Sejak Mas Vino meninggal, otomatis aku harus melakukan banyak langkah penghematan di segala bidang. Mulai dari mengatur pengeluaran, meminimalisir dan bahkan menghapus semua pemakaian yang tidak diperlukan lagi. Untuk listrik misalnya, aku pensiunkan lebih dini komputer yang biasa dipake mas Vino, karena aku dan anak-anak terbiasa bekerja, belajar dan mengerjakan banyak tugas menggunakan laptop kami masing-masing.
Lalu untuk penggunaan pendingin ruangan, aku mulai membatasi penggunaan AC hanya untuk malam hari saja. Lalu siang hari aku ganti menggunakan kipas angin. Kebetulan rumah kami memiliki bukaan pintu dan jendela lumayan lebar, jadi sirkulasi udara semakin bagus. Ditambah adanya stand fan, maka otomatis kerja penyejuk ruangan semakin maksimal. Selain untuk menghemat anggaran rumah tangga, aku juga butuh perubahan suasana di rumah.
Rekomendasi Laptop Terbaik Untuk Pekerja dan Pelajar
Kalau dulu aku berpikir laptop itu ya sekadar alat untuk mengetik dan browsing, punya anak SMA membuat definisi itu berubah total. Di rumah, laptop sekarang bisa berpindah tangan berkali-kali dalam sehari. Pagi dipakai untuk mencari bahan pelajaran, siang untuk mengerjakan makalah, sore berganti menjadi alat editing foto atau video, dan malam… entah bagaimana tiba-tiba ada tugas baru yang deadline-nya besok pagi.
ASUS ExpertBook P5 G2 : Ketika Laptop Harus Setangguh Hidup Pemiliknya
Menjadi single mom sekaligus freelancer membuat aku belajar satu hal, bahwa pekerjaan bisa datang kapan saja, dari mana saja, dan kadang justru di saat yang paling tidak terduga. Rutinitas pagiku dimulai dengan menyiapkan kebutuhan anak, lalu dilanjutkan dengan beberes beberapa pekerjaan rumah, menyelesaikan laporan-laporan sebagai “pelayan” warga, sore mengejar deadline, lalu malam kembali membuka laptop setelah rumah mulai tenang.
Tidak ada istilah benar-benar “pulang kantor” karena kantorku bisa dimana saja. Kadang di ruang tamu, kadang di dapur sambil menunggu sayur matang, kadang sambil menunggu mesin laundry bekerja. Makanya, buat aku, memilih laptop bukan sekadar soal spesifikasi tinggi atau desain yang terlihat cantik di atas meja. Laptop adalah partner kerja. Idealnya laptopku harus cukup ringan untuk dibawa, cukup powerful untuk diajak multitasking, dan yang paling penting, cukup tangguh untuk mengikuti ritme hidup yang kadang lebih cepat daripada rencana yang sudah dibuat.
Mata kering jangan disepelein, bisa berakibat fatal!
Itu yang selalu aku tanamkan di anak-anakku mengingat mereka memiliki riwayat kesehatan mata yang panjang akibat lahir prematur. Bagi kami, menjaga kesehatan mata itu sama pentingnya dengan menjaga kesehatan organ tubuh yang lain. Pernah anakku hampir operasi mata karena riwayat kesehatan mata yang susah untuk dihindari saat lahir. Sejak saat itu setiap kali anakku mengeluh matanya perih, aku melarangnya mengucek, karena kalau infeksi bisa berakibat makin fatal
Fisiohome Partner Fisioterapi Profesional Merawat Lansia Di Rumah
Hingga hari ini tercatat sudah lebih dari 16 tahun aku merawat lansia di rumah. Sejak menikah aku tinggal bersama dan merawat mertua yang sudah sakit stroke. Merawat lansia, apalagi yang memiliki riwayat penyakit bawaan seperti stroke, selalu ada saja tantangannya. Tantangan ini yang kadang bukan hanya membuat badan dan hati lelah tapi juga menguras mental dan isi dompet.
Healing itu penting bukan cuma buat refreshing otak tapi juga buat skin barrier kita. Kondisi kulit kita membutuhkan ion negatif untuk membuatnya tetap sehat. Ion negatif tersedia berlimpah di alam terutama di daerah pantai, pegunungan dan air terjun.
Kondisi perkotaan, hunian padat penduduk yang penuh polusi serta perubahan iklim dapat merusak skin barrier atau lapisan terluar kulit. Bukan hanya itu. Menurut Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology, suhu dan kelembaban udara yang terus berubah secara ekstrim dapat memperburuk infeksi serta peradangan kulit. Akibatnya risiko iritasi, infeksi, eksim hingga berbagai masalah kulit sering terjadi.
Memperingati Hari Kusta Sedunia bersama NLR dan Kementerian Kesehatan Indonesia
Tanggal 28 Januari kemarin diperingati sebagai Hari Kusta Sedunia atau World Leprosy Day. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita kusta terbesar ke-3 sedunia setelah India dan Brazil, rasanya memang harus terus bergerak untuk mengurangi angka penularan dan stigma di masyarakat. Dalam rangka World Leprosy Day tersebut, Ruang Publik KBR tanggal 30 Januari 2024 kemarin menghadirkan Ibu Hana Krismawati, M. Sc seorang pegiat Kusta dan analis kebijakan dari Pusat Sistem dan strategi kesehatan Kementerian Indonesia dan Agus Wijayanto, MMID, Direktur eksekutif NLR Indonesia.
