Bertemu Anak Kembar, Hindari Melakukan Hal Ini!

Apa yang anda rasakan ketika melihat anak kembar? Terlihat lucu dan kompak yaa… Namun tahukah anda, bahwa beberapa hal yang anda katakan bisa sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang si anak?

Hal tersebut sering kami alami. Sebagai ibu dari dua bocah kembar, saya sering merasa kewalahan menghadapi akibat dari celetukan atau asumsi orang lain yang melihat anak kembar. Memang sepertinya apa yang anda tanyakan atau katakan terlihat wajar. Namun, bagi anak kembar, hal tersebut bisa menjadi hal yang sensitif.

Berikut beberapa hal yang harus anda hindari ketika melihat anak kembar:

Membanding-bandingkan

Anak yang lahir sebagai kembar identik, memang terlihat sangat mirip. Bahkan sangat sulit untuk dibedakan. Apalagi bagi kita yang baru pertama kali bertemu atau sangat jarang bertemu. Namun begitu, satu hal yang harus kita sadari, bahwa semirip apapun, mereka tetap dua pribadi yang berbeda. Jadi sangat tidak bijak membandingkan keduanya. Bagaimanapun juga anak kembar pasti memiliki perbedaan.

Hal yang sama sering kami alami, ketika bertemu orang di jalan, atau saudara yang lama tidak bertemu. Berikut beberapa perkataan yang pernah kami temui:

“oh yang kakaknya lebih tinggi dan ternyata adiknya badannya lebih kurus ya?”

“Oh, adiknya lebih ceriwis daripada kakaknya..”

“Adiknya lebih pemalu dan jutek dibandingkan kakaknya. Kakaknya lebih ramah yaa…”

Jika memang anda ingin bertanya atau mengambil kesimpulan dari kedua bocah kembar, ucapkanlah perbedaan-perbedaan itu tidak dihadapan si anak. Jika memang ada anaknya, ucapkan hal-hal tanpa menjatuhkan yang lainnya. Misal:

“Oh yang ini matanya cantik, kalau yang ini rambutnya bagus…”

“Kakaknya yang pintar bercerita, Kalau adiknya yang senyumnya cantik…”

Dengan memberikan dua pujian yang sama-sama, tanpa menjatuhkan, maka si anak akan fokus pada hal indah dalam dirinya masing-masing tanpa merasa tersaingi.

         Baca Juga : Si Kembar Belajar Puasa

Sebagai orang tua dari anak kembar, sering sekali kami mendapat PR untuk membantu si anak mengembalikan rasa percaya dirinya setelah mendapat komentar perbandingan yang negatif dari orang-orang yang ditemuinya.

“Bunda, apa benar aku tidak secantik kakak? Kenapa badanku kurus, gak seperti kakak?”

“Bunda, kenapa aku tidak pandai bercerita seperti adik? Apa aku tidak sepintar adik?”

Hal-hal seperti itu kadang membuat kami harus banyak-banyak menambah stok sabar dan istighfar.

Memperuncing Persaingan Antar Saudara

Lahir sebagai anak kembar, maka mereka bukan hanya terlahir bersama teman, tapi bisa juga  terlahir bersama saingannya. Sejak di dalam rahim mereka bersaing memperoleh nutrisi dari satu ibu. Mereka tumbuh dengan bersaing memperoleh perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Maka, hal yang seharusnya bisa mereka bagi menjadi hal yang mereka perebutkan. Mereka menjadi bersaing satu sama lain.

Pernah mendengar tentang “Sibling Rivalry?”

Jika orang tua dengan satu anak baru merasakan jungkir baliknya menghadapi anak bertengkar setelah anaknya punya adik baru, punya teman, atau setelah anaknya bersekolah, maka kami sudah menghadapi anak saling cakar dan saling gigit sejak mereka masih bayi. Berat? Iya pada awalnya setiap mereka bertengkar, hati kami hancur berantakan. Setiap melihat mereka saling pukul dan saling gigit, kami merasa menjadi orang tua yang gagal.

Kami butuh waktu dan tenaga untuk mengajarkan mereka berbagi dan bekerja sama. Kami jatuh bangun membangun rasa saling menjaga dan saling peduli. Karena kami percaya, mereka adalah sahabat yang bisa saling membantu dan berbagi. Tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin.

Setelah melewati fase saling baku hantam, lantas tiba-tiba ketika ada orang lain yang tiba-tiba berbicara:

“Kamu jangan sampai kalah ya sama saudaramu! Kamu harus lebih pintar! Kamu harus bisa menang!”

         Baca Juga: Si Kembar Masuk SD

Mendengar ucapan seperti itu, bukan hanya membuat merah telinga kami, namun kami bisa berubah menjadi monster yang paling menakutkan di depan anda. Apa hal tersebut pernah kami rasakan? Iya, Pernah! Karena itu kami mohon, jangan peruncing persaingan. Jikalaupun harus berlomba, biarkan mereka bersaing dengan orang lain, tapi tidak dengan saudaranya sendiri.

Memaksakan Harus Serba Sama

Jika anda menganggap bahwa anak kembar itu berarti semua harus sama, maka anda salah besar.

