Kemah Asik

Hari ini hari yang sangat cerah. Si kecil Kara sedang berjalan menuju rumah Kira. Kira ingin tahu mengapa Kara berkunjung penuh semangat. Apakah kamu ingin tahu juga? Kalau ingin tahu, simaklah cerita berikut!

Kara: Hai Kira! Lihat apa yang kubawa!

Kara berkata dengan ceria.

Kira: Itu kan tiket ke gunung Lawu.

Kira tampak terkejut.

Kara: iya dong… Besok kita ke sana yuuk! Aku bawa dua tiket nih.

Ucap kara penuh semangat.

Kira: Wah, kamu ceria banget…

Keesokan harinya…

Kira: Kara sudah siap tidak?

Kara: Siap dong!

Kira dan Kara pergi naik ke gunung Lawu penuh dengan semangat. Setelah sampai di puncak gunung, Kara membangun tenda.

Kara: Ayo Kir, bantu aku bikin tenda!

Kira: Capek juga ya mendaki gunung setinggi ini? Makan yuk!

Kara: Hari ini makan marshmello

Kira dan Kara: Selamat Makan!

Bertemu Anak Kembar, Hindari Melakukan Hal Ini!

 

Apa yang anda rasakan ketika melihat anak kembar? Terlihat lucu dan kompak yaa… Namun tahukah anda, bahwa beberapa hal yang anda katakan bisa sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang si anak?

Hal tersebut sering kami alami. Sebagai ibu dari dua bocah kembar, saya sering merasa kewalahan menghadapi akibat dari celetukan atau asumsi orang lain yang melihat anak kembar. Memang sepertinya apa yang anda tanyakan atau katakan terlihat wajar. Namun, bagi anak kembar, hal tersebut bisa menjadi hal yang sensitif.

Berikut beberapa hal yang harus anda hindari ketika melihat anak kembar:

Membanding-bandingkan

Anak yang lahir sebagai kembar identik, memang terlihat sangat mirip. Bahkan sangat sulit untuk dibedakan. Apalagi bagi kita yang baru pertama kali bertemu atau sangat jarang bertemu. Namun begitu, satu hal yang harus kita sadari, bahwa semirip apapun, mereka tetap dua pribadi yang berbeda. Jadi sangat tidak bijak membandingkan keduanya. Bagaimanapun juga anak kembar pasti memiliki perbedaan.

Hal yang sama sering kami alami, ketika bertemu orang di jalan, atau saudara yang lama tidak bertemu. Berikut beberapa perkataan yang pernah kami temui:

“oh yang kakaknya lebih tinggi dan ternyata adiknya badannya lebih kurus ya?”

“Oh, adiknya lebih ceriwis daripada kakaknya..”

“Adiknya lebih pemalu dan jutek dibandingkan kakaknya. Kakaknya lebih ramah yaa…”

Jika memang anda ingin bertanya atau mengambil kesimpulan dari kedua bocah kembar, ucapkanlah perbedaan-perbedaan itu tidak dihadapan si anak. Jika memang ada anaknya, ucapkan hal-hal tanpa menjatuhkan yang lainnya. Misal:

“Oh yang ini matanya cantik, kalau yang ini rambutnya bagus…”

“Kakaknya yang pintar bercerita, Kalau adiknya yang senyumnya cantik…”

Dengan memberikan dua pujian yang sama-sama, tanpa menjatuhkan, maka si anak akan fokus pada hal indah dalam dirinya masing-masing tanpa merasa tersaingi.

         Baca Juga : Si Kembar Belajar Puasa

Sebagai orang tua dari anak kembar, sering sekali kami mendapat PR untuk membantu si anak mengembalikan rasa percaya dirinya setelah mendapat komentar perbandingan yang negatif dari orang-orang yang ditemuinya.

“Bunda, apa benar aku tidak secantik kakak? Kenapa badanku kurus, gak seperti kakak?”

“Bunda, kenapa aku tidak pandai bercerita seperti adik? Apa aku tidak sepintar adik?”

Hal-hal seperti itu kadang membuat kami harus banyak-banyak menambah stok sabar dan istighfar.

Memperuncing Persaingan Antar Saudara

Lahir sebagai anak kembar, maka mereka bukan hanya terlahir bersama teman, tapi bisa juga  terlahir bersama saingannya. Sejak di dalam rahim mereka bersaing memperoleh nutrisi dari satu ibu. Mereka tumbuh dengan bersaing memperoleh perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Maka, hal yang seharusnya bisa mereka bagi menjadi hal yang mereka perebutkan. Mereka menjadi bersaing satu sama lain.

