
Rekomendasi Laptop Terbaik Untuk Pekerja dan Pelajar
Kalau dulu aku berpikir laptop itu ya sekadar alat untuk mengetik dan browsing, punya anak SMA membuat definisi itu berubah total. Di rumah, laptop sekarang bisa berpindah tangan berkali-kali dalam sehari. Pagi dipakai untuk mencari bahan pelajaran, siang untuk mengerjakan makalah, sore berganti menjadi alat editing foto atau video, dan malam… entah bagaimana tiba-tiba ada tugas baru yang deadline-nya besok pagi.
Aku punya anak kembar yang sama-sama sudah SMA, tetapi kebutuhan mereka lumayan berbeda. Yang satu lebih banyak berkutat dengan tugas sekolah dan riset pelajaran, sementara yang satu bersekolah di SMK Perfilman, jadi kebutuhan laptopnya sudah masuk ke area yang lebih serius: editing gambar, mengolah video, sampai mengerjakan proyek-proyek kreatif.
Dari situ aku sadar, memilih laptop untuk anak SMA sekarang tidak bisa lagi sekadar, “Yang penting bisa buat Word dan browsing.” Kebutuhannya sudah jauh lebih beragam. Karena itu, ketika melihat jajaran laptop ASUS di acara gathering di JW Marriot mataku cukup terbuka. Hadirnya berbagai jajaran laptop seperti Vivobook A14, Vivobook S14 OLED, ProArt, Zenbook S14/S16, sampai Zenbook DUO, membuat aku bisa melihatnya dari perspektif yang sangat sederhana: mana yang paling masuk akal untuk kebutuhanku dan anak-anak di rumah?
Vivobook A14: Teman Belajar yang Nggak Ribet

Untuk anak yang aktivitasnya lebih banyak mengerjakan tugas sekolah, riset, membuat presentasi, dan browsing materi, menurutku Vivobook A14 adalah tipe laptop yang paling gampang dibayangkan menjadi teman sehari-hari. Aku suka konsep laptop yang tidak membuat anak harus berpikir terlalu banyak. Tinggal buka, kerjakan tugas, cari referensi, selesai.
Apalagi anak SMA sekarang kalau sedang mengerjakan makalah bisa membuka banyak hal sekaligus. Ada browser dengan beberapa tab untuk mencari sumber, dokumen untuk menulis, mungkin Canva untuk membuat presentasi, dan WhatsApp Web yang entah kenapa selalu ikut terbuka.
Vivobook A14 sendiri hadir sebagai laptop yang menyasar produktivitas sehari-hari dan tersedia dalam beberapa pilihan prosesor, termasuk Intel, AMD, maupun Snapdragon, serta pilihan warna seperti Platinum Gold, Quiet Blue, dan Cool Silver pada lini A/M1407. Nah bagian warna ini ternyata bukan hal kecil kalau bicara soal anak SMA, karena buat mereka, laptop bukan cuma soal “cepat atau tidak”. Penampilan juga bagian dari personal style.
Pick Your Vibes: Karena Anak SMA Juga Punya Selera
Nah, ini salah satu hal yang menurutku cukup menarik dari ASUS sekarang: Pick Your Vibes.
Konsepnya sederhana. ASUS mencoba membuat perangkat teknologi terasa lebih personal melalui pilihan warna dan aksesori yang bisa disesuaikan dengan gaya masing-masing pengguna. Untuk Vivobook 14 misalnya, tersedia beberapa pilihan warna seperti Platinum Gold, Quiet Blue, dan Cool Silver. Ada juga aksesori seperti ASUS Marshmallow Mouse dan Marshmallow Keyboard yang hadir dalam pilihan warna pastel seperti Lilac Mist Purple, Quiet Blue, dan Sage Green. Jadi bisa di-mix and match dengan laptopnya.
Kalau anakku yang memilih, mungkin prosesnya akan lebih lama di bagian warna daripada membaca spesifikasi.
“Maunya yang blue.”
“Kenapa?”
“Bagus aja.”
Oke. Argumentasinya memang tidak terlalu teknis, tapi valid.
Menurutku konsep seperti ini justru cocok untuk anak SMA karena mereka sedang berada di fase mencari dan menunjukkan karakter. Laptop akhirnya tidak terasa seperti barang sekolah yang kaku, tetapi sesuatu yang memang menjadi bagian dari keseharian mereka.
Vivobook S14 OLED: Ketika Tugas Sekolah Mulai Banyak
Kalau anak mulai sering melakukan multitasking dan ingin layar yang lebih nyaman untuk melihat gambar atau video, aku akan naik satu tingkat ke Vivobook S14 OLED.
