Menjawab Pertanyaan Anak Tentang Tuhan

MENJAWAB PERTANYAAN ANAK TENTANG TUHAN

Sebagai orang tua, kadang kita mendapat pertanyaan-pertanyan ajaib dari anak-anak, termasuk pertanyaan tentang Tuhan. Duo kunyil saya adalah dua mahluk mungil yang kadang membuat saya tiba-tiba blingsatan ketika mendapat pertanyaan yang ajaib. Bekal berupa literasi, banyak baca, banyak sharing dengan teman-teman psikolog menjadi senjata utama saya dalam menghadapi serangan mendadak tersebut.

Namun begitu, sudah semestinya kita bersyukur ketika anak-anak banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan ajaib. Itu berarti logika anak berjalan dengan baik. Pertanyaan aneh bin ajaib kadang tidak pernah terpikirkan oleh otak kita yang sudah banyak terkontaminasi aneka kebutuhan hidup. Namun jika ditelaah lebih dalam, sesungguhnya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para bocah tersebut adalah pertanyaan hidup yang hakiki.

Menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu selalu saya usahakan untuk menjawab sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya. Saya tidang ingin memberikan jawaban bercandaan apalagi jawaban yang salah dan tidak masuk akal. Karena anak-anak sangat serius ketika mengajukan pertanyaan. Jawaban yang kita berikan tersebut akan selalu menjadi pegangan bahkan kunci yang akan mereka bawa hingga besar. Orang tua tentu gak mau kan kalau anak-anak memiliki pemahaman yang salah hanya karena pertanyaannya tidak ditanggapi dengan serius oleh orang tuanya?

Nah, berikut beberapa pertanyaan yang pernah saya dapatkan dari duo kunyil tentang ALLAH, AGAMA dan seputar KETUHANAN lengkap dengan jawaban yang pernah saya berikan.

  1. Bunda, siapakah Allah itu? Kenapa aku harus jadi anak kesayangan Allah?

Ini adalah pertanyaan klasik yang mungkin banyak ditanyakan anak-anak pada usia balita. Jadi menjawabnya juga gak perlu pakai ayat-ayat yang belibet. Gunakan kata-kata sederhana yang biasa dipakai anak-anak dalam obrolan sehari-hari. Berikut kurang lebih jawaban yang saya berikan:

Allah adalah yang menciptakan manusia, kamu, kakak, adik, ayah dan bunda. Allah yang membuat matahari, membuat air, membuat siang dan malam, membuat kucing.

saya mengubah kata “menciptakan” menjadi “membuat” karena saat itu anak-anak bertanya “apa itu menciptakan, Bund?”

Allah itu Maha Kuasa. Kita boleh minta apa saja sama Allah. Nah, kalau kita jadi kesayangannya Allah, kira-kira gimana? Senang gak?

Menghadapi pertanyaan dadakan, terkadang saya memberikan pertanyaan sebagai umpan balik untuk membantu melatih anak menggunakan logika dan pola pikirnya. Metode bertanya balik ini juga biasanya saya gunakan untuk mengulur waktu sambil berpikir dan memancing anak mengeluarkan ide dan pemikirannya. Seru lho, karena terkadang jawaban mereka lucu-lucu dan unik.

         2. Bunda, kenapa mas M tidak sholat, tidak puasa? Kenapa agamanya berbeda?

Pertanyaan ini saya dapat ketika duo kunyil sudah mulai masuk bangku sekolah dan mulai bersosialisasi dengan banyak teman dan kakak kelas. Kebetulan sekolah kami adalah sekolah umum, sehingga ada beberapa murid yang berbeda agama. Berikut jawaban yang kurang lebih saya berikan:

Mas M tidak sholat karena cara ibadahnya berbeda dengan kita. Beragama dan cara beribadah itu sama kayak kita berjalan. Kalau kakak mau ke sekolah apakah jalan yang dilewatin sama teman-temannya semua sama? Ada yang lewat gang 7, ada yang lewat jalan raya, ada yang lewat gang 9, macam-macam. Tapi tujuannya sama, sama-sama menuju sekolah. Begitu juga dengan agama dan cara beribadahnya, berbeda-beda, tapi tujuannya sama, sama-sama ingin disayang Allah, mendapat pahala dan masuk surga.

           3. Bunda, kalau Allah maha Kuasa, kenapa Allah tidak membuat semua orang jadi kaya dan punya uang yang banyak? Kenapa ada yang miskin dan ada anak kecil yang sakit parah?

Pertanyaan ini pernah saya dapatkan ketika si kunyil habis nonton berita yang isinya semacam liputan penggalangan dana. Waktu itu sempat bingung juga mencari kata yang sederhana dan mudah dimengerti itu seperti apa. Jadi saya gunakan jurus bertanya balik lalu berdiskusi.

Kalau bunda kasih kakak permen yang banyaaaak setiap hari kira-kira gimana?

Lalu anak-anak berebut menjawab: enak, tapi bikin gigi cepet rusak. Nanti gigiku sakit, dan sejenisnya.

Nah, seperti itulah Allah mengajarkan kita untuk selalu menjaga tubuh. Kalau gak ada rasa sakit, kita gak akan belajar bagaimana menjaga tubuh, merawat tubuh dan mengenal tubuh kita sendiri. Padahal tubuh kan perlu dirawat dan dijaga.

Dengan cara itu pula Allah mengajarkan kita untuk saling menyayangi dengan sesama, saling membantu teman yang sedang sakit dan belajar menjadi manusia yang bermanfaat.

Sekarang kalau semuanya dikasih uang yang banyak, kira-kira ada yang mau gak bersusah payah bangun pagi cuma untuk bikin tempe? Ada gak yang pagi-pagi jual sayur dan jual tempe?

Kembali anak-anak akan berebut menjawab dengan pertanyaan-pertanyaan yang unik. Anak-anak akan berusaha mengungkapkan argumen dan idenya. Saat itulah kita bisa memberikan apresiasi apapun jawaban anak, agar anak percaya diri memberikan pendapatnya.

Demikian sekelumit yang bisa saya bagi untuk sore ini. Karena adzan maghrib sudah berkumandang, saatnya masuk kandang dulu. Sebenarnya masih buanyak banget pertanyaan-pertanyaan ajaib yang diajukin kunyil dan sempat saya dokumentasikan untuk keperluan pribadi. Insyaallah jika ada kesempatan akan kembali dibagi di sini. Have a great parenting moment!

Berkat #AksiFlashBunda Drama Keluarga Berakhir Dengan Yang Halal


Sore ketika mandi, saya tersentak mendapati ada benjolan di payudara kiri. Hingga beberapa hari saya periksa, benjolan itu masih ada dan makin terasa membesar. Karena penasaran saya pun datang ke dokter umum langganan. Ibu dokter kemudian menyarankan saya untuk datang ke klinik onkologi.

Saat itu saya masih remaja, belum menikah. Cerita tentang tumor dan kanker bukan hal baru. Keluarga saya memiliki gen tumor yang sangat kental. Budhe, tante bahkan ibu saya semua memiliki riwayat pernah memiliki penyakit tumor. Maka ketika dokter onkologi memvonis benjolan itu harus diangkat, saya bisa menanggapinya dengan kalem.

Ternyata yang justru shock adalah Ibu. Beliau tidak menyangka kalau anaknya memiliki penyakit yang sama persis dengan dirinya. Sebenarnya sebelum melakukan operasi pengangkatan benjolan di payudara, saya pernah melakukan beberapa kali operasi kecil. Benjolan di payudara ini bukan benjolan pertama yang saya miliki. Operasi tumor ini adalah operasi ketiga kalinya yang pernah saya jalani.

Sebelumnya saya pernah memiliki benjolan di daun telinga. Saya tidak pernah ingat tepatnya kapan, yang jelas benjolan itu sudah ada sejak saya masih sangat kecil. Benjolan di daun telinga itu tidak besar, tetapi ada lubang sebesar jarum jahit yang selalu mengeluarkan cairan. Ketika benjolan mulai membesar, maka cairan akan keluar dari lubang ketika ditekan. Cairan itu memiliki bau yang anyir dan tidak sedap. Ketika masih kecil saya tak terlalu memperhatikan. Semakin besar, cairan itu terasa semakin mengganggu. Maka ketika SMA saya memutuskan benjolan itu harus diambil.

Itulah operasi kecil pertama yang saya lakukan. Operasi yang dilakukan bersamaan dengan momen Mike Tyson menggigit telinga Evander Holyfield. Tak heran, ketika kembali masuk sekolah, bekas operasi saya menjadi bahan bercanda teman-teman. Lumayanlah menjadi bahan hiburan paska operasi.

Tak Seindah Foto Instagram

Ternyata meski telah beberapa kali menjalani operasi dan berkali-kali merawat luka sendiri, ternyata setelah punya anak, itu beda rasanya. Pantesan ketika aku kalem mau berangkat operasi, tapi justru ibuk yang nangis sesenggukan gak berhenti. Padahal rasanya biasa saja ketika harus berbaring di ruangan dingin dengan cahaya lampu yang menyilaukan. Hanya ada rasa pasrah. Ternyata pas anak jatuh dan ada benjol di dahinya itu gak bisa sekalem itu. Lupakan kata pasrah. Yang tersisa hanya panik.