Pernah mendengar tentang “Sibling Rivalry?”

Jika orang tua dengan satu anak baru merasakan jungkir baliknya menghadapi anak bertengkar setelah anaknya punya adik baru, punya teman, atau setelah anaknya bersekolah, maka kami sudah menghadapi anak saling cakar dan saling gigit sejak mereka masih bayi. Berat? Iya pada awalnya setiap mereka bertengkar, hati kami hancur berantakan. Setiap melihat mereka saling pukul dan saling gigit, kami merasa menjadi orang tua yang gagal.

Kami butuh waktu dan tenaga untuk mengajarkan mereka berbagi dan bekerja sama. Kami jatuh bangun membangun rasa saling menjaga dan saling peduli. Karena kami percaya, mereka adalah sahabat yang bisa saling membantu dan berbagi. Tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin.

Setelah melewati fase saling baku hantam, lantas tiba-tiba ketika ada orang lain yang tiba-tiba berbicara:

“Kamu jangan sampai kalah ya sama saudaramu! Kamu harus lebih pintar! Kamu harus bisa menang!”

         Baca Juga: Si Kembar Masuk SD

Mendengar ucapan seperti itu, bukan hanya membuat merah telinga kami, namun kami bisa berubah menjadi monster yang paling menakutkan di depan anda. Apa hal tersebut pernah kami rasakan? Iya, Pernah! Karena itu kami mohon, jangan peruncing persaingan. Jikalaupun harus berlomba, biarkan mereka bersaing dengan orang lain, tapi tidak dengan saudaranya sendiri.

Memaksakan Harus Serba Sama

Jika anda menganggap bahwa anak kembar itu berarti semua harus sama, maka anda salah besar.

Anak yang lahir sebagai kembar identik, mungkin memiliki wajah yang sangat mirip. Namun mereka tetap dua orang yang berbeda. Mereka memiliki karakter masing-masing, yang terkadang karakternya berbeda 180 derajat. Mereka memiliki kesukaan dan selera masing-masing, yang terkadang tidak sama. Karena itu memaksa mereka memakai semua harus serba sama hanya agar kelihatan lucu, itu sangat tidak adil bagi mereka.

Ketika masih bayi, memilihkan semuanya serba sama mungkin tidak masalah. Banyak yang memilih semua serba sama demi kepraktisan. Membeli baju bayi 1 lusin sekaligus agar harganya lebih murah, memang lebih efisien. Namun hal tersebut tidak berlaku lagi jika mereka sudah mulai bisa memilih dan memiliki selera.

Kami mulai mengajarkan dua bocah kembar kami untuk memiliki selera masing-masing sejak masih kecil. Kami memberikan kebebasan bagi mereka untuk memilih apa yang mereka sukai, tanpa paksaan. Kami belajar menerima selera mereka meski kadang terasa aneh bagi kami. Selera si kakak yang cenderung lebih boyish dan selera si adik yang cenderung lebih girly membuat mereka memiliki karakternya masing-masing tanpa terpengaruh saudara kembarnya. Maka jika ada yang memaksakan mereka memakai baju yang harus sama persis ketika datang ke pesta, bisa menjadi siksaan tersendiri bagi mereka.

Jika anda bermaksud memberikan oleh-oleh untuk anak kembar, pelajari dulu sifat dan karakternya. Tanyakan pada orang tuanya apa kesukaan masing-masing anak. Jika anda tidak ingin hadiah anda menjadi sia-sia, bijaklah dalam memilih sesuai kepribadian anak.

Meminta Melakukan Hal Yang Sama Seperti Saudaranya

Setiap anak terlahir dengan talenta dan bakat masing-masing. Demikian juga dengan anak kembar. Meski memiliki wajah yang serupa, namun terkadang kemampuan, bakat dan minat mereka sangat berbeda. Karena itu jangan sesekali meminta mereka melakukan hal yang sama seperti saudara kembarnya.

“Kakakmu pintar mewarnai, kok mewarnaimu kayak gini!”

Atau

“Lihat kakakmu gak gampang nangis kayak kamu!”

Jika memang ingin memberi motivasi agar anak melakukan hal yang baik, hindarilah membanding-bandingkan dan memintanya melakukan hal yang sama dengan saudaranya. Dibandingkan dengan orang lain saja kita tidak mau, apalagi dibandingkan dengan saudara sendiri. Hal ini bisa membuat hal yang kurang menyenangkan dengan saudaranya.

Tidak semua anak kembar sama-sama terlahir dengan kemampuan yang setara. Satu anak bisa terlahir dengan kemampuan motorik yang menonjol dan anak yang lain terlahir dengan kemampuan bahasa yang menonjol. Tentu saja itu bukan hal yang salah atau keliru. Bukankah memang kemampuan setiap orang berbeda-beda?

