Perjalanan mendampingi bocah menjadi pramuka Garuda sungguh menguras mental.
Si bocah awalnya semangat mengikuti berbagai bimbingan dan tes. Pencapaian tesnya melesat melampaui teman-teman yang lain di sekolahnya. Semangatnya luar biasa. LALUUU… TIBA-TIBA….
- Pembina 1 meminta untuk mengundurkan diri saja. Karena udah telat pemberkasan, gak bakal nutut. Setelah ditanyakan lebih detail, akhirnya boleh ikut, tapi beliau gak bersedia membantu mengurus berkas. Minta Guru pembimbing sekolah saja yang ngurus. Karena cuma 1 anak yg ikut.
(Fyi, berkas yang harus dikumpulkan ada lebih dari 25 lembar yang harus dimintakan kop surat, legalisir dan tanda tangan di sana-sini.)
- Karena sudah masuk musim libur sekolah, Guru pembimbing susah dihubungi. Lalu si bocah minta tolong ke guru yang lain untuk bertanya apakah si Bapak sakit atau berhalangan di sekolah, akhirnya sedetik kemudian baru dibalas. Ternyataaa dalihnya harusnya mengurus berkas itu tugas pembina. Guru pembimbing hanya mengurus berkas yang dari sekolah saja. Untuk berkas yang harus diurus di ranting, itu tugas kakak pembina.
- Lalu coba minta tolong ke kakak pembina 2. Kakak pembina 2 mau bantu tapi gak mau ke sekolah. Karena rumahnya jauh dan yg ikut hanya 1 anak. Jadi ngalahi kita harus datang ke rumah pembina 2. Rumahnya di mana? Tandes.
- Lalu tanya alamat rumahnya, tapi sampai detik ini belum dibalas. Padahal rencananya besok mau berangkat pagi sekali. Mengingat perjalanan rungkut – tandes naik wira-wiri pasti lama dan muter-muter, biar sampai rumah kembali gak kemalaman, kita harus berangkat pagi.
- lalu urusan SKU dan SKK yang harus dilengkapi. Karena kakak pembina 1 dan 2 sudah lepas tangan, susah dicari dan dimintain tanda tangan untuk tes, akhirnya dilimpahkan ke kakak pembina sekolah sebelah. Nebeng sekolah sebelah. Beruntung kakak pembinanya sabar dan adem dan telaten. Akhirnya SKK dan TKK selesai.
Berkas-berkas gimana? Masih panjang perjalanannya. Belum lagi 6 hasta karya yang harus dikumpulkan. Masih harus menyusun portofolio, data diri, contoh mini pioneering, dll. Padahal minggu depan ada pembekalan dan pengecekan berkas. Meskipun tugas2 yang harus dikerjakan sendiri sudah 80% selesai, tapiii…
Karena sudah di titik lelah dan overload, aku bilang “ya sudah kalau memang tidak bisa dihubungi lagi, sudah… Gpp biarin, gak usah dikejar lagi. Kembalikan saja ke Allah. Kalau memang rejekimu bisa sampai Garuda, insyaallah setelah ini dipermudah dan dilancarkan sampai juara 1. Tapi kalau belum rejeki, Allah akan menyiapkan ganti yang jauh lebih baik dan lebih berkah buat jalur pendidikanmu…”
Bukan, kami bukan menyerah. Kami sedang ada di titik pasrah.
Lalu gimana? Entahlah… Biarkan Allah yang menentukan ending cerita. Kami mau bobok. Sekian!
Disclaimer: Ini adalah curhatan dari proses yang belum nampak endingnya. Curhatan ditulis untuk mengurai perasaan yang overload.