Curhat Tentang Literasi Yang Sebatas Panggung

Curhat Tentang Literasi Yang Sebatas Panggung

Tulisan ini murni berisi curhatan tentang program literasi yang terlihat di sekitar saya lengkap dengan keresahan yang saya rasakan. Kalaupun di dalamnya berisi saran dan kritik, ini semata karena saya ingin berkontribusi untuk kemajuan lingkungan. Tidak ada maksud menjelekkan atau merendahkan pihak lain.

Dimulai dari keresahan yang merambati dada, ketika saya diminta tolong untuk mendongeng dalam rangka penilaian lomba program literasi. Apa yang saya lihat, berbeda dengan apa yang dipresentasikan. Apa yang dipresentasikan agak jauh dari dunia literasi itu sendiri. Lomba literasi masih sebatas panggung polesan demi mendapat piala.

Saya cukup mengapresiasi penjurian yang berlangsung dadakan. Dengan penjurian dadakan akan meminimalisir pembuatan “panggung” oleh para panitia. Program literasi yang tidak benar-benar berjalan di suatu wilayah, akan nampak terlihat. Meminimalisir hal seperti ini penting, agar program literasi bukan sekedar wacana.

APA SIH LITERASI ITU?

Literasi sendiri menurut kamus Merriam-Webster adalah berasal dari bahasa latin “literature” yang berarti kemampuan melek aksara. Dalam pengembangannya literasi berarti kemampuan mengenali dan menyampaikan ide dalam bentuk tulisan maupun gambar. Kemampuan ini melibatkan kemampuan membaca, menulis dan memecahkan masalah.

Dalam pengembangannya kemampuan literasi juga dikaitkan dengan dunia digital, yaitu kemampuan memanfaatkan teknologi dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Karena itu seiring berkembangnya zaman, muncullah profesi-profesi baru seperti, content creator, youtuber, Vlogger, Blogger, maupun web designer. Dunia profesi berkaitan dengan digital literasi ini akan terus berkembang sesuai kebutuhan zaman.

Program Literasi Bukan Sekedar Panggung

Program literasi yang dicanangkan pemerintah sesungguhnya program yang sangat jitu untuk menggugah kesadaran masyarakat untuk mulai MEMBACA dan BELAJAR. Pemerintah bahkan sangat mengikuti perkembangan zaman, terbukti dengan banyaknya seminar “Literasi Digital”. Saya sendiri pernah menjadi narasumber di sebuah universitas negeri, membantu memberikan sedikit ilmu tentang dunia konten.

Mirisnya ketika terjadi di wilayah sekitar, saya belum mampu memberikan apa-apa. Bahkan saya melihat betapa pemangku kepentingan sangat miskin literasi itu sendiri. Budaya lomba dengan menampilkan drama yang kelihatannya indah, meskipun tak seindah kenyataan sangat membuat hati saya tercabik. Apa yang ada, tak benar-benar diterapkan.

Bagi saya literasi bukan sekedar panggung. Literasi adalah sebuah budaya. Karena itu menanamkannya dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Hasilnya baru akan terlihat nyata beberapa tahun ke depan. Literasi adalah tentang membiasakan manusia untuk belajar, untuk membaca, menulis dan menyelesaikan masalah dengan kemampuan yang dimilikinya. Mungkin tidak mudah, tetapi BISA untuk dilakukan. Membudayakan sesuatu adalah sebuah perjalanan panjang.

Budaya Literasi Dimulai dari mana?

Budaya literasi bisa dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terkecil, keluarga. Budaya literasi harus ditanamkan ke semua kalangan, anak-anak, orang tua bahkan hingga lansia. Tak perlu beralasan kalau tidak memiliki hobi membaca. Karena MEMBACA BUKANLAH HOBI, tetapi MEMBACA ADALAH KEBUTUHAN. Apakah tidak ada orang yang membaca peta petunjuk jalan? Apakah tidak ada orang yang membaca label harga di supermarket? Apakah tidak ada yang membaca bahan dan resep masakan untuk yang mengaku hobi memasak? Apakah tidak ada yang membaca papan tulisan toilet untuk mereka yang hobi blusukan ke mall? Semua butuh MEMBACA, karena itu membaca bukanlah sekedar HOBI.

