
Fungsi kognitif otak manusia semakin menurun. kalimat yang cukup menohok dari seorang teman di obrolan singkat kami. Benarkah? Tapi kenapa?
Continue reading Pembajakan Fungsi Otak
Fungsi kognitif otak manusia semakin menurun. kalimat yang cukup menohok dari seorang teman di obrolan singkat kami. Benarkah? Tapi kenapa?
Continue reading Pembajakan Fungsi OtakMata kering jangan disepelein, bisa berakibat fatal!
Itu yang selalu aku tanamkan di anak-anakku mengingat mereka memiliki riwayat kesehatan mata yang panjang akibat lahir prematur. Bagi kami, menjaga kesehatan mata itu sama pentingnya dengan menjaga kesehatan organ tubuh yang lain. Pernah anakku hampir operasi mata karena riwayat kesehatan mata yang susah untuk dihindari saat lahir. Sejak saat itu setiap kali anakku mengeluh matanya perih, aku melarangnya mengucek, karena kalau infeksi bisa berakibat makin fatal


Fisiohome Partner Fisioterapi Profesional Merawat Lansia Di Rumah
Hingga hari ini tercatat sudah lebih dari 16 tahun aku merawat lansia di rumah. Sejak menikah aku tinggal bersama dan merawat mertua yang sudah sakit stroke. Merawat lansia, apalagi yang memiliki riwayat penyakit bawaan seperti stroke, selalu ada saja tantangannya. Tantangan ini yang kadang bukan hanya membuat badan dan hati lelah tapi juga menguras mental dan isi dompet.
Continue reading Fisiohome, Partner Fisioterapi Profesional Merawat Lansia Di Rumah
Memperingati Hari Kusta Sedunia bersama NLR dan Kementerian Kesehatan Indonesia
Tanggal 28 Januari kemarin diperingati sebagai Hari Kusta Sedunia atau World Leprosy Day. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita kusta terbesar ke-3 sedunia setelah India dan Brazil, rasanya memang harus terus bergerak untuk mengurangi angka penularan dan stigma di masyarakat. Dalam rangka World Leprosy Day tersebut, Ruang Publik KBR tanggal 30 Januari 2024 kemarin menghadirkan Ibu Hana Krismawati, M. Sc seorang pegiat Kusta dan analis kebijakan dari Pusat Sistem dan strategi kesehatan Kementerian Indonesia dan Agus Wijayanto, MMID, Direktur eksekutif NLR Indonesia.
Continue reading Memperingati Hari Kusta Sedunia bersama NLR dan Kementerian Kesehatan Indonesia
Chiling dan Healing Bagi OYPMK dan Penyandang Disabilitas, Perlukah?
Saat ini, kata healing sering digaungkan dalam media sosial (medsos) atau bahkan kita mendengarkan dari orang terdekat. Pergi ke mall, olahraga atau kemanapun tempatnya akan dikatakan sebagai healing. Healing sendiri dalam kamus Bahasa Inggris diartikan sebagai penyembuhan. Sedangkan chilling dari chill, mengandung makna santai. Kata ini juga sering digunakan untuk menggambarkan istilah “menenangkan diri”.
Chilling dan healing sangat dibutuhkan bagi setiap individu yang hidup. Mengapa? Karena kedua kegiatan tersebut mempunyai dampak besar bagi manusia. Secara umum, salah satunya adalah untuk menyegarkan kembali jiwa raga setelah mengalami kepenatan kegiatan. Sedangkan secara khusus, tergantung peristiwa yang dialami. Akan tetapi, bagaimana dengan chilling dan healing bagi OYPMK (Orang Yang Pernah Menderita Kusta) dan penyandang disabilitas?
Dalam talkshow Ruang Publik KBR yang bekerja sama NLR kali ini mengusung tema tentang ‘Chilling dan Healing bagi OYPMK dan penyandang disabilitas, Perlukah?’ Acara yang dibawakan dengan menyenangkan oleh host KBR, Rizal Wijaya. Turut mengundang Donna Swita selaku Executive Director Institute of Woman Empowerment (IWE) dan Ardiansyah (OYPMK) yang menjabat sebagai Wakil Ketua Konsorsium Pelita Indonesia.