Percayalah, apa yang nampak indah di foto instagram, dibaliknya terselip jatuh bangunnya perasaan yang tak tergambarkan. Kalau ada foto ibu yang mengobati luka anaknya sambil tersenyum setelah anaknya jatuh itu bohong bangeeeet. Kalaupun ada ibu yang benar seperti itu, sembah sujud untuk beliau yang selalu mampu kalem dan tenang di segala cuaca dan kondisi.

Duo kunyil saya kalau jatuh atau terbentur hebohnya bukan main. Apalagi kalau tahu ada luka atau lebam. Byuuuh… nangisnya bisa didengar orang seluruh RW. Ditambah lagi ada uti akungnya yang gak kalah heboh. Lengkaplah drama di keluarga kami. Percayalah itu bukan hal yang mudah untuk kami lalui.

Kami punya rekor ketika duo kunyil masa-masa lincah ke sana kemari, Kira jatuh dari tempat tidur sebanyak 4 kali. Ajaibnya lagi, waktu jatuh ada saya dan suami yang mendampingi di dua sisi yang berbeda. Itupun ternyata si bocah bisa lolos dan meluncur mulus ke… lantai!

Lebam? Pasti!

Benjol? Iya!

Masih tetep kalem? Enggaklah…

Kami sama-sama panik. Apalagi kepala bocah masih mungil, jadi deg-deg’an. Belum tahu si anak harus diapain, diobatin pakai apa karena anaknya nangis heboh. Lalu tanya kanan kiri, semua teman dan saudara di whatsapp’in. Ternyata bekal pengetahuan tentang pertolongan pertama pada anak jatuh itu penting. Banget!

Coba sini tunjuk tangan ada gak yang anaknya gak pernah jatuh sama sekali? Kalau anak aktif dan bereksplorasi dengan normal pasti pernah jatuh kan? Normal kok. Wajar. Gak usah panik. (Sungguh nasehat yang sia-sia). Karena semua anak pasti pernah jatuh, lantas apakah semua calon orang tua pernah belajar tentang pertolongan pertama pada anak jatuh?

Meskipun sudah sampai 4 kali jatuh dari tempat tidur, kami masih saja merasa panik. Memang kadar paniknya bisa berkurang banyak. Tapi pertanyaan dan rasa khawatir itu masih suka hinggap. Meskipun panik, kami selalu berusaha untuk berpikir rasional. Tidak mudah memang, tapi harus terus diusahakan. Caranya? Ya belajar!

Pertolongan Pertama Pada Anak Jatuh

Biar makin pinter, nih saya bagi hasil belajar sekian lama. Berikut pertolongan pertama yang dapat dilakukan oleh orang tua jika anaknya jatuh.

  1. Periksa apakah anak dalam kondisi sadar atau tidak setelah jatuh. Jika setelah jatuh anak sadar dan menangis, maka orang tua boleh sedikit bernafas lega. Namun jika ternyata setelah jatuh anak tidak sadarkan diri, sebaiknya jangan diubah posisinya dan langsung hubungi gawat darurat. Kecuali jika anak dalam posisi berbahaya, maka boleh dipindahkan.
  2. Periksa apakah ada luka serius atau tidak, seperti patah tulang atau terkilir. Jika ada, segera hubungi petugas kesehatan terdekat.
  3. Periksa apakah ada luka terbuka, lebam atau benjol. Jika ada luka terbuka, bersihkan dan beri obat antibakteri. Jika ada benjol atau lebam, bersihkan dan beri obat antikoagulan yang bisa membantu memecah pembekuan darah. Kalau masih awam tentang obat antikoagulan, nanti kita bahas lagi dibawah ya.
  4. Perhatikan apakah anak muntah atau berkurang kesadarannya setelah jatuh. Jika terjadi muntah atau anak merasa ngantuk berlebihan, segera bawa ke petugas kesehatan.
  5. Tenangkan anak yang sedang menangis. Selain karena rasa sakit, biasanya anak menangis karena kaget dan takut.

Adakah Obat Antikoagulan di Kotak P3K mu?

Obat antikoagulan berfungsi untuk memecah pembekuan darah, seperti lebam atau benjol. Ketika kulit terkena benturan benda tumpul maka pembuluh darah terkecil yang ada di bawah kulit akan pecah. Kalau pembuluh darah terkecil ini pecah, maka darah akan keluar dan mengalir dan menyebar ke jaringan-jaringan di sekitarnya. Itu kenapa setelah terbentur kulit kita memerah tetapi tidak ada darah yang menetes.

Setelah satu atau dua hari, darah yang keluar dan menyebar ke sekitar jaringan itu akan menggumpal dan berubah menjadi warna biru. Hal tersebut menandakan hemoglobin tidak mendapat pasokan oksigen. Itulah yang disebut lebam. Fungsi obat antikoagulan ini membantu mempercepat proses penguraian kembali darah yang menggumpal tersebut. Agar lekas terurai kembali maka antikoagulan akan menghambat protein yang berperan dalam proses pembekuan darah.

Nah kalau lebam sudah mulai berwarna kehijauan dan mulai kecoklatan itu pertanda proses penyembuhan sedang berlangsung. Lantas adakah antikoagulan yang bisa dibeli di apotek terdekat dan aman digunakan? Ada. Namanya Thromboflash.

Thromboflash berisi antikoagulan yang membantu memecah pembekuan darah. Thromboflash mengandung bahan aktif bernama Heparin Sodium 200 IU. Heparin inilah yang bekerja menghambat protein yang berperan membekukan darah. Thromboflash aman karena mudah digunakan. Tidak lengket dan sedikit efek sampingnya.

Cara penggunaanThromboflash:

  • Cuci permukaan kulit yang akan diolesi thromboflash.
  • Oleskan tipis pada permukaan kulit yang lebam. Tak perlu digosok atau dipijit karena Thromboflash mudah meresap.
  • Jangan dioleskan pada luka terbuka.
  • Hentikan pengobatan jika muncul rasa gatal, ruam atau reaksi alergi lainnya.
  • Hati-hati penggunaan obat pada area sensitive seperti mata, mulut dan hidung.
  • Karena obat ini termasuk obat luar, jangan sampai tertelan ya!

Kenapa harus Thromboflash? Bukankah ada obat sejenis yang memiliki manfaat sama? Karena Thromboflash sudah memiliki sertifikasi hallal dari MUI. Pada dasarnya Heparin yang terkandung dalam obat koagulan biasanya terbuat dari mucosa hewan. Kebanyakan terbuat dari mucosa Babi atau Porcine, namun Thromboflash terbuat dari mucosa Sapi atau Bovine. Jadi aman dan nyaman menggunakannya.

Benar-benar Thromboflash menjadi sahabat keluarga ya. Jangan remehkan luka lebam. Meski kalian sudah menjalani banyak operasi, tapi kalo menghadapi anak lebam masih takut, berarti wajib sedia Thromboflash di rumah. Di rumah kami, berkat Thromobflash yang memberikan aksi perlindungan yang flash, drama keluarga berakhir dengan yang halal. Sudah terbukti kan kalau Thromboflash gak tanggung-tanggung melindungi konsumen.Gimana, sudah adakah Thromboflash di kotak P3K mu?

Pentingnya Sinergi Akal, Fisik dan Sosial dalam Tumbuh Kembang Anak

Suatu hari salah satu bocah saya pulang sekolah dengan berurai air mata. Setelah berganti baju dan sedikit tenang, ia bercerita. Rupanya di sekolah, pada saat jam olah raga, dia mengalami perundungan. Ia dijauhi teman-temannya. Ketika pembagian kelompok untuk pelajaran olah raga, tidak ada satu pun yang mau satu kelompok dengannya.

Si bocah ditolak di manapun. Mereka tidak mau satu kelompok karena menganggap si bocah terlalu lamban untuk pelajaran olah raga. Mereka tidak mau berisiko kalah jika memasukkan si bocah ke dalam kelompoknya. Tak heran jika ia menjadi sedih dan hatinya luka.

Tidak mudah memang, bocah saya lahir dalam kondisi prematur. Usia 5 bulan ia baru bisa mengangkat leher. Usia 7 bulan ia baru bisa duduk. Namun ia bisa mengejar ketertinggalan pertumbuhan fisik dan motorik kasarnya ketika usia 13 bulan. Ia mulai berani melangkahkan kakinya dan belajar jalan.

Namun begitu, pertumbuhan berat badannya yang lambat, terkadang menjadi kendala ketika berurusan dengan stimulasi fisik dan motorik kasar. Badannya terbilang mungil. Ketika teman-teman seusianya sudah bisa mengayuh sepeda roda 2, ia masih berkutat menguatkan otot kakinya berlatih sepeda roda 4.