Pun demikian dengan literasi di lingkungan keluarga. Biasakanlah untuk membaca ketika di rumah. Anda memegang gadget setiap hari selama 10 jam adalah bagian dari membaca. Yang perlu dilakukan adalah, ubahlah tradisi membaca di gadget anda menjadi tradisi yang berdaya guna. Misalnya, install aplikasi LET’S READ di gadget yang biasa dipegang putra-putri anda. Aplikasi ini berisi buku-buku cerita digital khusus untuk anak-anak dan berbahasa Indonesia. Mudah bukan?

Jadi di mana saja, anda bisa mengajak si kecil untuk membaca cerita dari gadget. Cerita anak tidak panjang. Anda hanya butuh waktu 5-10 menit untuk membacakannya. 5-10 menit dari 10 jam waktu anda memegang gadget khusyuk di sosial media, namun manfaatnya bisa anda bawa hingga seumur hidup anak-anak. Lebih bermanfaat mana? Apakah masih keberatan juga meluangkan waktu 5-10 menit untuk membacakan cerita anak dari gadget?

Hal sederhana ini bisa diterapkan di semua keluarga. Tidak ada lagi alasan tidak punya buku, atau buku anak mahal. Karena dari gadget yang ada di tangan, anda bisa membacakan cerita untuk anak-anak. Bukan sekedar bermain games atau khusyuk di sosial media.

BUDAYA LITERASI DI SEKOLAH

Budaya literasi juga bisa dirintis di sekolah. Saya cukup bahagia ketika mendapati sekolah anak saya memiliki perpustakaan, dan seminggu sekali setidaknya anak-anak wajib datang ke perpustakaan untuk membuat review atau ringkasan cerita dari 1 buku yang dipinjamkan. Ini wajib dan masuk ke dalam jadwal pelajaran. Bangga dan senang? Tentu saja. Ini tentu karena pembuat programnya tahu benar bahwa benih kebiasaan seperti ini perlu dipupuk. Tinggal penerapan di lapangan yang harus sesuai dengan programnya.

Untuk sekolah anak usia dini, bisa dimulai dengan program READ ALOUD. Program ini mulai trend dan menggema akhir-akhir ini. Program membaca keras ini bisa dilakukan guru dengan membacakan satu cerita untuk murid-muridnya. Program ini bisa dijadwalkan minimal seminggu sekali atau sesering yang disuka sekolah. Semakin sering, tentu semakin bagus. Percayalah, apapun reaksi anak-anak, sesungguhnya mereka suka mendengar cerita dan dongeng. Toh program seperti ini tidak membutuhkan waktu lama, karena berkaitan dengan kemampuan fokus anak yang masih rendah. Agar tidak cepat bosan, bacakan cerita singkat namun menarik.

BUDAYA LITERASI BISA DIMULAI DI MANA SAJA.

Percayalah, budaya literasi bisa dimulai di mana saja. Ada banyak permainan yang dikembangkan oleh para pegiat literasi yang bisa dimainkan di lingkungan rumah. Ada permainan ular tangga dan engklek yang dikembangkan oleh WATIK IDEO yang sudah berpadu dengan literasi yang bisa dimainkan di lingkungan rumah. Watik Ideo juga membuat poster tentang perlindungan diri yang bisa ditempel di sekolah, rumah atau di playground anak.

Tak hanya berhenti di situ, budaya literasi juga bisa dikembangkan dengan mengajak para orang tua membuat mainan dari barang bekas yang bisa dijadikan sebagai alat bercerita kepada anak-anak. Bersama teman-teman dari #BikinBikinDiTaman Surabaya, saya pernah belajar membuat proyektor dari kardus, story wheel, shadow puppet, Panggung boneka, marrionette, dan masih banyak lagi. Susah? Tidak kok. Saya yang kemampuan menggunting lurusnya selalu dapat nilai 5 saja berhasil, apalagi anda yang memiliki kemampuan motorik halus yang luar biasa keren. Pasti bisa!