Menurut Donna Swita, definisi healing adalah penyembuhan pada sesuatu yang berdampak pada psikis dan emosi seseorang. Healing tidak hanya dibutuhkan oleh OYPMK, tetapi semua orang membutuhkan.
Mengenai healing atau pemulihan diri atau perawatan, ada 5 dimensi penting, diantaranya adalah:
Dari kelima dimensi tersebut bisa dilihat, dimensi mana yang paling dibutuhkan oleh OYPMK dan penyandang disabilitas. Karena setiap orang memiliki proses pemulihan yang berbeda. Tergantung dimensi permasalahan yang dihadapi. Namun, dari semuanya, yang terpenting adalah informasi atau pengetahuan. Pemanfaatan kecanggihan teknologi dalam menggali ilmu pengetahuan tentang penyakit kusta seharusnya lebih mudah diperoleh dan dicari. Hanya dengan mengetik kalimat kusta atau healing misalnya, maka akan segera bermunculan informasi yang dicari.
Sekarang ini, kebanyakan orang memanfaatkan teknologi pintar dalam hal medsos, namun tidak banyak yang mampu mencari informasi dan membaca dari sumber yang valid. Akhirnya, banyak yang terperosok berita bohong, atau bahkan stigma lama yang masih dipakai. Sehingga pandangan mengenai penyakit kusta pun masih saja sama. Padahal informasi mengenai kusta ada sudah banyak digaungkan. Tidak semua orang bisa menerima OYPMK karena keterbatasan pengetahuan atau lebih percaya berita yang tidak jelas alias hoaks.

Menurut salah satu sumber yang hadir dalam Ruang Publik KBR yaitu, Ardiansyah selaku OYPMK dan Wakil Ketua Konsorsium Pelita Indonesia. Beliau mengatakan bahwa healing sangat dibutuhkan bagi OYPMK dan penyandang disabilitas. OYPMK lebih banyak menutup diri dan pada akhirnya tidak mempunyai teman untuk bercerita dan berkeluh kesah. Stigma tidak diterima masyarakat terlanjur melekat karena banyak OYPMK yang mengalami. Pada akhirnya, perasaan tertekan dan takut menceritakan penyakitnya membuat OYPMK menutup diri.
Seperti yang dialami Ardiansyah, bagaimana penolakan orang tua dan lingkungan terhadapnya. Rasa tertekan dan penolakan ini membuat Ardiansyah mencari dukungan dari luar. Beruntung sekali Ardiansyah menemukan teman-teman organisasi yang sangat mendukung. Namun tidak semua OYPMK bisa mengatasi penolakan. Ardiansyah memiliki strategi, yaitu:
Bahwa semua kembali pada diri sendiri, sehingga orang-orang di sekitar bisa menjadi
support system OYPMK dan penyandang disabilitas.
Ada salah seorang penanya yang menanyakan, mengapa proses healing tidak memanfaatkan kecanggihan teknologi agar OYPMK dan penyandang disabilitas tidak ketinggalan teknologi alias melek teknologi. Menurut Ardiansyah, bisa saja memanfaatkan teknologi. Namun sayangnya, tidak semua berpendidikan tinggi. Banyak yang tinggal di daerah pelosok. Upaya penyembuhan lebih difokuskan pada mengatasi luka hati, yang membutuhkan proses lebih lama dari pada teknologi.
Ardiansyah mengatakan, salah satu cara healing yang mungkin ampuh adalah menulis. Dengan menulis tentang diri sendiri, bisa menceritakan atau menumpahkan segala apa yang dirasakan dan dipikirkan.
Ardiansyah juga membagikan kisahnya tentang langkah kongkrit yang dilakukan saat harus meyakinkan kedua orang tua (terutama ibu) dan orang terdekat. Langkah tersebut adalah:
Menjadi OYPMK dan penyandang disabilitas jangan dijadikan alasan untuk menutup diri atau membatasi diri, tetapi buktikan bahwa dalam keterbatasan ada kesempatan yang sama. Di mata Tuhan, semua sama.
Sekolah Inklusi Demi Pendidikan Setara Untuk Anak Disabilitas
Kusta bukan hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Dampak yang ditimbulkan pada anak-anak sama dengan yang terjadi pada orang dewasa. Jika diskriminasi terjadi pada OYPMK (orang yang pernah menderita kusta) usia dewasa, pun demikian yang terjadi pada anak-anak. Para bocah penderita kusta dan mengalami disabilitas ini pun tak lepas dari diskriminasi.
Sama halnya yang terjadi pada orang dewasa, kusta pada anak-anak pun mengalami peningkatan sebesar 9,14%. Angka yang masih lumayan tinggi dan di atas target pemerintah. Namun begitu, semua pihak bekerjasama untuk menekan dan menurunkan angka tersebut. Seperti yang dilakukan oleh NLR dan Yayasan Kita Juga (SANKITA).
Ruang Publik KBR bersama NLR menghadirkan Anselmus Gabies Kartono dari Yayasan Kita Juga, Frans Patut Kepala sekolah SDN Rangga Watu, Manggarai Barat dan Ignas Charlie, penyandang disabilitas kelas 5 sekolah dasar. Dalam talkshow tersebut, Ignas bersama kepala sekolah dan Yayasan Kita Juga membahas tentang diskriminasi yang terjadi dan cara mengatasinya.