ASUS Vivobook S14 OLED menawarkan layar OLED WUXGA 16:10 dan pilihan prosesor hingga Intel Core Ultra 7, dengan Intel Arc graphics, NPU untuk kebutuhan AI, RAM hingga 16 GB dan SSD hingga 1 TB pada konfigurasi tertentu. Buatku, layar OLED adalah salah satu bagian yang langsung terasa dalam penggunaan sehari-hari. Apalagi kalau anak yang menggunakan laptop bukan hanya mengetik makalah, tetapi juga sering melihat footage video, foto, desain, atau sekadar menonton materi pembelajaran.
Apalagi buat anakku yang SMK Perfilman di rumah, dia sudah mulai berkenalan dengan dunia visual, dan laptop dengan layar yang bagus tentu menjadi nilai tambah. Aku juga melihat Vivobook S14 OLED sebagai pilihan yang cukup “tengah-tengah”. Tidak terlalu sederhana untuk kebutuhan kreatif, tetapi juga tidak terasa seperti membeli workstation profesional hanya untuk mengerjakan tugas sekolah.
ProArt: Ini Baru Laptop yang Aku Bayangkan untuk Anak Perfilman
Kalau sudah bicara anak SMK Perfilman, aku mulai melihat ProArt dengan cara yang berbeda, karena editing video bukan lagi sekadar hobi. Ada footage yang ukurannya besar. Ada timeline. Ada efek. Ada color grading. Ada proses rendering yang kadang membuat kita bertanya, “Ini selesai kapan?”
ASUS ProArt P16 memang dibuat untuk kebutuhan creator. Model ini bisa menggunakan AMD Ryzen AI 9 HX 370 dengan NPU hingga 50 TOPS dan GPU NVIDIA GeForce RTX 50 Series, dengan pilihan RAM hingga 64 GB dan SSD hingga 2 TB. Layar ASUS Lumina Pro OLED-nya juga menawarkan akurasi warna Delta E < 1 dan refresh rate hingga 120 Hz.
Aku mungkin bukan editor video profesional, tapi aku tahu satu hal: semakin serius proyek yang dikerjakan, semakin penting laptop yang memang dirancang untuk beban kerja tersebut. ProArt P16 bahkan secara khusus mendukung workflow video 4K/8K, encoding dan decoding, efek berbasis AI, serta aplikasi kreatif seperti Adobe Premiere Pro, Photoshop, After Effects, Lightroom, dan sejenisnya.
Jadi kalau anak yang sekolah di bidang perfilman suatu hari pulang dan bilang, “Ma, tugas editing-ku makin berat,” aku bisa memahami kenapa ProArt menjadi pilihan yang jauh lebih masuk akal. Bukan karena ingin punya laptop mahal. Tapi karena alat kerjanya memang harus mengikuti kemampuan yang sedang mereka bangun.
Zenbook S14 dan S16: Untuk yang Ingin Powerful tapi Tetap Stylish
Lalu ada Zenbook S14 dan S16. Menurutku ini tipe laptop yang menarik buat anak yang sudah mulai punya mobilitas tinggi. Misalnya sering membawa laptop ke sekolah, kampus nanti, tempat kerja kelompok, atau bahkan mengerjakan proyek di luar rumah.
Zenbook S14 OLED memiliki bodi setebal sekitar 1,1 cm dan bobot sekitar 1,2 kg, sementara Zenbook S16 juga hadir dengan ketebalan 1,1 cm dan bobot sekitar 1,5 kg. Keduanya menggunakan material Ceraluminum dan layar Lumina OLED 3K 120 Hz.
Buatku yang paling menarik adalah keseimbangan antara performa dan mobilitas, karena membawa laptop yang berat itu baru terasa setelah dilakukan setiap hari. Awalnya, “Ah, cuma 1–2 kilo.” Coba bawa di dalam tas bersama charger, buku, botol minum, dan barang-barang lain. Baru terasa.
Zenbook S14 dengan bobot yang ringan bisa menjadi pilihan menarik untuk anak yang banyak berpindah tempat. Sedangkan S16 memberikan layar yang lebih besar, yang menurutku akan terasa menyenangkan untuk editing gambar, video, atau pekerjaan yang membutuhkan area kerja lebih luas.
Zenbook DUO: Ketika Satu Layar Rasanya Tidak Pernah Cukup

Nah, kalau sudah masuk ke Zenbook DUO, aku langsung teringat anakku yang kalau belajar bisa membuka begitu banyak hal sekaligus. Satu layar untuk materi pelajaran, layar lain untuk menulis. Atau untuk anak perfilman: satu layar untuk timeline editing, satu lagi untuk preview atau tools.