Anak yang lahir sebagai kembar identik, mungkin memiliki wajah yang sangat mirip. Namun mereka tetap dua orang yang berbeda. Mereka memiliki karakter masing-masing, yang terkadang karakternya berbeda 180 derajat. Mereka memiliki kesukaan dan selera masing-masing, yang terkadang tidak sama. Karena itu memaksa mereka memakai semua harus serba sama hanya agar kelihatan lucu, itu sangat tidak adil bagi mereka.

Ketika masih bayi, memilihkan semuanya serba sama mungkin tidak masalah. Banyak yang memilih semua serba sama demi kepraktisan. Membeli baju bayi 1 lusin sekaligus agar harganya lebih murah, memang lebih efisien. Namun hal tersebut tidak berlaku lagi jika mereka sudah mulai bisa memilih dan memiliki selera.

Kami mulai mengajarkan dua bocah kembar kami untuk memiliki selera masing-masing sejak masih kecil. Kami memberikan kebebasan bagi mereka untuk memilih apa yang mereka sukai, tanpa paksaan. Kami belajar menerima selera mereka meski kadang terasa aneh bagi kami. Selera si kakak yang cenderung lebih boyish dan selera si adik yang cenderung lebih girly membuat mereka memiliki karakternya masing-masing tanpa terpengaruh saudara kembarnya. Maka jika ada yang memaksakan mereka memakai baju yang harus sama persis ketika datang ke pesta, bisa menjadi siksaan tersendiri bagi mereka.

Jika anda bermaksud memberikan oleh-oleh untuk anak kembar, pelajari dulu sifat dan karakternya. Tanyakan pada orang tuanya apa kesukaan masing-masing anak. Jika anda tidak ingin hadiah anda menjadi sia-sia, bijaklah dalam memilih sesuai kepribadian anak.

Meminta Melakukan Hal Yang Sama Seperti Saudaranya

Setiap anak terlahir dengan talenta dan bakat masing-masing. Demikian juga dengan anak kembar. Meski memiliki wajah yang serupa, namun terkadang kemampuan, bakat dan minat mereka sangat berbeda. Karena itu jangan sesekali meminta mereka melakukan hal yang sama seperti saudara kembarnya.

“Kakakmu pintar mewarnai, kok mewarnaimu kayak gini!”

Atau

“Lihat kakakmu gak gampang nangis kayak kamu!”

Jika memang ingin memberi motivasi agar anak melakukan hal yang baik, hindarilah membanding-bandingkan dan memintanya melakukan hal yang sama dengan saudaranya. Dibandingkan dengan orang lain saja kita tidak mau, apalagi dibandingkan dengan saudara sendiri. Hal ini bisa membuat hal yang kurang menyenangkan dengan saudaranya.

Tidak semua anak kembar sama-sama terlahir dengan kemampuan yang setara. Satu anak bisa terlahir dengan kemampuan motorik yang menonjol dan anak yang lain terlahir dengan kemampuan bahasa yang menonjol. Tentu saja itu bukan hal yang salah atau keliru. Bukankah memang kemampuan setiap orang berbeda-beda?

Orang tua dari anak kembar terkadang memiliki beban untuk bisa menyesuaikan gaya belajar sesuai dengan kemampuan dan kepribadian masing-masing anak. Jadi sebaiknya jangan tambah beban orang tuanya dengan membanding-bandingkan dan meminta anak kembar melakukan hal yang sama. Karena anak kembar bukan robot yang bisa diprogram agar bisa melakukan gerakan yang sama persis.

Mari saling bertoleransi dan belajar berempati!



Related Posts :

7 Comments :

  1. Aduuhh ini plek banget sih sama anak-anak. Mereka memang nggak kembar, tapi karena jaraknya cuma 1,5 tahun, banyak orang pikir mereka kembar. alhasil dibanding2in abis-abisan.

    Bikin PR orang tua di rumah jadi makin banyak deh kalo kayak gini >.< heheh

    1. Sama kayak adikku dulu. Sama-sama laki-lakinya, jaraknya deketan, suka dikira kembar. Padahal bukan. heuheu…


  2. Sebenarnya ini ga hanya berlaku buat anak kembar aja y. Buat kakak adik jg sering terjadi tuh. Dibanding2in. “Ih kakaknya jutek y, adiknya lebih ramah.” Atau, “kakaknya juara kelas terus, lah adiknya kok nggak?” Dianggapnya mentang2 satu bapak, satu ibu jd harus sama gt atu gmn?

    1. Setuju! Dibanding-bandingin emang gak enak yaa….


  3. makasih sharingnya, mbak. intinya kita sebaiknya jangan membanding-bandingkan anak satu dengan yang lainnya ya. apalagi kalau kembar

    1. Hahaha… good point, mbak 🙂


  4. Poinnya : Jangan tambahin beban orangtuanya dengan membanding-bandingkan dan meminta anak kembar melakukan hal yang sama. Apalagi Saya yang anaknya bukan kembar identik. *maap curcol*
    Karena masih bayi, bebannya belum kerasa banget.. Doakan semoga saya kuat memikul beban itu. hihi


Leave a Reply :

* Your email address will not be published.

ABOUT ME
black-and-white-1278713_960_720
Hi I’am Wiwid Wadmira

I am a mom of twin who love reading, writing and de cluttering. I blog about my parenting style, financial things & reviews. You may contact me at mykirakara@gmail.com

------------------
My Instagram
Invalid Data