Bapak Frans Patut menjelaskan bahwa SD Negeri Rangga Watu telah menjadi sekolah inklusi terhitung sejak tahun 2017. Saat ini di sekolah tersebut ada 7 anak penyandang disabilitas, termasuk Ignas Charlie sebagai penyandang OYPMK. Sebagai kepala sekolah, tidak sedikit kendala yang dialami dalam perjalanannya menyelenggarakan pendidikan inklusi. Kendala yang terjadi mulai dari penerimaan warga sekolah, anak-anak didik, orang tua wali murid, hingga warga sekitar.
Bapak Anselmus mengatakan penolakan atau pandangan curiga masih jamak dialami penyandang kusta, termasuk anak-anak. Padahal penyandang kusta yang telah mengkonsumsi obat Rifampisin sesuai dosis yang yang telah diberikan maka tidak akan menularkan penyakitnya. Penyakit kusta hanya akan menular jika mengalami kontak langsung secara terus menerus selama 20 jam berturut-turut selama minimal satu minggu tanpa proses pengobatan.
Jika kurang dari jangka waktu tersebut, maka masih terbilang aman. Ditambah lagi jika penderita kusta mengkonsumsi obat secara rutin, maka tidak akan menularkan penyakitnya. Literasi seperti ini yang masih belum tersampaikan secara benar ke masyarakat. Edukasi seperti ini wajarnya diberikan di lingkungan yang rentan dan banyak penderita kusta. Hal ini untuk mengurangi angka diskriminasi dan kesenjangan pada penderita kusta.
Kendala lain yang dialami para tenaga pendidik adalah kurangnya kemampuan tenaga didik menangani anak berkebutuhan khusus. Mengutip ucapan yang disampaikan Bapak Anselmus bahwa “Guru reguler dengan basic PGSDN tidak memiliki kemampuan menangani anak berkebutuhan khusus. Karena itu SANKITA memberikan pelatihan dan asesmen bagi tenaga didik tersebut agar memiliki kemampuan menangani anak-anak berkebutuhan khusus”

Asesmen seperti ini yang belum banyak diberikan di wilayah-wilayah lain, sehingga pemenuhan hak pendidikan anak menjadi terganggu. Masih banyak anak-anak penyandang kusta yang seharusnya masuk usia sekolah, tidak mendapatkan haknya dikarenakan kurangnya pengetahuan orang tua dan minimnya sekolah yang memberikan fasilitas untuk anak penyandang kusta.
Ignas beruntung tinggal di dekat sekolah yang dapat menyelenggarakan pendidikan inklusi. Ignas sempat mengalami perundungan dan diskriminasi. Namun tidak berlangsung lama. Sankita bersama SDN Rangga Watu berhasil merangkul Ignas dan memberikan hak pendidikannya serta menyediakan lingkungan yang mumpuni untuk tumbuh dan bergaul bersama kawan-kawan sebayanya.
Ignas bercerita kalau bapak ibu guru memperlakukannya sama seperti teman-temannya yang lain. Ignas tidak lagi mengalami diskriminasi dalam memperoleh pendidikan. Ignas dapat berteman dengan kawan sebayanya, tanpa merisaukan perundungan lagi. Bahkan Ignas mengatakan ia hanya malas sekolah ketika cuaca dingin dan memancing gelak tawa narasumber lainnya. Sungguh pernyataan yang polos anak-anak ya… Semoga Ignas bisa mendapatkan kesempatan yang sama besar untuk meraih cita-citanya ya!
Apa yang dialami oleh Ignas belum tentu sama dengan yang dialami anak-anak lain yang sama-sama menderita kusta dan disabilitas. Semoga kesempatan pendidikan yang setara yang diperoleh Ignas bisa juga diperoleh anak-anak lain. Semangat terus ya, Ignas dan Bapak, Ibu guru!

Kusta Penyakit Orang Miskin, Benarkah?
Kusta dengan kemiskinan dan daerah tertinggal biasanya sangat identik. Apakah benar kusta identik dengan kemiskinan dan daerah tertinggal? Mengapa demikian?
Kalau kalian mau tahu yang sebenarnya, cobain nonton youtube channelnya Ruang Publik KBR yang bekerjasama dengan NLR Indonesia yang membahas kaitan kusta dengan kemiskinan. Dalam bahasannya KBR dan NLR Indonesia mengundang dua narasumber, yaitu:
Ruang Publik kali ini dipandu host cantik Debora Tanya. Dari talkshow di Ruang Publik inilah aku baru tahu kalau Kusta dan kemiskinan seperti lingkaran setan. Kalau kalian sekedar tahu bahwa kusta biasanya penyakit untuk orang miskin, justru sebenarnya Kusta bisa menjadi salah satu penyebab kemiskinan. Kenapa?