Berbeda dengan saudara kembarnya yang memiliki berat badan dan pertumbuhan fisik yang jauh lebih stabil. Saudara kembarnya bisa dengan mudah mengejar ketertinggalannya dan tumbuh dengan penuh percaya diri. Maka dari sinilah perjuangan dimulai dan terus berjalan hingga kini.

Fase Tumbuh Kembang Anak

Di setiap usianya, anak-anak memiliki fase tumbuh kembang yang berbeda-beda. Maka sifat alamiah yang berkembang pada anak-anak juga berbeda. Untuk anak usia 0-1 tahun, Fase yang berkembang adalah indera penglihatan, pendengaran dan peraba. Umumnya anak usia ini memiliki sifat “I am what I am given”. Aku adalah apa yang diberikan kepadaku. Anak usia 0-1 tahun jika banyak diberikan senyum, maka ia akan mudah dan cepat belajar tersenyum. Dia akan belajar sesuai dengan apa yang ia lihat.

Fase anak usia 1-3 tahun dan anak usia 3-6 tahun umumnya memiliki fase tumbuh kembang yang kurang lebih sama. Mereka akan bereksplorasi untuk merangsang pertumbuhan motorik kasarnya, motorik halus, kemampuan bicara bahasa dan personal sosial. Meski fase perkembangannya serupa, namun sifat yang dimiliki berbeda.

Anak usia 1-3 tahun memiliki sifat “I am what I will”, atau aku adalah apa yang aku inginkan. Apapun yang diinginkan, mereka akan melakukannya pantang menyerah. Mereka ingin jalan, meski harus jatuh bangun seribu kali, maka akan terus dilakukannya tanpa mengenal istilah “kapok”. Demikian juga ketika mereka ingin naik turun tangga. Meski yang lihat sudah capek, tapi si bocah tetap saja naik turun tanpa mengenal lelah.

Anak usia 3-6 tahun memiliki sifat “I am what I can imagine”. Anak usia ini akan berkembang mengikuti daya imaginasinya. Jika banyak meihat film atau bermain dengan unsur kekerasan, maka jangan heran kalau ia lebih pandai memukul dari pada menolong temannya. Demikian juga sebaliknya, ketika ia bermain pura-pura dengan banyak unsur kebaikan, maka bisa jadi ia tumbuh menjadi anak yang berbudi pekerti.

Sedangkan untuk anak usia 6-12 tahun, ia memiliki sifat “I am what I can learn”, aku adalah apa yang yang pelajari. Anak di usia ini adalah anak-anak yang akan berkembang perilaku dan kecerdasannya. Yang mereka butuhkan adalah tumbuh dengan perilaku baik dan cerdas. Agar ia tumbuh dengan perilaku baik dan cerdas, maka ia harus menuntaskan tumbuh kembang pada fase sebelumnya dengan optimal dan seimbang.

Keseimbangan Tumbuh Kembang Akal, Fisik dan Sosial

Apa yang terjadi pada bocah kunyil saya, salah satu penyebabnya adalah adanya ketidak seimbangan pertumbuhan fisiknya dengan akal dan sosialnya. Pertumbuhan fisik yang sedikit terlambat membuatnya tumbuh menjadi kurang percaya diri. Rasa kurang percaya diri itulah yang menyebabkan ia tidak dapat bersosialisasi dengan optimal. Akibatnya, ia menjadi sasaran empuk perundungan.

Tidak mudah memang, karena tumbuh kembang setiap anak memiliki tantangan yang berbeda-beda. Namun begitu sudah menjadi tugas orang tua untuk terus memantau dan memberikan stimulasi pada buah hatinya agar tumbuh kembang akal, fisik dan sosialnya bisa seimbang dan bersinergi dengan baik. Stimulasi yang dimaksud adalah kegiatan INTERAKTIF antara orang tua dengan anak agar anak mendapat pengalaman belajar untuk menguasai kemampuan tertentu.

Menurut Dr. dr. Ahmad Suryawan, SpA(K), narasumber dalam acara Parenting Club yang diadakan bersama Clozette, agar tumbuh kembang akal, fisik dan sosial anak dapat bersinergi dengan baik, orang tua harus melakukan pemantauan. Pemantauan sinergi akal, fisik dan sosial harus:

  • Rutin, untuk mengetahui perubahan kemampuan anak di setiap tahap usia.
  • Sejak Dini, karena kepintaran anak di usia awal akan membentuk kepintaran di usia selanjutnya.
  • Reguler atau kontinyu. Untuk anak usia 0-1 tahun regular setiap bulan. Berjenjang, anak usia 1-3 tahun bisa dilakukan setiap 3 bulan sekali dan anak usia 3-6 tahun cukup dilakukan 6 bulan sekali.
  • Dialami sehari-hari, tidak boleh memaksa dan harus dilakukan saat interaksi dengan anak. Pemantauan berjalan dengan alami dan mengalir.
  • Terdokumentasi agar tercatat rutin. Bisa dalam bentuk KIA, KMS atau catatan kesehatan anak.

Tujuan pemantauan tersebut agar orang tua tahu strategi stimulasi apa yang harus dilakukan agar tumbuh kembangnya makin optimal. Apabila terjadi sesuatu dan memerlukan konsultasi ahli, dokter atau tenaga ahli akan lebih mudah memberikan diagnosa dan solusinya. Apabila anak memiliki sinergi akal, fisik dan sosialnya baik maka anak dapat tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berperilaku baik.

KALKULATOR AFS

Memantau tumbuh kembang akal, fisik dan sosial anak ternyata bisa dilakukan dengan cara sederhana oleh orang tua sendiri. Dalam acara parenting club kemarin, kami diperkenalkan dengan KALKULATOR AFS, yaitu aplikasi yang dikreasi dan diverifikasi oleh Dr. Ahmad Suryawan, dr., SpA(K), Dokter Spesialis Anak-Konsultan tumbuh kembang pediatri sosial untuk membantu orang tua menilai tingkat sinergi akal, fisik dan sosial anak, usia 6 bulan hingga 7 tahun.

Cara menggunakannya pun cukup mudah. Orang tua cukup menjawab pertanyaan-pertanyaan yang direkomendasikan sesuai dengan jenjang umur anak. Dalam menjawab pertanyaan tersebut dibutuhkan kepekaan dari orang tua atau pengasuh dalam melihat dan mengamati tumbuh kembang si kecil.

Selesai semua pertanyaan terjawab orang tua dapat mengetahui hasil dari pemantauan sinergi akal, fisik dan sosial anak.

Ada juga rekomendasi stimulasi s yang dapat dilakukan secara rutin bersama si kecil. Stimulasi tersebut dapat dilakukan secara bertahap sesuai usia dan kemampuan si kecil.

Nah, kalau sudah ada tolok ukur untuk mengetahui sinergi perkembangan kecerdasan si kecil, orang tua jadi tahu kan apa yang harus dilakukan untuk stimulasi lanjutannya. Dengan adanya kalkulator AFS tersebut, bukan berarti lantas orang tua jadi absen, tidak ikut posyandu lagi yaa… Untuk Balita wajib tetap harus ke Posyandu untuk mengetahui tumbuh kembang si kecil di bawah pengawasan ahli. Jadi mam, makin mudah, semoga bisa bikin makin tenang yes? Semangat belajar terus bareng si kecil yaaa…!

Terima kasih Parentingclub.co.id dan Clozette untuk acara yang berfaedah dan menyenangkan. Acara yang membahas tumbuh kembang kemarin ditutup dengan belajar membuat socks doll. Senangnya bisa mendapat kesempatan untuk melakukan #KalkukulatorAFSReview yang spesial. Sungguh sangat bermanfaat.

Ketika Anakku Menjadi Korban Perundungan

Sudah beberapa hari salah satu bocah kunyilku pulang dengan wajah sendu. Bocahku yang satu ini memang lumayan spesial. Dia seperti mewarisi masa kecilku. Berbadan mungil, sifat introvert, tidak mudah bergaul dengan kecerdasan motorik yang pas-pasan. Maka bisa ditebak, ia ia menjadi sasaran empuk pelaku perundungan.

Ceritanya setiap jam pelajaran olah raga, ia selalu mendapat perlakuan yang semena-mena dari temannya. Didorong kesana kemari, dijauhi, diledek dan ditertawakan setiap melakukan gerakan. Sedih pasti ya… Karena saya tahu persis seperti apa rasanya.

Sebagai ibu, rasanya tentu pengen lompat saat itu juga ke sekolah demi melindungi si bocah mungil. Tapi tentu itu tak menyelesaikan masalah. Si bocah harus bisa menyelesaikan masalahnya. Si bocah harus tumbuh jauh lebih kuat.

Biasanya apa sih yang membuat seorang anak menjadi pelaku perundungan? Dari beberapa tulisan yang pernah saya baca pelaku perundungan biasanya melakukan untuk menarik perhatian teman atau guru. Ada juga pelaku perundungan yang merasa penting dan memegang kuasa sehingga cenderung mencari pengaruh dengan memegang kendali teman-temannya yang lebih inferior.

