menit saja, telepon saya tak berhenti bordering. Makanan apapun yang saya inginkan, suami akan berusaha untuk membelikannya. Pernah saya ingin makan Pizza dikala uang di dompet sangat tiris. Suami pun rela tak makan demi membelikan Pizza untuk istrinya yang sedang hamil.

Istimewa ya?

             Baca Juga : Biaya-Biaya Yang Dibutuhkan Selama Masa Kehamilan Hingga Setelah Melahirkan

Masa-masa kehamilan layak untuk dirayakan. Masa-masa kehamilan layak untuk dinikmati dengan penuh rasa bahagia. Konon katanya, apapun yang dirasakan seorang ibu hamil, akan dirasakan pula oleh janin yang sedang dikandungnya. Karena itu sangat disayangkan jika sepanjang kehamilan ibu hamil terus merasa sedih dan tertekan. Ibu hamil wajib bahagia! Ibu hamil wajib merasakan dimanja. Demi lahirnya generasi-generasi yang bahagia juga. Iya kan? Iya dooong!

Nah! Karena alasan itulah SGM Bunda merayakan kehamilan setiap perempuan di Indonesia dengan mengadakan event FESTIVAL NGIDAM. Festival ini adalah festival pertama yang pernah diselenggarakan di Indonesia. Bertempat di Royal Plaza pada 5 dan 6 Agustus 2017 lalu, SGM BUNDA benar-benar memanjakan ibu hamil dan ibu menyusui dengan berbagai macam kegiatan. Hari itu atrium utama Royal Plaza dipenuhi ibu hamil dan menyusui yang berkeliling dari satu booth ke booth yang lain.

FESTIVAL NGIDAM dibuka dengan rangkaian edukasi dan testimoni yang menghadirkan dr. Muhammad Ardian C.L, SpOG, M.kes yang menjelaskan tentang “ngidam” yang biasanya dirasakan pada ibu hamil. Perubahan hormon yang terjadi selama masa kehamilan membuat ibu hamil menjadi sensitive terhadap rasa dan bau tertentu. Rasa inilah yang sering diterjemahkan sebagai “ngidam”. Yang perlu diwaspadai adalah rasa mual yang sering muncul selama masa perubahan hormone. Akibat rasa mual ini biasanya asupan nutrisi pada ibu hamil menjadi bekurang. Karena itu penting untuk menjaga asupan makanan sehat pada ibu hamil untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pada janin yang dikandungnya.

Lebih lanjut dr. Ardian menuturkan bahwa dukungan dari lingkungan sekitar dan anggota keluarga sangat dibutuhkan oleh ibu hamil. Support dapat diberikan dengan mengontrol dan memastikan kecukupan gizi dan nutrisi yang dikonsumsi oleh ibu hamil. Karena itu jangan sakit hati yang ketika orang tua atau mertua kita jadi lebih bawel ketika hamil. Semua itu mereka lakukan agar cucu mereka dapat lahir dengan sehat, dan menantunya pun bisa terus mendampingi pertumbuhannya. Begituuuu…

Christina Natalia, Marketing Manager SGM Bunda menuturkan bahwa FESTIVAL NGIDAM SGM Bunda hadir untuk memberikan aktivitas yang seru pada ibu hamil sekaligus memberikan edukasi nutrisi yang dibutuhkan. Pemahaman terkait nutrisi ini penting untuk pemenuhan gizi seimbang pada ibu hamil dan janin yang dikandungnya, terutama selama masa 1000 hari pertama kehidupan. Susu sebagai salah satu komponen yang mengandung gizi tinggi menjadi salah satu sumber makanan yang dapat dikonsumsi ibu hamil. Namun seringnya ibu hamil yang sedang mengalami masa mual biasanya jauh lebih sensitive. Karena itu penting untuk memberikan susu kehamilan yang memiliki rasa lebih segar namun tidak eneg dan mudah diterima ibu hamil. Dengan begitu pemenuhan zat gizi mikro dapat terus diberikan pada ibu hamil.

Di acara FESTIVAL NGIDAM SGM BUNDA ini juga menghadirkan bintang tamu ayah ganteng DUDE HERLINO dan band favorit para bunda YOVIE & THE NUNO. Buat yang sedang ngidam ketemu artis, bisa puas banget memandang wajah mereka dari dekat. Alyssa Subandono yang dijadwalkan hadir, ternyata harus menunda kehadirannya karena baru saja melahirkan buah hatinya. Selamat ya untuk bunda Icha dan Ayah Dude!

Ada apa aja sih di booth-booth FESTIVAL NGIDAM SGM BUNDA?

Area booth dibagi menjadi beberapa bagian, diantaranya Booth Konsultasi, Booth NGIDAM JAJAN, Booth NGIDAM DIMANJA, dan Photo Booth.

Booth Ngidam Jajan dipenuhi oleh berbagai macam jajanan dari pusat-pusat kuliner ternama di Surabaya yang mungkin jauh dari rumah untuk dijangkau. Sebut saja salah satunya es potong NJONJA yang rasanya sangat khas di lidah. Banyak lagi booth-booth jajanan yang bisa ditemui dengan mudah di FESTIVAL NGIDAM kali ini.

Booth Dimanja benar-benar membuat wanita hamil merasakan indahnya dimanja. Treatment yang diberikan membuat saya yang saat itu sedang tidak hamil saja jadi merasa rileks dan segar kembali. Ada booth pijat relaksasi, manicure pedicure, hingga booth make up. Lengkap!

 

Sudah kenyang, sudah cantik, mari kita abadikan di photo booth! Puas kan?

Belum? Keseruan masih berlanjut di hari kedua dengan banyak kegiatan. Mulai dari membuat resep sehat yang bisa dikonsumsi ibu hamil, fashion show ibu hamil, hingga senam hamil untuk menjaga ibu hamil tetap fit dan energik selama menjalani aktivitasnya.

Buat yang ada di kota lain, sabar dan berdoa ya. Semoga FESTIVAL NGIDAM SGM BUNDA bisa juga mampir ke kota kalian. Bocoran informasinya sih bulan depan bakal hadir di BEKASI. Horeee… Tunggu tanggal mainnya ya bunda! Selamat merayakan kebahagiaan!