Karena penderita kusta atau akrab dikenal dengan nama OYPMK susah mendapat kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Ketakutan masyarakat pada umumnya akan penularan Kusta membuat mereka menjauhi para OYPMK. Akibatnya OYPMK seringkali mendapatkan diskriminasi yang tidak semestinya hingga kehilangan kesempatan kerja yang mumpuni.
Dari talkshow ini pula aku tahu kalau, pemerintah mengambil banyak langkah dan tindakan dalam mengentaskan kemiskinan bagi para OYPMK. Bagaimanapun juga OYPMK berhak untuk mendapatkan hidup yang layak, berhak mendapatkan kesempatan bekerja sesuai dengan kemampuan dan keahliannya. OYPMK sama seperti orang pada umumnya. Mereka sudah sembuh, sudah aman bekerja di tengah masyarakat, dan sudah tidak menularkan penyakit.
Pemerintah memberikan pengobatan yang mumpuni dan gratis bagi para penderita kusta. Penderita kusta bisa berobat di manapun di puskesmas yang disediakan oleh pemerintah. Gratis tanpa dikenakan biaya sepeserpun. Dengan pengobatan yang disiplin dan rutin penderita kusta pun bisa sembuh dan tidak menularkan penyakitnya. Sehingga mereka bisa kembali ke tengah masyarakat, beraktivitas dan bekerja seperti biasa.
Per Januari 2022 di Indonesia tercatat kasus kusta sebanyak 13.487 dan 7.146 diantaranya adalah kasus baru yang tersebar di 6 provinsi yang terdiri dari 101 kabupaten/kota. Tahukah kalian, kasus sebanyak ini menjadikan Indonesia menempati posisi ketiga terbesar negara dengan penyakit kusta? Bangga? Enggak doong… Semua pihak harus bekerjasama untuk membantu mewujudkan program Indonesia bebas Kusta. Yuk dimulai dengan mengubah stigma yang tersebar di masyarakat, menerima para OYPMK, merangkul mereka untuk beraktivitas di tengah kita dan memberikan hak dan kesempatan yang sama.
Bapak Sunarman Sukamto, Amd mengakui bahwa hingga saat ini upaya perwujudan Indonesia bebas kusta masih menjadi upaya dominan bidang kesehatan, belum ada upaya sinergis lintas departemen. Padahal untuk membawa program ini dibutuhkan peran dan kerjasama banyak pihak, baik dari sektor sosial, ekonomi, pendidikan, ketenagakerjaan, maupun sektor bidang lainnya. Hal ini disebabkan permasalahan kusta sudah menjadi permasalahan multidimensi.
Saat ini kementerian kesehatan mulai meningkatkan usaha pemberantasan kusta, bukan hanya melalui sisi kesehatan berupa pengobatan namun juga mulai merambah di bidang sosial, kesejahteraan ekonomi, pemberdayaan dan sisi lingkungan. Dalam proses pembangunan ke depan, pemerintah mulai memberdayakan para penyandang disabilatas dan OYPMK untuk menjadi stakeholder, terlibat langsung dalam program-program tertentu pemerintah.

Ibu Dwi Rahayuningsih melalui Bappenas rutin mengadakan pendataan untuk memetakan permasalahan dan kebutuhan para penyandang disabilitas dan OYPMK. Ibu Dwi menambahkan pemerintah sudah menyelenggarakan beberapa program untuk mengentaskan kemiskinan bagi OYPMK, di antaranya.
Semua program tersebut bisa diakses dan dimanfaatkan oleh penyandang disabilitas dan OYPMK yang masih berada di garis kemiskinan. Program-program lainnya masih dalam tahap pengembangan dan belum sempurna dalam penyelenggaraannya. Namun begitu diharapkan ke depannya banyak program yang akan dapat diselenggarakan dan dimanfaatkan dengan maksimal.
Lantas, sebagai masyarakat, apa yang bisa kita lakukan untuk membantu kawan-kawan OYPMK? Yuk dimulai dari mengubah stigma dan pola pikir kita akan penyakit kusta dan merangkul OYPMK untuk kembali bermasyarakat dan memasuki dunia sosial beraktivitas seperti yang lainnya.
Dimulai dari sekarang, untuk kehidupan yang lebih nyaman!