Selain itu anak-anak yang melakukan perundungan ada juga yang melakukannya karena pengaruh dari lingkungan sekitar atau dari TV. Bahkan beberapa pelaku perundungan melakukannya sebagai cara untuk mencari teman atau mencari pengakuan dari lingkungannya.

Biasanya mereka tidak banyak yang menyadari efek yang diterima oleh si korban. Korban bukan hanya mengalami rasa takut, tetapi juga rasa percaya dirinya akan terampas. Bahkan beberapa anak korban perundungan mengalami trauma emosional yang berkepanjangan. Pekerjaan panjang untuk orang tua, baik orang tua korban perundungan maupun pelaku.

Anak-anak yang mengalami perundungan biasanya menunjukkan beberapa perilaku yang tidak seperti kesehariannya. Saya masih beruntung, bocah kunyil saya masih sering curhat dan cerita tentang apa apa saja. Namun beberapa anak tidak bisa cerita ke orang tuanya. Namun bisa dilihat dari beberapa tanda di bawah ini:

  • Suli tidur. Anak yang menjadi korban perundungan dan mengalami trauma berat biasanya susah tidur atau sering mengalami mimpi buruk ketika tidur.
  • Sulit fokus di sekolah. Anak lebih mudah melamun dan susah menaruh perhatian.
  • Beberapa anak mencari banyak alasan agar bisa bolos atau menghindar bertemu pelaku perundungan.
  • Anak-anak yang biasanya suka melakukan sesuatu, jadi menjauhkan diri dari kegiatan favoritenya.
  • Anak tampak gelisah, lesu dan mudah putus asa.

Nah, kalau si bocah punya tanda-tanda di atas dan mengaku mengalami perundungan, apa sih yang harus dilakukan orang tua? Orang tua harus tetap tenang. Selow aja, buibu. Marah dan teriak-teriak di sekolah tidak akan menyelesaikan masalah kok. Bahkan mungkin bisa jadi malah merusak nama baik kita sendiri.

Berikut beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan orang tua ketika tahu anaknya mengalami perundungan:

  1. Mencari bantuan di sekolah. Jika anak-anak mengalami perundungan, ada baiknya orang tua berkonsultasi dengan pihak sekolah dan meminta memediasi anak-anak yang sedang bermasalah dengan temannya.
  2. Beberapa orang tua ada yang langsung berbicara dan menjadi mediator bagi anaknya dengan si pelaku perundungan. Namun perlu diingat, sebagai mediator harus berlaku seadil mungkin.
  3. Gali potensi anak untuk meningkatkan rasa percaya dirinya. Karena rasa percaya diri akan membuat anak menjadi lebih tangguh ketika mendapat perundungan.
  4. Bicara tentang pengalaman sendiri. Sebagai orang yang dulu juga sering menjadi korban perundungan, maka berbagi cerita kepada anak bisa menjadi motivasi si anak untuk lebih berani dalam mempertahankan dirinya.
  5. Bentuk persahabatan di luar sekolah. Dengan memiliki teman di luar lingkungan sekolah, anak akan merasa dirinya bisa diterima. Dengan lingkungan pergaulan yang lebih luas, anak juga akan lebih cerdas dalam bersosialisasi dan belajar mengatasi masalah di dalamnya.
  6. Terus pantau keadaan si anak dan caranya berinteraksi denga si pelaku.

Demikian buibu, menjadi tetap tenang, selow dan berfikir menggunakan kepala dan hati yang adem itu penting. Karena tindakan emosional tidak akan menyelesaikan masalah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya dalam membentuk lingkungan yang kondusif untuk anak-anak kita itu dibutuhkan peran serta kita juga. Jika ada sesuatu yang kurang nyaman, maka kita juga harus bisa membantu mengajari dan menjadi orang tua serta guru bagi semua teman-teman anak-anak kita.

It takes a village to raise a child

Dibutuhkan orang banyak untuk membesarkan seorang anak. Ya kali, kita manusia sudah fitrahnya sebagai mahluk sosial. Kita tidak bisa hidup sendiri. Apa yang kita lakukan, apa yang kita inginkan akan selalu berpengaruh pada orang lain. Demikian juga dalam mendidik anak, akan selalu ada pengaruh dari lingkungan. Karena itu mari ikut turun tangan membentuk lingkungan yang kondusif bagi anak-anak kita tumbuh. Sudah saatnya kita bangkit dan turun tangan!

Serunya Menghabiskan Akhir Pekan Di Funtopia Balloon Park


Setelah 12.345 kali pertanyaan tentang “Kapan aku bisa main ke Funtopia?” akhirnya hari sabtu kemarin tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Kami terbebas dari serbuan pertanyaan tentang Funtopia tetapi harus dibayar dengan badan yang remuk redam karena lelah dan hati yang bahagia.

Bermain di Funtopia adalah momen yang sangat dinanti oleh Kira dan Kara. Bagaimana tidak. Tiba-tiba Kira dan Kara tanpa sengaja melihat saya sedang mengintip instagram Funtopia Balloon Park dan bertanya, apa itu, di mana, di Surabaya ada gak, dan segala macam kalimat yang penuh rasa ingin tahu.

Maka tak heran ketika Sabtu kemarin kami akhirnya datang ke Funtopia Balloon Park ternyata anak-anak melesat tak terkendali penuh dengan rasa bahagia.Bermain dan berlompatan dari satu wahana ke wahana yang lain. Seolah tak pernah kehabisan baterai, mereka lupa makan, lupa jajan, bahkan lupa gadget.

Padahal biasanya hari sabtu dan minggu adalah hari screen-time Kira dan Kara. Duo kunyil itu hanya diperbolehkan bermain gawainya hanya pada akhir pekan. Anehnya ketika sibuk bermain di Funtopia mereka sama sekali tidak menagih bermain gawai. Bahkan ketika kami sampai di rumah pun, mereka mendadak menjadi anak yang super sweet, yang langsung cuci kaki dan tangan, gosok gigi, ganti baju lalu beranjak tidur tanpa harus duel mulut dengan bundanya.

Ada keajaiban apa di Funtopia hingga duo kunyil begitu manis dan menyenangkan?

Funtopia Balloon Park adalah wahana bermain balon-balon raksasa dengan aneka macam bentuk dan tema. Funtopia Balloon Park sebelumnya sudah ada di Jakarta dan Bandung. Sekarang saatnya nih Surabaya beruntung bisa ikut menikmati wahana-wahana balon raksasanya. Berkat TRAVELOKA dan Beyond Screen Production lah hingga Funtopia Balloon Park bisa hadir di Surabaya.

Bermain di Funtopia menyenangkan karena anak-anak bebas bermain, melompat, memanjat, dan berseluncur tanpa rasa was-was. Permainan ini juga bikin anak-anak lupa waktu, lupa makan bahkan lupa gawainya. Karena ada 8 balon raksasa yang akan menemani anak-anak bermain.

  • Mistery Maze

  • Traveloka Track
  • Old Octopus

  • Crown Castle
  • Candy Cane

  • Bunny Boo
  • Catterpilar Cave

  • Mighty Mushroom

 

Nah, ada yang anaknya susah pisah dengan gawainya kah? Coba diajakin main ke Funtopia deh. Tapi jangan dibiarkan main sendiri, sementara orang tuanya sibuk selfie. Orang tuanya juga ikutan lompat-lompatan dan menyusuri labirin balon raksasa bersama anak-anak. Jadi anak merasa ada teman bermain yang seru juga. Iya dong, kalau mau anaknya pisah sama gawainya, orang tuanya juga musti siap pisah sama gawainya juga.

Balon raksasa ini bukan hanya bisa dinikmati oleh anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Jangan takut, karena wahana ini sudah dirancang sedemikan rupa dengan mempertimbangkan faktor keamanan dan kekuatan sehingga aman juga untuk orang dewasa.

Kira dan Kara bermain di Funtopia mulai dari pukul 3 sore dan baru beranjak pulang jam 8 malam. Ternyata tak terasa 5 jam mereka asik bermain melompat, berlari, memanjat dan menyusuri terowongan maupun labirin berkali-kali, berulang-ulang. Kalau lelah bisa juga istirahat di semacam gazebo yang sudah ada penjual makanan dan minuman yang siap menghilangkan dahaga dan lapar. Mulai dari nasi goreng, mie pangsit, hingga waffle aneka rasa tersedia. Minuman mulai dari es teh sampai jus juga lengkap. Tak perlu takut kelaparan.

Berhubung wahana bermain Funtopia merupakan balon raksasa yang berisi udara, maka anak-anak seperti berada di atas trampoline raksasa dengan aneka bentuk dan permainan di dalamnya. Anak-anak bisa bermain perosotan, mandi balok yang terbuat dari gabus, atau meniti labirin, menyusuri terowongan maupun memanjat jamur raksasa. Permainan ini akan mengasah motorik kasar anak.