Orang tua dari anak kembar terkadang memiliki beban untuk bisa menyesuaikan gaya belajar sesuai dengan kemampuan dan kepribadian masing-masing anak. Jadi sebaiknya jangan tambah beban orang tuanya dengan membanding-bandingkan dan meminta anak kembar melakukan hal yang sama. Karena anak kembar bukan robot yang bisa diprogram agar bisa melakukan gerakan yang sama persis.

Mari saling bertoleransi dan belajar berempati!

Si Kembar Masuk SD

Harusnya tulisan ini sudah dibuat 4 bulan yang lalu. Berhubung jadi orang yang sok sibuk, jadilah terbengkelai. Kebetulan hari ini yang harusnya saya menyelesaikan deadline kerjaan, ndilalah semua dokumen kerjaan belum dikirim ke email. Orang yang bertugas kirim-kirim dokumen sedang cuti. Merasa memperoleh angin segar untuk “libur” sehari, maka disempatkan menulis curhatan ala bunda kunyil.

Dua bocah kunyil sekarang sudah SD! Hooorrreee…. Kira dan Kara masuk SD tepat di usia 7 tahun. Harusnya secara emosional dan motorik sudah cukup matang untuk menempuh petualangan menjadi siswa Sekolah Dasar. Maka daftarlah mereka ke SD incaran. Pilihan sekolahnya sesuai dengan diskusi dan kesepakatan bersama, antara ayah, bunda, Kira dan Kara. Para bocah tentu saja dilibatkan dalam diskusi. Ini karena mereka yang akan menjalani. Jadi semua harus sesuai kesepakatan bersama.

Pertimbangan Masuk SD Negeri

Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk mendaftarkan Kira dan Kara ke SD Negeri. Pertimbangan-pertimbangan tersebut diantaranya sangat sederhana dan klise ala orang tua malas berpikir rumit. Apa aja sih? Ini sebagian pertimbangannya:

Pertama, Sekolah Dasar Negeri adalah sekolah yang terdekat dari rumah kami. Kami ingin Kira dan Kara benar-benar belajar mandiri. Dimulai dengan berangkat dan pulang sekolah sendiri. Meski tersembunyi alibi bunda bebas antar jemput selama 6 tahun, namun percayalah, niat kami tulus. Kira dan Kara yang jarang main jauh dari rumah bisa mulai belajar dengan menghafal rute dari rumah ke sekolah. Meski jaraknya hanya selemparan batu, tapi bunda kunyil tetap saja melalui fase dag dig dug ketika melepas mereka berangkat sekolah sendiri.

Kedua, sekolah negeri memiliki pergaulan yang sangat beragam. Ibarat miniatur sosial, sekolah negeri lah tempat miniatur sosial sesungguhnya. Di sekolah negeri kamu bisa menemui anak yang tajir melintir sampai anak yang bergantian sepatu dengan kakaknya yang masuk sekolah siang. Serius, beneran ada dan nyata. Di sekolah negeri kamu bisa menemui anak yang usilnya naudzubillah hingga anak yang disuruh apa aja nurut. Di sekolah Negeri kamu bisa menemui anak yang super duper religius hingga anak yang omongannya udah mirip cerita kebun binatang. Jadi kamu mau cari tipe anak yang kayak gimana, Sekolah negeri lah tempatnya.

Nah, memasukkan duo bocah kunyil ke sekolah semacam itu, dibutuhkan doa dan kebulatan tekat maha dahsyat. Ya gimana yaa… Dengan dua bocah yang terbiasa ada di lingkungan yang serba mengayomi, serba mengasihi, dan serba aman nyaman sentosa, tiba-tiba harus masuk ke rimba raya pergaulan yang super dahsyat. Pasti ada fase jetlag. Pasti ada fase shock. Pasti ada fase mogok sekolah. Pasti ada fase nangis tiap hari. Pasti ada fase nyinyir antar orang tua. Pasti ada fase jengkel sama guru. Pasti ada fase kesal sama semuanya. Pasti itu…

Untuk itulah dibutuhkan persiapan hati yang sempurna. Bukan hanya hatinya dua bocah kembar ya… Yang paling utama dan paling penting justru hati orang tuanya.