Generasi Muda Wajib Paham Masalah Gizi, Untuk Apa?
“Walah, ngapain sih ikut seminar masalah gizi? Gak bermanfaat buat pergaulan, Coy…”
Ngapain sih anak muda harus ikut seminar masalah gizi? Bukan anak kuliah jurusan gizi dan kesehatan juga. Gak penting banget. Gitu gak sih kira-kira pikiran sebagian besar dari kita?
Gizi sebenarnya bukan hal yang tabu untuk dibicarakan sehari-hari. Namun kenapa dalam pembicaraan anak muda sehari-hari sangat jarang membicarakan masalah gizi? Kira-kira dari 100% isi pembicaraan kalian dengan teman dan saudara, ada berapa persen isi pembicaraan yang ngobrolin serius maupun bercanda masalah gizi?
Kira-kira masalah buruk kesehatan apa yang kalian takuti saat mengabaikan masalah gizi? Atau sebenarnya selama ini belum pernah memikirkan itu sama sekali? Seolah umur 60an sakit stroke, hipertensi, diabetes itu sudah menjadi hal yang lumrah?
Namun tahukah kalian bahwa angka-angka usia itu mulai bergerak? Saat ini usia manusia kena penyakit semacam stroke, diabetes, dan sejenisnya ini bukan lagi dialami oleh para lansia, tetapi justru orang-orang yang masih ada di usia produktif? Coba sesekali kalian ikut antar orang tua kalian untuk kontrol ke rumah sakit, dan perhatikan siapa saja yang datang berobat? Banyak di antara mereka yang masih ada di usia produktif sudah mulai rutin mengkonsumsi obat diabetes dan obat hipertensi.

Tahukah kalian bahwa obat-obat semacam obat diabetes dan obat hipertensi ini harus dikonsumsi seumur hidup? Tahu kah kalian? Kalau belum tahu, mulailah cari tahu dari sekarang. Jangan sampai 10 tahun lagi kalian yang akan mengkonsumsi obat-obat itu.
Beruntunglah jika kalian ikut seminar YAICI di UNAIR beberapa waktu lalu. YAICI bersama UNAIR mengambil tema “Inilah Saatnya! Aku, Kamu, Kita Generasi Muda Sadar Gizi” untuk membangunkan generasi muda agar mulai peduli dengan gizi. Setidaknya di antara ribuan kata obrolan receh kalian, ada nyelip sedikit masalah gizi, ya gaes ya…
Seminar kemarin ada banyak narasumber menarik yang bikin diskusi seminar berjalan seru dan tidak membosankan. Di antaranya ada :
Menurut hasil penelitian yang dilakukan di Jawa Timur pada tahun 2018, yang disampaikan oleh Ibu Arumi Bachsin, Istri Wakil Gubernur Jawa Timur ada 44,18% remaja usia 15 tahun ke atas memiliki bentuk tubuh sangat gemuk, dan usia 18 tahun ke atas sebanyak 22,37% sangat gemuk. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh pola hidup yang buruk di kalangan remaja.
Fenomena mager atau malas gerak dan maraknya jajanan-jajanan cepat saji yang memiliki kandungan tinggi karbohidrat dan rendah protein menjadi salah sedikit penyebabnya. Prof. Bambang Wirjatmadi menyampaikan bahwa kandungan jajanan atau makanan cepat saji yang tinggi karbohidrat namun rendah protein ini menjadi pemicu banyak penyakit seperti Jantung, kolesterol tinggi hingga berbagai masalah komplikasi lainnya.
Arumi Bachsin menambahkan kalau seiring meningkatnya kasus kegemukan pada remaja, angka infertilitas pun juga melonjak. Fenomena infertilitas ini ditengarai salah satu akibat dari buruknya pola hidup remaja.

Rendahnya literasi tentang gizi pada kaum remaja ini membawa dampak buruk yang panjang dan berkelanjutan. Pemerintah harus mengambil sikap. Tahu gak kalau dampak buruknya bisa berlangsung berkelanjutan hingga beberapa generasi. Kenapa? Karena generasi remaja sekarang akan menjadi orang tua yang melahirkan bayi-bayi generasi penerus.
Gimana bisa merawat bayi dengan tumbuh kembang yang maksimal jika orang tuanya memiliki pola hidup dan selera makan yang kacau? Bisa dibayangkan gimana angka stunting gak makin ambyar?
Remaja harus tahu kalau kental manis bukan susu. Remaja harus tahu kalau kental manis bukan pengganti ASI. Remaja sekarang harus tahu kalau empat sehat lima sempurna bukan lagi standard gizi yang dipakai. Sekarang menu harus mengandung B2SAH (Beragam, Bergizi, Seimbang, Aman, Halal).
Memutus rantai stunting ini penting, harus segera dimulai sesegera mungkin. Demi mewujudkan Indonesia bebas stunting. Agar permasalahan penyakit degeneratif tidak semakin menggila. Sempat kaget ketika teman memberi tahu kalau kenalannya anak usia 15 tahun sakit diabetes. Sedih kan…
Menurut Prof. Bambang, sebenarnya untuk mengentaskan Indonesia dari stunting bisa dengan meningkatkan konsumsi protein. Perbanyak konsumsi protein. Masalahnya jajanan dan makanan cepat saji sekarang justru memiliki kandungan karbohidrat tinggi dan miskin protein. Remaja harus paham jenis-jenis bahan makanan yang mengandung bahan kimia non alami yang menjadi racun bagi tubuh.