Literasi di kalangan lansia bisa dimulai dengan menggandeng para pegiat literasi untuk memberikan bimbingan dalam mengenali hoaks. Ada banyak hoaks yang tersebar dan sering kita dapat justru dari group whatsapp keluarga, atau group whatsapp alumni yang berisi para sesepuh dan orang lanjut. Ini penting untuk mencegah terpaparnya hoaks-hoaks. Hoaks jangan hanya dikaitkan dengan kepentingan politik, tetapi di kalangan lansia ini banyak beredar hoaks-hoaks kesehatan. Sedih bukan kalau ada orang tua kita yang terpapar hoaks kesehatan, bukannya mendapat manfaat malah justru membahayan kesehatan. Kalau sudah begini, siapa yang rugi?

Memberikan wadah bagi lansia untuk mengembangkan ketrampilan dan hobinya, lalu menyalurkannya melalui dunia digital seperti pengembangan UKM berbasis digital juga menjadi bagian dari dunia literasi. Kalau orang tuanya sibuk mengisi waktunya sesuai hobi seperti memasak, melukis atau bahkan mengaji, tentu akan mengurangi paparan hoaks. Lingkungan tempat tinggal yang kondusif dalam literasi memang harus dibangun dimulai sedini mungkin, pelan-pelan dan pasti membutuhkan waktu. Karena literasi adalah tentang budaya, bukan sekedar panggung polesan demi piala!

Bangga Berkain Ulos Berkat Chatha Ulos

Bangga Berkain Ulos Berkat Chatha Ulos

Ulos adalah kain yang biasanya berbentuk selendang panjang, yang dibuat menggunakan teknik tenun dan berasal dari Batak, Sumatera Utara. Ulos sendiri dari bahasa asalnya berarti “kain”. Secara harfiah ulos sendiri berfungsi sebagai selimut yang membantu menghangatkan tubuh. Suku Batak adalah suku yang mendiami dataran tinggi di Sumatera Utara. Maka tak heran Ulos menjadi kain yang dipakai sehari-hari hingga upacara adat.

Jenis kain ulos bermacam-macam, ada Ulos Ragi Hotang, Ulos Sadum, Ulos Mangiring, Ulos Ragidup dan masih banyak lagi. Masing-masing jenis Ulos tersebut memiliki makna dan fungsi masing-masing, serta digunakan di momen yang berbeda-beda.

Dulu, saya pernah mendapat ulos dari seorang HRD Manager di kantor tempat saya magang setelah lulus kuliah. Beliau memang sudah seperti ibu bagi saya, si anak rantau yang paling mungil di kantor. Namun akhirnya Ulos itu hanya tersimpan rapi di lemari. Saya tidak tahu untuk apa dan bagaimana memakainya. Yang saya tahu hanyalah ulos adalah kain yang berharga sama seperti batik. Jadi yang bisa saya lakukan hanyalah merawat baik-baik dan menyimpannya dengan rapi.

Beruntung kemarin saya bisa bertemu dan makan siang dengan mbak Martha Simanjuntak, atau akrab disapa Mbak Atha. Kalau ada yang belum kenal dengan Martha Simanjuntak, beliau adalah founder atau pendiri IWITA (Indonesia Women IT Awareness). Kiprahnya di IWITA telah terbukti melalui penyebara  tentang teknologi informasi, pembelajaran dan penerapan teknologi bagi kaum wanita. Kini wanita pun banyak yang sudah melek teknologi.

Rupanya perjuangan Mbak Atha tidak berhenti sampai di sini. Kini ia mulai berjuang untuk membawa kain Ulos kebanggaannya untuk lebih dikenal masyarakat muda lintas suku bahkan negara. Sebagai salah satu putri Batak, Mbak Atha ingin Ulos dikenal bukan hanya sebagai sebuah kain, tetapi ulos juga sebagai simbol pengikat kasih sayang antar sesama, sebagaimana filosofi yang ia pegang erat

Ijuk pangihot ni hodong, Ulos Pangihot ni holong.

Yang artinya, Jika ijuk adalah pengikat pelepah pada batangnya, maka ulos adalah pengikat kasih sayang antar sesama.