 

Anak yang motorik kasarnya terstimulasi dengan baik akan membawa banyak manfaat. Berikut beberapa manfaat menstimulasi motorik kasar anak:

  • Anak dapat melatih pernafasan dan menjaga kesehatan jantung. Seperti layaknya berolahraga, anak-anak yang berlari, melompat di atas balon raksasa ini akan dapat melatih kesehatan jantung dan pernafasan.
  • Melancarkan sirkulasi darah. Anak yang aktif bergerak akan jarang mengeluh badannya lelah. Biasanya mereka akan jauh lebih lincah dan seolah punya cadangan energi yang tak ada habisnya. Hal tersebut dikarenakan aliran sirkulasi darah yang lancar, sehingga tubuh pun tidak mudah sakit.
  • Membentuk postur tubuh yang lebih baik. Anak yang rajin olah raga dan aktif bergerak akan memiliki postur tubuh yang lebih tegap dan lebih baik. Tulang-tulangnya lebih banyak terlatih sehingga kesehatan tulang lebih terjaga. Pertumbuhannya pun jadi lebih maksimal.
  • Anak yang terstimulasi motorik kasarnya dengan baik akan memiliki kemampuan koordinasi tubuh yang lebih baik juga. Jika koordinasi tubuhnya baik, maka keseimbangan dan refleksnya pun juga lebih baik. Karena itu penting mengajak anak aktif bergerak.
  • Anak-anak yang memiliki koordinasi tubuh yang baik dan memiliki kemampuan motorik kasar yang lebih baik, akan membuat mereka jauh lebih percaya diri. Tentu saja menjadi bagus untuk membangun kecerdasan sosial anak.

Setelah tahu manfaat bermain dan aktif bergerak itu banyak sekali, tak perlu takut dong ya kalau anak-anak banyak berkeringat di luar. Karena itu yuk, mumpung masih ada sarana bergerak aktif yang menyenangkan bagi anak dan orang tua, saatnya mampir ke Funtopia Balloon Park.

Kalau mau lebih murah, tiket masuk bisa dibeli di www.traveloka.com. Kalau gak keburu bisa juga beli di tempat acara, tapi gak ada harga diskon. Yang perlu dipersiapkan untuk mengajak anak bermain di Funtopia Balloon Park diantaranya:

  • Kaos kaki (wajib ya, buibu…)
  • Pakai baju yang nyaman, mudah menyerap keringat dan memudahkan anak bergerak bebas.
  • Baju ganti. Surabaya panas dan mudah sekali berkeringat, jadi siapkan baju ganti untuk anak-anak.
  • Payung/topi. Again, Surabaya lagi super panas. Kalau main sore atau pagi, ada baiknya siapin payung/topi untuk menemani anak-anak bermain.
  • Sunblock. kalau main di pagi atau sore hari, wajib ya… maklum Surabaya mataharinya ada 5.

Biar makin yakin, boleh lho simak keseruan Kira dan Kara bermain di Funtopia di video youtube di bawah. Lalu kisah petualangan kami hari itu berakhir dengan dua anak yang gak mau pulang. Sementara kami tarik nafas dulu, silahkan lho kalau mau langsung pesen tiketnya. Enjoy your time!

 

Kira dan Mobil Hotwheels : Tentang Pelajaran Pantang Menyerah

 

Sudah lama Kira menginginkan mobil Hotwheels. Mobil-mobilan yang bagi kami terbilang mahal untuk ukuran mainan. Mengingat kualitas mainannya memang bagus, maka layak juga harganya sedikit mahal. Iyalah, untuk saya yang terbiasa membeli mainan 5000an, kalau harus membelikan mainan 30.000 ya lumayan juga. Apalagi kalau si bocah maunya koleksi. Bisa bikin mules kantong bundanya.

Nah, untuk mengakomodir keinginan tersebut, saya meminta Kira mengumpulkan uang sakunya. Setiap hari senin dan selasa, Kira mendapat jatah uang saku 2000. Jatah uang sakunya memang hanya seminggu dua kali, sesuai tingkat sekolahnya. Nanti naik ke kelas tiga, berhak menerima uang saku seminggu 3 kali, dan seterusnya.

Untuk mengumpulkan uang 30.000 itu berarti harus sabar menanti hingga 7 minggu, atau sekitar 2 bulan. Itupun jika dia tidak tergoda membeli jajanan di sekolahnya. You  may call me, emak kejam. Tapi begitulah buat saya proses yang harus dilewati.

Pada perjalanan waktu, ternyata ada kejadian yang membuat saya takjub. Ketika uangnya sudah terkumpul 12.000 ia melihat akung mau ke rumah sakit tanpa memakai sandal di kursi rodanya. Ketika Kira bertanya, Saat itu akung menjawab kalau sandalnya rusak. Tanpa diduga, Kira dan Kara memberikan semua hasil mengumpulkan uang sakunya untuk membeli sandalnya akung. Kata mereka, kasihan akung kan sudah tidak bekerja, tidak punya uang saku, jadi tidak punya uang.

Mendengar itu, ayahnya yang sudah lama gatel membelikan hotwheels dan barbie, pulang kantor langsung bawa hotwheels. Runtuh juga pertahanannya mendengar cerita anak-anaknya. Apa yang kami lakukan bukan sekedar tentang seberapa mahal harga mainan, tetapi tentang melatih bocah dalam meraih apa yang mereka inginkan.

Kira dan Kara tumbuh di lingkungan yang bagi kami sangat kondusif. Jika meminta sesuatu, dan mereka tahu ayah atau bundanya tak mampu, maka ada uti, akung atau om/tantenya yang siap membantu. Untuk itulah, terkadang fight spirit yang mereka miliki kurang terasah. Maka dari itu tega tak tega, suka tak suka, kami memanfaatkan momen hotwheels tersebut untuk merangsang fight spirit mereka.

Ternyata dari perjalanan mengumpulkan uang tersebut, kami belajar banyak hal. Bahwa menahan diri itu bukan hanya hal yang harus dipelajari anak-anak, tetapi juga orang tua. Di saat kami ada rezeki yang dapat kami belikan mainan apapun untuk Kira dan Kara, rasanya saat itu juga ingin melompat ke mall untuk membawa pulang bingkisan. Namun kini kami belajar untuk menahan diri. Bukan karena kami tidak sayang, tapi kami ingin membuat tantangan-tantangan yang dapat di lalui duo kunyil demi melatih kemampuannya berjuang mendapatkan sesuatu.

Seperti kita tahu terkadang kondisi di dunia bisa saja tidak seideal yang kita inginkan. Tentu kita tidak ingin bocah tiba-tiba menghadapi masalah lantas menyerah. No. Jangan sampai!

I won’t give up, no I won’t give in
Til I reach the end and then I’ll start again
No I won’t leave, I wanna try everything
I wanna try even though I could fail

Seperti lagu soundtrack Zootopia yang sering kami nyanyikan sama-sama, kami ingin Kira dan Kara pun tidak lelah untuk selalu berdiri lagi ketika jatuh.

Buibu pasti ngeri kan kalau dengar anak-anak masih usia belasan tahun sudah bunuh diri. Dengan tipikal bocah yang kadang penuh drama, maka mumpung masih ada di tangan kami, maka kami ciptakanlah tantangan-tantangan yang ketika melihat mereka jatuh kami masih mampu untuk memberikan semangat dan dorongan untuk berdiri lagi. Harapannya tentu suatu saat ketika kami sudah tak lagi mampu mendampingi, mereka telah memiliki bekal untuk tak pernah menyerah.

Nah, berikut hasil rangkuman perjalanan hati bersama Kira, Kara dan tantangan HOTWHEELS beberapa waktu yang lalu. Ada beberapa hal yang kami lakukan untuk membentuk anak memiliki semangat pantang menyerah:

  • Memberikan tantangan-tantangan kecil sesuai usia dan kemampuannya. Tantangan ini akan meningkat seiring usianya bertambah. Tantangan yang diciptakan orang tua tentu akan berada dalam ambang batas pengawasan orang tua yang risikonya dapat ditoleransi. Sehingga ketika mereka jatuh orang tua dapat memberikan semangat dan motifasi untuk mereka berdiri lagi.

 

  • Mengupas setiap masalah yang mereka temui dan mereka alami bersama orang-orang sekitarnya di luar lingkungan keluarga. Terkadang mereka bermasalah dengan teman, guru, atau orang lain yang mereka temui yang bukan dari keluarganya. Saatnya orang tua menahan diri untuk ikut campur, dan memberikan kesempatan untuk mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Jika ingin memberikan bantuan, berikan masukan atau saran yang dapat membantu mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Namun tetap biarkan anak-anak menghadapinya dengan kemampuannya. Terkadang mereka memiliki daya improvisasi yang tidak kita duga dalam menyelesaikan masalahnya.