Menurut Kang Maman, salah satu narasumber yang hadir dalam seminar, mengatakan bahwa masyarakat Indonesia menempati salah satu terbesar pengguna internet di dunia, yakni sebesar 73,7%. Sebagai pengguna internet terbesar, sayangnya tidak dibarengi dengan tingkat literasi yang mumpuni. Tingkat literasi Indoenesia termasuk salah satu yang terendah di dunia. Miris?
Apa akibatnya? Tentu saja hoax beredar di mana-mana. Padahal dalam memanfaatkan internet dalam kehidupan sehari-hari yang dibutuhkan bukan hanya sekedar kecakapan literasi dasar, namun juga butuh critical thinking.
Kak Awan Prakoso mengamini bahwa Indonesia memang memiliki tingkat literasi yang rendah. Padahal untuk mengajarkan anak-anak dan remaja sadar gizi ini memiliki banyak cara. Biasanya yang paling efektif dan lebih cepat adalah melalui cerita dan dongeng. Sisipan pesan-pesan itu bisa dimasukkan di dalam alur dan ide cerita.
Langkah apapun yang diambil untuk meningkatkan literasi gizi tersebut dibutuhkan kolaborasi semua pihak. YAICI sekarang sudah memulai dengan merangkul remaja dari berbagai universitas, termasuk UNAIR. Namun, tidak berhenti sampai di sini. Semua pihak harus bergerak. Seperti BEM UNAIR mulai mengajak ibu-ibu posyandu untuk cek gizi balita dan menularkan ilmu sadar gizi nya yang didapat dalam seminar dan perkuliahan.
Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian masih termasuk warga penghamba vetsin? Yuk segera insaf. Kita imbangi dengan makanan yang mengandung protein tinggi mulai dari sekarang! Yuk peduli! Saatnya aku, kamu, kita generasi muda sadar gizi.

Mewujudkan OYPMK Merdeka Dari Stigma dan Diskriminasi
Ketika mendengar kata “Kusta” apa yang terbersit di benak kalian? Apa yang kalian bayangkan ketika melihat seorang OYPMK atau orang yang pernah menderita kusta? Apakah kalian membayangkan stigma-stigma yang banyak beredar di masyarakat selama ini?
Begitulah yang dialami sebagian besar penderita kusta di tengah masyarakat. Meskipun sudah sembuh, mereka pun masih menyandang status seorang OYPMK, Orang Yang Pernah Menderita Kusta. Status dan stigma tersebut seolah melekat dan akan terbawa ke manapun.
Untuk membantu menggaungkan kesetaraan dan kemerdekaan bagi para OYPMK, Ruang Publik KBR bersama NLR menggelar talkshow rutin yang bisa dilihat di youtube channel KBR.id. Talkshow kemarin membahas tentang “Makna Kemerdekaan Bagi OYPMK, Seperti Apa?”. Menghadirkan Dr. Mimi Mariani Lusli dari Mimi Institute dan Marsinah Dhedhe, seorang aktivis, OYPMK dan penyandang disabilitas, membahas jatuh bangun para OYPMK dan disabilitas dalam mewujudkan kemerdekaan, merdeka dari stigma dan diskriminasi.
Mimi Institute sendiri yang sudah lahir sejak tahun 2009 yang memiliki visi untuk mengajak masyarakat membiasakan diri dengan kehadiran teman-teman disabilitas termasuk kehadiran teman-teman OYPMK dengan ragam-ragam interaksi sesuai dengan kondisi dan kemampuan. Tujuannya agar masyarakat paham bagaimana cara berinteraksi dengan kawan-kawan disabilitas dan OYPMK sehingga mereka tidak merasa terdiskriminasi atau tersisihkan.