Berawal dari obsesi dan passionnya inilah, akhirnya Martha Simanjuntak mendirikan Chatha Ulos.

Tentang Chatha Ulos

Chatha Ulos atau Chathaulos adalah sebuah line fashion terkini yang didirikan oleh Martha Simanjutak yang menggunakan Ulos sebagai ciri khas bahannya. Melalui tangan-tangan terampil pengrajin yang dibina oleh mbak Martha sendiri, Ulos bertransformasi menjadi baju-baju modern tanpa meninggalkan nilai filosofisnya.

Martha Simanjuntak tetap memegang teguh nilai filosofis Ulos yang dikenakan dari atas tanpa terpotong. Meski tetap berpegang pada prinsip-prinsip nilai budaya, Ulos di tangan Martha Simanjuntak bisa berpadu cantik menjadi busana modern yang cocok dikenakan segala usia.

Agar tidak merusak makna Ulos, Martha Simanjuntak juga berhati-hati dalam melakukan pemilihan jenis kain Ulos. Chatha Ulos menggunakan tiga jenis motif kain Ulos, yakni Sadum, Mangiring dan Ragi Hotang.

Ulos Sadum

Ulos Sadum biasanya memiliki warna dasar merah dan identik dengan corak bunga. Ulos sadum sering dimaknai sebagai simbol suka cita. Pemberian Ulos Sadum biasanya disimbolkan sebagai pemberian motifasi dan penyemangat bagi keluarga.

Ulos Mangiring

Ulos ini disebut Mangiring karena memiliki motif garis yang beriringan. Ulos Mangiring biasanya diberikan oleh orang tua atau nenek dari Suku Batak kepada anak perempuannya yang melahirkan. Ulos Mangiring ini sebagai simbol rezeki yang terus beriringan dan wujud doa orang tua untuk keselamatan dan kesehatan keluarga.

Ulos Ragi Hotang

Ulos Ragi Hotang adalah Ulos simbol doa restu atau persetujuan. Ulos jenis ini biasanya dikenakan atau diberikan di pesta-pesta pernikahan. Ulos Ragi Hotang adalah salah satu ulos yang memiliki corak anggun dan berkelas tinggi. Tak heran kalau Ulos ini termasuk memiliki harga yang mahal.

Chatha Ulos yang sudah berdiri sebelumnya aktif mengenalkan produknya di media sosial. Kini demi mendekati pelanggan setianya, Chatha Ulos membuka gerai pertamanya. Gerai pertama dibuka di Surabaya bukan tanpa alasan. Menurut mbak Atha, pelanggan Chatha Ulos paling banyak justru berasal dari Surabaya.

Hari Kamis, 19 September 2019 bertepatan dengan ulang tahun pernikahan beliau ke 20, butik Chatha Ulos pertama resmi dibuka Surabaya, bertempat di

Bussines Area – Apartemen Taman Melati
Jl. Mulyorejo, Surabaya

Nama Chatha sendiri diambil dari nama Charles dan Martha. Dengan nama tersebut, mbak Martha ingin membangun bisnisnya seperti ia membangun rumah tangga. Ada sakinah dan kesetiaan serta dedikasi tinggi di dalamnya.

Bagi pelanggan Chatha Ulos di Surabaya dan sekitarnya bisa mampir ke gerai atau butiknya langsung untuk dapat melihat koleksi terbarunya. Penasaran juga dengan tampilan dan jenis kain yang ada di koleksi Chatha Ulos, bisa juga mampir ke butiknya. Untuk kelas Ulos yang biasanya terbilang mahal, Chatha Ulos mematok tarif rata-rata atau bahkan terbilang murah, agar terjangkau oleh kaum muda milenial.

Koleksi Chatha Ulos bukan hanya terbatas pada busana perempuan saja, tetapi juga ada koleksi kemeja untuk laki-laki. Perpaduan busana perempuannya pun terbilang unik. Mulai dari cocktail dress hingga berpadu anggun dengan kebaya, tidak mustahil dilakukan. Intip saja warna-warna cerianya di

Instagram:  @chatha_ulos.

Dengan hadirnya Chatha Ulos, makin bangga memakai kain khas kekayaan Indonesia.