 

  • Ketika anak-anak pulang menangis, mengeluh, jangan lantas memarahi atau memberikan stempel “penakut, cemen, lemah” atau semacamnya. Ketika mengalami saat jatuh, wajar kok dilampiaskan dengan rasa sedih, marah, menangis atau teriak. Bagi kami yang penting setelah itu anak-anak dapat kembali tegak berdiri dan siap menghadapi masalahnya lagi. Memang dibutuhkan kekuatan hati seluas samudra. Tapi bukankah di saat seperti ini lah kita pun juga tengah belajar meluaskan hati. Biarkan mereka menumpahkan isi hatinya, setelah itu beri motivasi untuk berdiri lagi.

 

  • Beri mereka pengertian bahwa kadang apa yang kita inginkan tidak bisa semua kita dapatkan. Bahkan ada beberapa keinginan yang harus didapatkan dengan bekerja keras dan perjuangan. Beri contoh perjuangan-perjuangan yang telah dilakukan orang tua atau nenek/kakeknya dalam mendapatkan sesuatu. Bisa jadi cerita dan kisah nyata menjadi motivasi yang akan selalu mereka ingat.

 

  • Tak lupa landasi anak-anak dengan iman yang kuat. Ajarkan tentang doa dan kisah agama yang bisa menjaga kekuatan hati anak-anak. Bagaimanapun juga Tuhan lah tempat berlindung dan meminta yang paling bisa diandalkan di saat terjatuh. Bukankah Tuhan yang Maha Kuat?

Bagaimana dengan buibu? Adakah pengalaman memberikan tantangan pada anak-anak dan mendapat suatu pelajaran bersama mereka? Kalau ada yang punya tips dan ilmu serupa, dengan senang hati bisa dibagi di kolom komentar. Siapa tahu ilmunya bisa menjadi bekal jariyah yang bisa terus dibaca bahkan di saat kita sudah tiada. Selamat berbagi!

Ajak Anak Bermain di Wahana Balon Raksasa Ala Funtopia

AJAK ANAK BERMAIN DI WAHANA BALON RAKSASA ALA FUNTOPIA – Beberapa waktu lalu, Kira dan Kara mengeluh jenuh. Segala macam buku dibongkar dan dibolak-balik. Seperti layaknya anak yang sedang bosan, mereka hanya melihat sekilas buku-buku yang berserakan, tanpa dibaca. Melihat gelagat yang tidak sehat, saya pun meminta ayahnya untuk mengajak mereka bermain di luar rumah.

Biasanya kita selalu menyempatkan untuk bermain di taman atau area outdoor hanya untuk menyalurkan energi para bocah yang kadang berlebih. Berhubung beberapa minggu ini kita sedang sama-sama ribet dengan project kerjaan, akibatnya anak-anak lebih banyak hanya berdiam diri di dalam rumah dan menghabiskan waktu bersama mainannya.

Setelah sejenak mereka diajak berkeliling naik sepeda, moodnya kembali membaik. Sebenarnya intinya para bocah itu terkadang hanya butuh menghabiskan energinya. Masalahnya kadang orang tua kurang perhatian dan terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Lego, buku, puzzle, dan permainan lain memang bagus untuk anak-anak. Namun tidak bisa dipungkiri juga kalau ada kalanya para bocah butuh lompat-lompat, panjat-panjat atau bebas berlarian.
Anak-anak yang tidak leluasa menggunakan energinya untuk kegiatan yang aktif dan positif, akan mudah lesu dan merasa bosan. Ujung-ujungnya main gadget lagi-gadget lagi. Seperti kata penjelasan Mia Lukmanto, CEO dan Founder Beyond Screen Production, ”Saat ini, tren penggunaan gadget sudah tidak memandang usia dan anak usia prasekolah sudah paham teknologi. Artinya, kreativitas para orangtua dalam menyediakan kegiatan pengganti screen time anak sangat dibutuhkan, karena aktivitas fisik sangat berperan dalam menstimulasi kecerdasan anak. Otak dan daya tahan tubuh saling bergantung dan bekerja timbal balik, sehingga pemberian stimulasi menjadi sama pentingnya dengan pemberian nutrisi”.

Lebih Christian Suwarna, Senior Vice President Business Development Traveloka menjelaskan,

“Arena permainan outdoor dengan ragam hiburan yang bisa dinikmati seluruh keluarga sepanjang hari merupakan sebuah konsep yang langka untuk kehidupan perkotaan saat ini.”

Bener banget yaa… gak heran kalau anak-anak jadi lebih mudah bosan kalau orang tuanya tidak ikut turun tangan untuk memberikan stimulasi dan mengarahkan energinya untuk kegiatan yang aktif dan positif.

Pada tahu gak kalau rasa bosan inilah yang biasanya memicu anak melakukan tindakan-tindakan negatif untuk mencari tantangan dan menggunakan energinya. Itu kenapa, penting buat orang tua memiliki jeda sejenak ketika anak sudah mengeluh dan nampak jenuh. Karena itu Traveloka bersama Beyond Screen Production berkomitmen membawa ragam alternatif hiburan yang menyenangkan untuk anak, yang sekaligus bisa menjadi sarana stimulasi untuk mengasah hobi, keterampilan dan kreativitas mereka. Hingga dalam waktu dekat hadirlah FUNTOPIA BALLOON PARK di Surabaya. Hoorreee…

APA ITU FUNTOPIA, KAPAN DAN DIMANA? Nah kalau ada yang sedang mati ide melakukan kegiatan luar rumah, boleh dicoba nih untuk datang ke FUNTOPIA Balloon Park. Funtopia Balloon Park adalah arena bermain yang berisi wahana balon-balon raksasa yang bisa digunakan untuk bermain, melompat, memanjat, berlari dengan aman untuk anak-anak.

Pas banget kaaan… Kebetulan kami sedang sama-sama bosan naik sepeda mulu tiap sore, jadi akhir pekan nanti kita putuskan untuk bersenang-senang melepaskan adrenalin di Funtopia Balloon Park. Kalau biasanya susah sekali mengajak ayah untuk keluar rumah, kali ini kita sukses iming-iming si Bapak untuk ikut bermain di wahana balon raksasa ini.

Funtopia Balloon Park ini sudah dirancang sedemikian rupa dengan mempertimbangkan kekuatan dan keamanan sehingga bisa digunakan untuk bukan hanya anak-anak tetapi juga remaja dan orang dewasa. Seperti misalnya arena MISTERY MAZE adalah salah satu wahana yang paling tinggi mencapai 13 meter atau setara gedung lantai 3 yang bisa digunakan orang tua untuk menemani anak-anaknya bermain mengelilingi labirin balon raksasa tersebut. Seru kan? Seru dong pasti!

Selain Mistery Maze ada apa lagi? Banyaaak kak. Berikut beberapa diantaranya:

  • Traveloka Track, merupakan perosotan raksasa
  • Candy cane adalah balon raksasa yang menyerupai dunia permen
  • Caterpillar cave, di mana anak-anak bisa menelusuri terowongan besar yang berbentuk ulat
  • Old Octopus adalah balon raksasa yang berbentuk gurita dan tentakelnya bisa digunakan sebagai perosotan.
  • Crown Castle Yang pasti disukai para princess dan pangeran cilik. Sebuah kastil raksasa dari balon yang akan memenuhi fantasi anak-anak tentang dunia kerajaan.
  • Mighty Mushroom, jamur raksasa yang aman dipanjat oleh anak-anak.
  • Tak ketinggalan Bunny Boo si kelinci raksasa berwajah imut.

Funtopia Balloon Park akan diadakan di PENINSULA – Bukit Darmo Golf Surabaya mulai tanggal 3 November sampai 2 Desember 2018. Anak-anak bisa menikmati wahana balon raksasa tersebut setiap hari sabtu dan minggu, mulai pukul 07.00 sampai pukul 22.00. Funtopia tidak hanya menyediakan wahana bermain balon raksasa, tetapi juga food court agar pengunjung tidak kelaparan atau kehausan setelah lelah bermain. Nantinya akan ada juga berbagai kompetisi yang bisa diikuti, diantaranya jingle dance, jingle song, fun visit, fun drawing, fun story dan masih banyak lagi.


Tiket bermain Funtopia Balloon Park bisa dibeli melalui www.traveloka.com maupun datang langsung ke arena bermainnya di Bukit Darmo Golf. Kalau mau dapat harga early bird, bisa beli melalui TRAVELOKA dengan harga Rp.65.000 (enam puluh lima ribu rupiah) untuk tiket anak-anak usia 2 – 16 tahun dan Rp.40.000 (empat puluh ribu rupiah) untuk orang dewasa usia 17 tahun ke atas. Tiket pre sale atau early bird sudah bisa dibeli sejak tanggal 23 oktober hingga 2 november 2018. Masih ada waktu nih. Kemarin saya beli bahkan dapat harga promo tambahan melalui aplikasi Traveloka di smartphone. Harga yang banyak diskonnya begini emang favorite para ibu yaa…

Untuk tiket harga normal Rp 80.000 (delapan puluh ribu rupiah) untuk anak-anak usia 2-16 tahun dan Rp 40.000 (empat puluh ribu rupiah) untuk orang dewasa. Mayan banget kan diskonnya kalau bisa beli early bird. Buruan mumpung masih ada waktu. Cara belinya bisa dilihat di bawah yaa…

1.Klik aplikasi Traveloka dan pilih Traveloka Aktivitas & Rekreasi, lalu klik Funtopia Balloon Park – Surabaya

 

2. Klik jumlah tiket yang akan dibeli, nanti akan kelihatan jumlah yang harus dibayar.

 

3. Pilih tanggal kunjungan yang telah direncanakan.

 

4. Masukkan data kontak pemesan tiket sesuai isian kolom

 

5. Isi kolom data pemegang tiket sesuai dengan kartu identitas yang dimiliki.

 

6. Selanjutkan akan terlihat jumlah yang harus dibayar, kemudian pilih metode pembayaran.

 

7. Setelah dilakukan pembayaran, maka kita akan menerima e-voucher yang akan digunakan sebagai tiket masuk ke wahana Funtopia Balloon Park.