Selain itu kegiatan-kegiatan dan kampanye yang diusung Mimi Institute tersebut membantu para penyandang disabilitas dan OYPMK untuk percaya diri dan mandiri dalam berkontribusi di masyarakat seperti yang lain. Karena memang sesungguhnya baik penyandang disabilitas maupun OPYMK memiliki hak yang sama dalam berkontribusi dan berkarya. Hal yang sama diamini juga oleh mbak Dhedhe seorang OYPMK.
Mbak Dhedhe sendiri pernah menderita kusta ketika masih usia sekolah dasar. Support dari keluarga sangat membantu mbak Dhedhe keluar dari lingkarang stigma yang pernah membelenggu. Mbak Dhedhe pun pernah menjadi bagian dari stigma dan ejekan dari kawan-kawannya dan masyarakat. Namun berkat dukungan keluarga, bahkan sekarang mbak Dhedhe sempat lupa kalau beliau seorang OYPMK.
Dukungan besar seperti yang diberikan keluarga mbak Dhedhe membantunya kembali ke masyarakat, berkiprah, berkontribusi dan berkarya tanpa merasa terdiskriminasi. Kemerdekaan berkarya terbukti mampu dirasakan oleh seorang disabilitas sekaligus OYPMK seperti Mbak Dhedhe. Selain dukungan keluarga, peran aktif pemerintah dan instansi BUMN maupun BUMS juga sangat berpengaruh.
Baik pemerintah, BUMN maupun instansi swasta bisa memberikan kesempatan yang sama besarnya kepada penyandang disabilitas dan OYPMK dalam memperoleh pekerjaan maupun ruang untuk berkarya. Instansi-instansi tersebut dapat memberikan sekian persen dari jumlah karyawannya ditempati oleh para disabilitas maupun OYPMK. Kesempatan yang setara dan ruang yang sejajar tersebut akan membantu penyandang disabilitas dan OYPMK kembali ke masyarakat. Dengan interaksi yang optimal, stigma yang ada di masyarakat pun diharapkan dapat berkurang. Maka kemerdekaan yang dicita-citakan para penyandang disabilitas dan OYPMK untuk kembali berkarya dan berkontribusi pun bukan lagi sebatas angan.

Bagi OYPMK maupun penyandang disabilitas yang masih mendapatkan diskriminasi dan menyandang stigma dari lingkungan sekitarnya, Dr. Mimi memberikan saran untuk membuka ruang komunikasi seluas-luasnya. Jangan pernah menyerah untuk membuka ruang komunikasi karena pada dasarnya masyarakat yang menempelkan stigma tersebut disebabkan oleh minimnya pengetahuan dan ilmu tentang Kusta.
Dr. Mimi mengatakan “Kalau masyarakat menjauhi, yuk kita yang mendekati. Karena kalau masyarakat menjauh, dan kita menarik diri juga menjauh, maka akan semakin jauh…” Jadi jangan pernah menyerah untuk terus membuka ruang komunikasi. Ketika dijauhi, tidak perlu lantas menjadi minder dan menarik diri. OYPMK dan penyandang disabilitas berhak untuk mendapatkan perlakuan yang sama, jadi juga harus memperjuangkan hak tersebut.
Jika pemerintah mampu mengubah budaya dari tidak memakai masker sebelum pandemi menjadi budaya memakai masker ketika pandemi, maka jika diberikan informasi yang sama gencarnya tentang kusta, niscaya masyarakat pun akan banyak paham tentang kusta dan karakteristiknya. Kesadaran bahwa OYPMK dan penyandang disabilitas bukan untuk dijauhi akan menjadi budaya baru juga dimasyarakat.
Nah, kita sebagai bagian dari warga masyarakat, sudah selayaknya ambil bagian berperan aktif untuk turut memberikan kesempatan yang sama besarnya bagi para penyandang disabilitas dan OYPMK dalam memperoleh kemerdekaan berkarya. Mereka layak mendapatkan kemerdekaan berkontribusi sama besarnya dalam pembangunan masyarakat. Menjadi insan yang berdaya dan berkarya, sama seperti kita semua. Setuju?

Jenjang Karir Bagi Penyandang Disabilitas dan OYPMK
Aku punya teman yang tiba-tiba mengalami kecelakaan dan menjadi disabilitas untuk seumur hidupnya. Dulu dia anak yang ceria dan cerdas. Setelah mengalami kecelakaan, penglihatannya banyak berkurang. Low vision, dokter menganalisanya demikian. Jarak pandangnya sangat jauh berkurang.
Kawanku harus menulis menggunakan spidol di buku tulisnya. Ia harus bergantung ke teman sebangkunya untuk bisa membaca tulisan guru di papan tulis. Ia mengalami itu ketika masih usia SD. Kami teman sekelas sejak SD hingga SMA. Ketika itu ia sempat khawatir, gimana nanti hidupnya, apakah ia akan terus bergantung sama orang lain, mampukah dia mandiri, mampukah dia bekerja seperti orang kebanyakan.
Kekhawatiran yang normal tentu saja. Stigma yang tertanam di masyarakat bahwa anak yang mengalami disabilitas itu tidak mampu mandiri, akan terus bergantung pada orang lain. Stigma itu sudah tertanam erat. Kalau ada penyandang disabilitas yang mampu melakukan banyak hal sendiri, selalu dianggap sebagai anak-anak spesial yang tidak semua mampu menjalaninya. Benarkah demikian?