ASUS Zenbook DUO terbaru memiliki dua layar 14 inci 3K 144 Hz ASUS Lumina Pro OLED touchscreen dengan tingkat kecerahan hingga 1.000 nits. Desain dual-screen ini memang dibuat untuk multitasking, dengan pengalaman layar yang terasa seperti membawa setup dua monitor dalam satu perangkat. Menurutku ini salah satu laptop yang paling cocok buat “anak zaman now”. Mereka sudah terbiasa membuka banyak hal secara bersamaan. Jadi konsep dua layar bukan sekadar gimmick, tetapi memang bisa mengubah cara mereka bekerja.
Bayangkan anakku sedang membuat makalah. Di layar atas ada artikel referensi, di layar bawah ada dokumen tugas. Atau saat editing video, satu layar untuk timeline dan satu lagi untuk preview. Lebih rapi. Lebih lega. Dan mudah-mudahan lebih sedikit alasan, “Aku nggak bisa lihat semuanya karena layarnya kecil.”
Jangan Lupakan Service Setelah Membeli

Ada satu hal yang semakin aku anggap penting ketika membeli laptop: bukan hanya bagaimana performanya saat baru dibeli, tetapi bagaimana dukungannya setelah digunakan beberapa tahun. ASUS saat ini memberikan ASUS Premium Service untuk lini tertentu seperti Zenbook dan ProArt, termasuk Free Round-Trip Shipping, Laptop Spa, dan FastLane Priority Handling.
Free Round-Trip Shipping menurutku sangat membantu karena laptop bisa dijemput dan dikirim kembali setelah proses servis. Jadi tidak selalu harus repot membawa laptop sendiri ke service center.
Laptop Spa. Namanya memang terdengar seperti laptop sedang masuk salon, tetapi konsepnya sebenarnya cukup masuk akal: laptop mendapatkan perawatan dan pembersihan secara profesional dari debu dan kotoran, termasuk penggantian pasta apabila memang diperlukan.
FastLane memberikan jalur prioritas dalam proses servis. Buat orang yang laptopnya dipakai untuk sekolah atau pekerjaan, layanan seperti ini menurutku bukan sekadar bonus. Karena ketika laptop bermasalah, yang bikin panik bukan cuma harga perbaikannya, tapi deadline.
Jadi, Kalau Aku Harus Memilih? Kalau berdasarkan kebutuhan di rumah, aku mungkin akan melihatnya seperti ini.
Untuk anak yang lebih banyak mengerjakan makalah, riset, presentasi, dan tugas sekolah sehari-hari, Vivobook A14 sudah menjadi pilihan yang praktis dan tidak berlebihan.
Kalau kebutuhannya lebih banyak multitasking, menikmati konten visual, dan mulai masuk ke pekerjaan kreatif ringan, Vivobook S14 OLED terasa lebih menarik.
Untuk anak SMK Perfilman yang sudah serius dengan editing gambar dan video, aku akan mempertimbangkan ProArt P16.
Kalau yang dicari adalah laptop premium, tipis, ringan, tetapi tetap bertenaga untuk mobilitas tinggi, Zenbook S14 atau S16 bisa menjadi pilihan.
Dan kalau anaknya tipe yang selalu bilang, “Aku butuh layar lebih besar,” padahal sudah punya laptop dengan layar 14 inci, mungkin Zenbook DUO adalah jawaban paling logis.
Pada akhirnya, aku rasa memilih laptop untuk anak SMA bukan sekadar mencari laptop yang paling mahal atau spesifikasinya paling tinggi. Aku lebih suka melihatnya dari kebutuhan mereka, karena dua anak yang lahir di hari yang sama pun ternyata bisa punya dunia yang sangat berbeda. Yang satu sibuk mencari referensi untuk makalah, yang satu sibuk menyusun footage untuk film. Sebagai ibu, tugasku bukan memilihkan laptop yang paling canggih untuk mereka, tetapi memberikan alat yang bisa membantu mereka berkembang sesuai minat dan kebutuhannya.
Apalagi kalau alat tersebut bisa ikut menunjukkan karakter mereka lewat konsep Pick Your Vibes. Karena teknologi sekarang rasanya memang sudah bukan cuma soal performa. Ada kebutuhan, ada gaya, ada karakter, dan yang paling penting, ada cerita masing-masing di balik laptop yang setiap hari mereka buka.