 

Jadi siapa yang akan ikut seru-seruan di Funtopia bulan depan? Jangan sampai kelewatan yaaa… Btw, jangan lupa kasih ucapan terima kasih juga buat Beyond Screen Production yang sudah bersusah payah bersama timnya dan Traveloka mewujudkan mimpi para bocah bermain di Funtopia Balloon Park seperti kota-kota lain.

    

Rokok dan Stunting, Apa Hubungannya?

“Mbak, anakmu badannya awet kecil ya?” sering dengar pertanyaan semacam itu? Untuk ibu-ibu yang anaknya awet mungil seperti saya, pertanyaan seperti itu bukan sekali atau dua kali mampir ke telinga. Entah itu sebagai pujian atau sebagai ungkapan rasa miris, saya tidak tahu pasti. Yang jelas memang Kira dan Kara badannya selalu langsing.

Pernyataan tersebut, sering diterima juga oleh ibu saya sejak jaman rikiplik dulu. Ketika saya masih bayi, saya pun memiliki badan awet mungil. Bahkan kini berat badan saya setelah melahirkan dua anak, tidak jauh berbeda dengan berat badan saya ketika masih SMA 18 tahun yang lalu. Senang atau miris? Silahkan renungkan sendiri. Yang jelas porsi makan saya biasa saja. Saya makan tiga kali sehari dengan lauk standard masyarakat Indonesia, ya tempe, ayam, telor. Bahkan tak jarang saya menghabiskan sisa makanan di piring anak-anak.

Lantas, di benak saya sempat tercetus, apakah anak saya termasuk stunting? Apa itu stunting sebenarnya? Dari jurnal online yang saya baca dan menurut WHO, stunting adalah gangguan pertumbuhan yang membuat anak tumbuh lebih kecil dan lebih pendek dari anak seusianya yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi pada anak. Anak yang memiliki gangguan pertumbuhan akan berpengaruh pada kondisi kesehatan, pertumbuhan mental dan kemampuan belajar anak. Dengan demikian, anak tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.

Konsumsi Rokok Orang Tua sumbang Peningkatan Stunting Pada Anak

Buibu, tahu gak kalau ternyata faktor genetik bukan satu-satunya penyebab anak stunting. Faktor genetik hanya menyumbang 20% anak tumbuh lebih kecil dari pada anak seusianya. Ada faktor lain yang ikut berperan serta dalam menyumbang peningkatan angka stunting pada anak. Salah satunya adalah konsumsi rokok orang tua.

Saya cukup tercengang ketika mendengar talkshow #RuangPublikKBR serial #RokokHarusMahal edisi ke-7 bersama narasumber Dr. Bernie Endyarni Medise,SpAK MPH Ketua Satuan Tugas Remaja IDAI dan Teguh Dartanto, PhD Ketua Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ilmu Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Talkshow yang mengangkat tema “Rokok Murah Penyebab Stunting” yang disiarkan hari rabu, 25 Juli 2018 pukul 09.00 di seluruh jaringan radio KBR tersebut mengungkap bahwa berdasarkan hasil penelitian, anak-anak yang memiliki orang tua perokok kronis, tumbuh dan memiliki berat badan 1,5kg lebih rendah dari pada anak-anak yang orang tuanya tidak merokok. Demikian juga dengan tinggi badannya tumbuh lebih pendek dari anak-anak yang tidak memiliki orang tua perokok.

Apa penyebabnya?

Orang tua perokok akan menggunakan sebagian anggaran belanjanya untuk memenuhi kebutuhan rokoknya. Hal yang sama terjadi juga pada masyarakat miskin atau berpenghasilan pas-pas’an. Karena harga rokok yang terjangkau dan murah, maka banyak orang tua yang lebih mengutamakan kebutuhan rokok. Hal tersebut berdampak pada menurunnya daya beli bahan makanan lain yang sarat gizi seperti telor, ayam, daging, ikan maupun susu.

Dr.Bernie lebih lanjut menjelaskan bahwa stunting bukan hanya berpengaruh pada pertumbuhan berat badan dan tinggi badan saja, namun juga berpengaruh pada pertumbuhan otak anak. Untuk orang tua yang merokok perlu waspada ketika si ibu dalam kondisi hamil. Karena pertumbuhan otak yang paling pesat, terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK), yang mulai dihitung sejak dua garis merah muncul di alat tes kehamilan.

Jadi, secara garis besar, isu rokok tersebut bukan hanya berpengaruh pada kondisi ekonomi keluarga, maupun kondisi kesehatan perokok dan orang sekitarnya. Ternyata isu rokok juga berpengaruh pada pertumbuhan anak-anak bahkan lebih luas hingga perkembangan otak mereka. Kalau sudah begini, miris tidak?

Yang mungkin tidak disadari si perokok maupun keluarga di sekitarnya adalah paparan asap rokok dapat bertahan hingga 3 sampai 4 jam bahkan setelah asap rokok hilang. Asap rokok yang mengandung banyak bahan kimia tersebut menjadi salah satu penyebab anak mudah sakit, terutama gangguan pada pernafasan dan penyerapan gizi. Lebih sedih lagi ternyata informasi tersebut tidak menyebar merata ke seluruh lapisan masyarakat, seperti sebaran asap rokok.

Rokok Memang Harus Mahal

Meski memiliki seorang suami yang perokok, saya setuju jika rokok harus mahal. Kenapa? Selain agar orang tua pada keluarga miskin dapat berpikir ulang dalam membeli rokok dan lebih mengutamakan gizi anaknya, juga agar rokok tidak mudah dibeli oleh anak-anak usia sekolah. Sudah tahukan kalau di Indonesia rokok bisa dibeli ketengan atau perbiji? Rokok ketengan yang harganya terjangkau oleh uang saku anak-anak sekolah inilah yang menjadi salah satu faktor kenapa anak sekolah sudah mulai mengenal dan mencoba rokok.

Masih ingat kasus anak balita yang fasih merokok? Atau masih ingat teman-teman jaman sekolah yang mencuri waktu dengan merokok di dalam kamar mandi sekolah atau dibalik tembok-tembok rahasia di lingkungan sekolah. Sedih tidak kalau anak-anak mengenal rokok bukan dari keluarganya atau lingkungan rumah, tapi justru dari sekolah, tempat di mana seharusnya mereka menimba ilmu dan tumbuh menjadi anak-anak yang sehat jasmani dan mental. Sedih kan ya?

Kalau kamu penasaran dengan ulasan tentang #RokokHarusMahal, masih bisa streaming di seluruh jaringan radio KBR. Atau kalau teman-teman setuju dengan kampanye #RokokHarusMahal, bisa ikut menandatangani petisi di www.change.org/rokokharusmahal.

Mari menjadi bagian dari pertumbuhan anak-anak Indonesia yang lebih sehat dan cemerlang. Sekecil apapun peran serta kita, Insyaallah bermanfaat untuk generasi mendatang. Selamat berkarya!

PUSPARAGAM ANAK INDONESIA: Ajang Unjuk Gigi Anak-Anak Indonesia Menyuarakan Mimpi

Temu Anak Peduli “Pusparagam Anak Indonesia” menjadi salah satu peringatan Hari Anak Nasional yang tidak akan saya lupakan. Di acara ini saya bertemu dengan banyak anak-anak dari berbagai daerah di seluruh pelosok Indonesia dengan berbagai macam karakter dan budaya. Rangkaian kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut, mengajak anak-anak untuk berani menyuarakan mimpi dan harapan mereka. Selama tiga hari anak-anak tersebut diajak untuk belajar tentang banyak hal, bermain, berbagi cerita dan bertemu dengan banyak teman baru.

Anak-anak yang rata-rata berusia antara 9 hingga 18 tahun tersebut bertemu untuk bertukar pikiran mengenai berbagai tema kebangsaan seperti gotong royong; literasi; kekerasan dan perundungan; toleransi; kepemimpinan; dan kewirausahaan. Di hari ketiga tersebut mereka menampilkan banyak hasil karya dan unjuk penampilan menyuarakan aspirasi, mimpi dan harapan mereka. Pertunjukan mulai dari flash mob, drama, karya literasi, hingga orasi tentang harapan-harapan mereka untuk Indonesia membuat saya tercengang. Anak-anak yang sepertinya setiap hari hanya bercanda, bermain, tertawa, dan bertingkah sesuka hatinya, ternyata memiliki buah pemikiran yang luar biasa hebat. Itu terbukti dari karya-karya mereka tentang Indonesia di masa mendatang.