Benarkah semua penyandang disabilitas tidak bisa mandiri? Stigma yang sama juga melekat erat pada OYPMK (Orang Yang Pernah Menderita Kusta). Disabilitas dan OYPMK sering dianggap sebagai orang-orang yang merepotkan. Padahal ketika Tuhan mengambil salah satu kemampuan seseorang, Tuhan akan memberi kelebihan di kemampuan yang lainnya. Itu kalau kalian percaya Tuhan itu Maha Adil.
Stigma yang sama juga dialami seorang OYPMK berdaya bernama Mahdis Mustofa dari Makasar. Bapak Mahdis pernah menderita kusta dan sekarang sudah sembuh. Meski sudah sembuh, bukan berarti stigma berhenti menempel di kepala. Stigma itu terus terbawa bahkan hingga di tempat kerja.
Bapak Mahdis menceritakan beliau mulai bekerja di sebuah rumah sakit di Makassar di bagian cleaning service. Sebuah langkah yang patut diapresiasi untuk sebuah rumah sakit mau menerima OYPMK. Langkah ini ternyata tidak serta merta diikuti oleh staf-staf yang lain. Ketika itu masih banyak yang menolak atau sekedar enggan untuk dekat dengan Mas Mahdis. Bahkan beberapa staf melarang pak Mahdis masuk atau membersihkan ruangannya.

Mas Mahdis bertutur dengan ringan dipandu pembawa acara Rizal Wijaya di acara Ruang Publik KBR pada tanggal 27 Juli 2022 kemarin. Acara yang dibuat bekerja sama dengan NLR Indonesia ini sedianya menghadirkan bapak Agus Suprapto, DRG. M.Kes, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK RI. Namun sayang sekali di tengah acara Bapak Agus harus meninggalkan talkshow lebih cepat karena kesibukan dalam tugasnya. Semoga lain waktu bisa disambung lagi ya, Pak. Obrolannya cukup menarik.
Lebih lanjut Mas Madis menuturkan bahwa menghapus stigma itu bukanlah hal yang mudah. Namun demikian pemahaman masyarakat tentang penyakit Kusta harus terus ditingkatkan. Penderita Kusta yang sudah menjalani pengobatan sesuai petunjuk dokter dan berhasil, tidak akan menularkan penyakitnya. Jadi mereka bisa juga bekerja, beraktivitas dan bersosialisasi sebagai warga masyarakat pada umumnya.
Penderita kusta atau yang sudah berstatus OYPMK (orang yang pernah menderita kusta) bukanlah orang-orang yang kehilangan haknya sebagai masyarakat. Hak sebagai masyarakat tetap melekat dan ada, termasuk hak untuk hidup dan mencari pekerjaan. Karena itu masyarakat dan seluruh stakeholder dapat memberikan kesempatan yang sama lebarnya.

Mas Mahdis yang menyandang status OYPMK juga memiliki kesempatan untuk berkarir dan memiliki jenjang. Kini di perusahaan layanan cleaning service tempatnya bekerja, beliau dipercaya menjadi seorang supervisor. Sebagai supervisor, Mas Mahdis membawahi dua divisi, yaitu divisi luar dan divisi dalam. Divisi luar adalah petugas cleaning service yang bertugas menjaga kebersihan taman di lingkungan rumah sakit, divisi dalam adalah petugas-petugas yang menjaga kebersihan di lingkungan dalam rumah sakit.
Jangan heran jika 80-90% petugas yang bekerja di bawah supervisi mas Mahdis adalah para OYPMK. Mereka pun bisa memiliki kesempatang yang sama lebarnya seperti mas Mahdis. Penghasilan yang diperoleh mas Mahdis juga terbilang lumayan untuk nafkah anak dan istrinya.
Mas Mahdis mengakui bahwa OYPMK pada awal pengobatan mengalami kendala dan keterbatasan fisik. Namun ketika pulih mereka bisa beraktivitas seperti semula. Stigma yang dianggap bahwa OYPMK biasanya memiliki pendidikan rendah memang belum bisa dihilangkan begitu saja. Namun jika diberi kesempatan dan ruang yang sama luasnya, mereka pun bisa berkarya sama hebatnya.
Kendala yang masih sering dialami oleh para penderita kusta dan OYPMK adalah akses menuju tempat kesehatan dan ruang kesempatan yang lebar untuk berkarya. Stigma masyarakat yang menempel erat masih menjadi PR besar bagi pemerintah dalam meningkatkan literasi dan pemahamannya. Semoga kesempatan yang sama lebarnya bisa terus dapat diberikan kepada kawan-kawan OYPMK dan penyandang disabilitas di daerah lain