Saya menyiapkan diri untuk tidak nyinyir berlebihan. Meski fitrah susah dilawan, namun sekarang sudah saatnya memakai rem untuk mulut sendiri biar gak gampang kelepasan nyolotnya. Bawaan bawel sudah dari sananya. Tinggal disalurkan ke kanal yang benar biar gak lepas dan memakan korban. Maka, saya hindari sebisa mungkin untuk komen berlebihan tentang banyak hal. Sebisa mungkin memberikan kontribusi saran, suara, komentar yang benar-benar bermanfaat dan dibutuhkan. Untuk itulah dibutuhkan nyinyir management yang tidak mudah buat bunda kunyil.

Lanjuuut… Pertimbangan ketiga adalah soal biaya. Masuk SD Negeri bebas biaya, ciiiin… Untuk tahun pertama kita hanya butuh beli seragam dan perlengkapan sekolah. Untuk siswa yang tidak mampu ada bantuan. Bahkan kalau mau menyumbangkan seragam layak pakai juga boleh bangeeet. Bebas biaya SPP pula. Daaaan untuk pemegang kartu KIS mendapat subsidi buku paket tematik dari sekolah. Happy kaaan… Itu bagian yang bikin bunda kunyil sedikit terhibur. Dengan demikian, jatah SPP sekolah bisa dialihkan ke dana les yang bermanfaat. Itulah akhirnya bunda kunyil bisa mendaftarkan duo kembar masuk les berenang. Untuk pertimbangan ini, saya sudah siap jika ada yang bergumam “pelit amat…”. Gakpapa lah yaa… Kita gak ada yang tahu isi dompet orang lain, kecuali disodori formulir LHKPN. Ya tapi siapalah saya, hanya pejabat teras rumah mertua, mana punya LHKPN untuk diumumkan. Jadi cukup saya, suami dan Tuhan yang tahu berapa isi dompet kami. *ngikik manis*

Setelah Si Kembar Masuk SD Negeri

Apa yang terjadi setelah duo bocah kembar masuk SD Negeri? Seperti perkiraan sebelumnya. Ada fase bocah pulang dengan wajah sumringah cerah ceria mendapat teman baru. Ada pula saatnya selama seminggu penuh pulang dengan menangis karena dijahilin temannya. Bahkan pernah pulang dengan wajah penuh marah, rupanya habis baku hantam saling pukul di sekolah.

Kok bisa?

Iya bisa, karena disuruh bunda. hahaha… Itu hari di mana saya sudah jengah tiap hari mendengar aduan tentang anak yang sama. Mulai dari digodain, lalu disenggol pas nulis, lalu berisik pas pelajaran, lalu dicolek-colek pas lagi ulangan, hingga dipukul ketika habis imunisasi. Lalu saya tanya, “kamu takut gak sama dia?”. Si bocah menjawab enggak. Dia menangis karena tidak tahan digangguin tapi gak bisa bales. Rupanya dia ingat sama wejangan bundanya, gak boleh membalas memukul jika dipukul. Itu sama saja jahatnya. Nah, ketika PMS dan rasa jengah sudah diubun-ubun, maka saya bilang “ya sudah kalau kamu gak takut, besok kalau kamu dipukul lagi, pukul balik saja…”

Trust me! Mungkin saat itu saya jadi bunda paling buruk sedunia. Biarlah. At least saya tahu seperti apa endingnya. Kalau ternyata keputusan itu salah, kami bisa belajar dari kejadian itu. Kalau memang mau dicaci atau diketawain, no need to worry, bunda kunyil sudah siap.

As we know, kejadian itu beneran keesokan harinya dua bocah saling beradu pukul hingga bocah saya memilih pergi karena ia tahu ini tidak akan selesai. Eh iya, si bocah yang jahil itu laki-laki yaa… Jadi bisa dibayangkan ketika bocah saya yang perempuan berpostur super mungil, dengan berat badan yang tak lebih dari anak umur 5 tahun, beradu pukul dengan bocah lelaki yang sering menggoda anak perempuan yang katanya “cengeng”. Bunda? Puas dooong… Gurunya? Gak kenapa-napa. Karena tahu yang usil memang yang laki, jadilah ketika mendapat aduan dari teman-temannya yang lain, si anak lelaki dipindah duduk paling pojok. Sendirian. That’s it! Case closed!

Kalau ada saran, komentar, atau nasihat, ledekan, tertawa puas karena merasa senasib, tuliskan saja di kolom komentar. Bebasss.. Insyaallah semua di approve kecuali spammer!

Kejadian itu satu-satunya? TIDAK. Itu hanya salah satu kejadian “ajaib” yang kami alami selama 3 bulan bersekolah di sekolah negeri. Yang lainnya? Tunggu saja, siapa tahu saya cukup selo untuk berbagi cerita di sini.

Sekian curhat hari ini, selamat melanjutkan hari!