Tak dapat dipungkiri, kelak di masa yang akan datang, merekalah pemegang tongkat estafet pemimpin-pemimpin Indonesia selanjutnya. Di tangan mereka wujud Indonesia akan bersolek seperti apa. Dengan anak-anak yang berani bermimpi dan memiliki harapan, maka bisa jadi wujud Indonesia pun semakin cerah dan membanggakan.

Anak-anak memang sudah selayaknya dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal dan mendapat dukungan dengan maksimal. Namun sayangnya tak selalu kondisi ideal bisa didapat oleh mereka. Banyak tantangan yang harus dihadapi anak-anak termasuk pengasuhan yang kurang memadai maupun kondisi miskin dan terpencil. Hal tersebut sering kali menjadi penyebab anak tidak memiliki identitas resmi. Bahkan banyak dari mereka yang jauh dari layanan pendidikan dan kesehatan yang memadai. Tak jarang kondisi ekonomi membawa mereka pada kegiatan yang eksploitatif, kenakalan remaja hingga pernikahan dini.

Erna Irnawati, Program Officer Program Peduli untuk Pilar Remaja dan Anak-anak Rentan mengatakan, Program Peduli fokus bekerja untuk anak-anak yang menjadi korban eksploitasi seksual komersial, anak-anak yang berhadapan dengan hukum, dan anak-anak pekerja migran. Program Peduli melihat di tengah keterbatasan dan kondisinya, anak-anak ini juga mampu bangkit dan menggapai mimpinya ketika mendapatkan akses, dukungan yang tepat, serta tercipta ruang aman bagi mereka. Mereka juga memiliki mimpi dan dapat mewujudkan cita-citanya serta berkontribusi untuk pembangunan Indonesia.

Yang tak kalah menarik dari acara temu anak peduli ini adalah, mulai dari pembawa acara, pengisi acara, hingga pengendali acara semua dilakukan oleh anak-anak. Di perayaan hari anak tersebut, mereka merayakan acara, mimpi, harapan dan aspirasinya. Di perayaan hari anak tersebut mereka bebas berbicara tentang kebangsaan dan masa depan. Hari itu mereka setara dan semartabat dengan kawan-kawan mereka di tempat lain dengan fasilitas yang lebih lengkap dan mumpuni. Hari itu mereka makan, menikmati tidur, bermain, seperti layaknya sebaya mereka yang memiliki kondisi lebih baik.

Sudah saatnya seluruh anak Indonesia Setara dan Semartabat. Keadilan sosial harus terwujud untuk seluruh anak-anak di Indonesia, baik yang di kota maupun di pelosok daerah, baik yang memiliki kondisi ekonomi layak maupun kurang layak. Semua berhak mendapat pendidikan yang setara, berhak mendapat fasilitas kesehatan yang sama rata, juga mendapat ruang yang sama untuk membicarakan ide dan gagasan mereka. Bukankah mereka sama-sama semartabat? Sama-sama anak-anak Indonesia!

Citi Parenting: Mendidik Anak Menjadi Generasi Cerdas Digital


Suatu hari di sebuah restoran cepat saji, saya melihat seorang ibu yang meminta anaknya untuk duduk diam dan menyodorkan gawainya. Saya melihat si ibu sedang asik ngobrol dan bercengkerama, sepertinya dengan beberapa teman lama. Anak yang tadinya rewel karena bosan dan tidak diizinkan bermain di playground, lantas duduk diam, khusyuk menghadap gawainya. Ketika lewat untuk cuci tangan, saya sengaja melirik permainan yang sedang asik ia mainkan. Ternyata itu membuat debaran detak jantung saya meningkat drastis, karena ternyata permainan yang ia mainkan adalah jenis permainan yang bukan untuk usianya.

Tahu kah mama/papa, bahwa permainan yang ada di aplikasi gawai itu ada rentang usianya? Ada banyak sekali permainan yang melibatkan tindak kekerasan dan kejahatan seksual dalam ceritanya. Tidak semua permainan dalam gawai cocok untuk anak-anak. Saya melihat si anak yang berusia sekitar 6 tahun tersebut bermain permainan balap mobil yang banyak berisi adegan kekerasan dan misi-misi yang kurang pantas untuk anak-anak.

Dari kejadian tersebut saya sempat merenung, sebenarnya banyak orang tua yang tahu dan pernah mendengar akan bahaya siber. Namun terkadang orang tua tidak tahu bagaimana cara mengalihkan anak-anak dari gawainya. Bahkan tak jarang justru orang tua sendiri yang menyodorkan gawai tersebut agar anaknya bisa duduk diam dan tidak rewel.

 

Membuat orang tua sadar sepenuhnya tentang bahaya siber tersebut dibutuhkan peran banyak pihak. Namun sayangnya seminar-seminar yang menyajikan materi tersebut terkadang tak terjangkau oleh khalayak kebanyakan. Mahalnya harga tiket masuk dan tingginya biaya yang dibutuhkan membuat seminar-seminar pengasuhan hanya bisa dijangkau oleh kalangan berdompet tebal. Tidak adakah uluran tangan pihak-pihak yang bisa membantu mengedukasi orang tua tentang dunia digital yang sudah sangat cepat berjalan?

Rupanya Citibank dan Prestasi Junior Indonesia (PJI) memiliki kegelisahan yang serupa. Melalui kegiatan CITI PEKA (Citibank Peduli dan Berkarya), Citibank Indonesia bersama PJI mengajak orang tua siswa dari sekolah dasar negeri Ketintang I untuk belajar menjadi orang tua cerdas dalam mendidik anak generasi digital. Melalui CITI PARENTING TALKSHOW Citibank menghadirkan psikolog kenamaan ROSLINA VERAULI, M.Psi, Psi. Dalam talkshow tersebut, para orang tua siswa diajak membuka mata tentang betapa mengerikannya bahaya dunia siber. Dari dunia siber, 71% anak-anak usia 8-12 berisiko terpapar bahaya seperti perundungan dunia maya, kecanduan video, bahkan hingga pelecehan seksual.

Orang tua juga diajak mensiasati dengan memberikan kegiatan-kegiatan positif yang bisa mengembangkan bakat anak dan mengasah kemampuan anak. Menghasilkan anak yang cerdas dan berprestasi dibutuhkan kerja keras orang tua dan banyak pihak. Menghindari bahaya dunia siber tidak bisa hanya dengan menutup semua akses anak-anak terhadap dunia digital. Bagaimanapun juga banyak manfaat positif yang bisa dipetik dari perkembangan teknologi. Orang tua juga diajarkan bagaimana mensiasati waktu untuk memenuhi kebutuhan anak akan dunia digital dengan pendampingan dan bimbingan untuk meminimilsir paparan bahaya siber.

 

Dengan positif parenting, bahaya siber pada anak-anak dapat diminimalkan. Positif parenting menekankan pola komunikasi yang positif antara orang tua dengan anak. Pola komunikasi positif menghindari pertanyaan-pertanyaan yang membuat anak tidak nyaman, merasa terpojok dan diinterogasi. Membangun komunikasi positif dibutuhkan kebiasaan dan praktek dalam keseharian. Pola komunikasi positif mengedepankan sikap saling menghargai dan keterbukaan. Dengan positif parenting anak akan merasa memiliki hak untuk melakukan sesuatu dan bisa memiliki pendapatnya.

Tak hanya sebatas itu, pada kesempatan tersebut, anak-anak SDN Ketintang I Surabaya juga diajak memanfaatkan gawai untuk media pembelajaran. Anak-anak belajar tentang pengelolaan financial sejak dini. Kakak-kakak dari PJI membimbing mereka untuk mengenali perbedaan kebutuhan dan keinginan dalam mengelola keuangan. Pembelajaran “Digital Financial Literacy For Children” tersebut juga mengajarkan tentang pengetahuan dasar kewirausahaan.

Untuk yang belum kenalan sama Prestasi Junior Indonesia, Mr. Robert Gardiner menjelaskan bahwa PJI adalah anggota organisasi non-profit terbesar di dunia, Junior Achievement Worldwide, yang berfokus pada pendidikan kewirausahaan, kesiapan kerja dan kesadaran finansial. Sementara Citibank Indonesia sendiri telah beroperasi di Indonesia sejak tahun 1968 dan memiliki kepedulian yang tinggi dan bersama PJI turut terlibat dalam pendidikan generasi muda. Kegiatan tersebut dapat terlaksana berkat pendanaan dari Citi Foundation. Semoga semakin banyak perusahaan-perusahaan yang ikut terlibat dalam pengembangan pendidikan dan pola asuh anak-anak di Indonesia.