Menemani penyandang disabilitas dalam pesta rakyat pemilihan umum bukan hal baru dan langka bagi saya. Selain papa mertua yang terkena stroke dan harus belasan tahun duduk di kursi roda, dulu saya punya kawan low vision yang penglihatannya terbatas. Saat itu sama-sama pertama kalinya bagi kami merasakan pemilihan umum, sehingga kami janjian pergi bersama-sama. Ketika itu saya tidak tahu kalau ada kertas suara yang ada brailenya. Saya ingat betul kawan saya dituntun memasuki bilik suara oleh kedua orang tuanya dan dipandu dalam memilih.
Chiling dan Healing Bagi OYPMK dan Penyandang Disabilitas, Perlukah?
Saat ini, kata healing sering digaungkan dalam media sosial (medsos) atau bahkan kita mendengarkan dari orang terdekat. Pergi ke mall, olahraga atau kemanapun tempatnya akan dikatakan sebagai healing. Healing sendiri dalam kamus Bahasa Inggris diartikan sebagai penyembuhan. Sedangkan chilling dari chill, mengandung makna santai. Kata ini juga sering digunakan untuk menggambarkan istilah “menenangkan diri”.
Chilling dan healing sangat dibutuhkan bagi setiap individu yang hidup. Mengapa? Karena kedua kegiatan tersebut mempunyai dampak besar bagi manusia. Secara umum, salah satunya adalah untuk menyegarkan kembali jiwa raga setelah mengalami kepenatan kegiatan. Sedangkan secara khusus, tergantung peristiwa yang dialami. Akan tetapi, bagaimana dengan chilling dan healing bagi OYPMK (Orang Yang Pernah Menderita Kusta) dan penyandang disabilitas?
Dalam talkshow Ruang Publik KBR yang bekerja sama NLR kali ini mengusung tema tentang ‘Chilling dan Healing bagi OYPMK dan penyandang disabilitas, Perlukah?’ Acara yang dibawakan dengan menyenangkan oleh host KBR, Rizal Wijaya. Turut mengundang Donna Swita selaku Executive Director Institute of Woman Empowerment (IWE) dan Ardiansyah (OYPMK) yang menjabat sebagai Wakil Ketua Konsorsium Pelita Indonesia.
Menurut Donna Swita, definisi healing adalah penyembuhan pada sesuatu yang berdampak pada psikis dan emosi seseorang. Healing tidak hanya dibutuhkan oleh OYPMK, tetapi semua orang membutuhkan. Mengenai healing atau pemulihan diri atau perawatan, ada 5 dimensi penting, diantaranya adalah:
Dimensi fisik, dalam dimensi ini berbicara tentang kesehatan fisik. Misalnya saja, karena kurang istirahat akhirnya berdampak dengan fisik.
Dimensi psikis, stress karena banyak stigma yang harus dibenahi.
Mental
Relasi, berhubungan dengan orang tua dan orang lingkungan sekitar.
Spiritual
Dari kelima dimensi tersebut bisa dilihat, dimensi mana yang paling dibutuhkan oleh OYPMK dan penyandang disabilitas. Karena setiap orang memiliki proses pemulihan yang berbeda. Tergantung dimensi permasalahan yang dihadapi. Namun, dari semuanya, yang terpenting adalah informasi atau pengetahuan. Pemanfaatan kecanggihan teknologi dalam menggali ilmu pengetahuan tentang penyakit kusta seharusnya lebih mudah diperoleh dan dicari. Hanya dengan mengetik kalimat kusta atau healing misalnya, maka akan segera bermunculan informasi yang dicari.
Sekarang ini, kebanyakan orang memanfaatkan teknologi pintar dalam hal medsos, namun tidak banyak yang mampu mencari informasi dan membaca dari sumber yang valid. Akhirnya, banyak yang terperosok berita bohong, atau bahkan stigma lama yang masih dipakai. Sehingga pandangan mengenai penyakit kusta pun masih saja sama. Padahal informasi mengenai kusta ada sudah banyak digaungkan. Tidak semua orang bisa menerima OYPMK karena keterbatasan pengetahuan atau lebih percaya berita yang tidak jelas alias hoaks.
Menurut salah satu sumber yang hadir dalam Ruang Publik KBR yaitu, Ardiansyah selaku OYPMK dan Wakil Ketua Konsorsium Pelita Indonesia. Beliau mengatakan bahwa healing sangat dibutuhkan bagi OYPMK dan penyandang disabilitas. OYPMK lebih banyak menutup diri dan pada akhirnya tidak mempunyai teman untuk bercerita dan berkeluh kesah. Stigma tidak diterima masyarakat terlanjur melekat karena banyak OYPMK yang mengalami. Pada akhirnya, perasaan tertekan dan takut menceritakan penyakitnya membuat OYPMK menutup diri.
Seperti yang dialami Ardiansyah, bagaimana penolakan orang tua dan lingkungan terhadapnya. Rasa tertekan dan penolakan ini membuat Ardiansyah mencari dukungan dari luar. Beruntung sekali Ardiansyah menemukan teman-teman organisasi yang sangat mendukung. Namun tidak semua OYPMK bisa mengatasi penolakan. Ardiansyah memiliki strategi, yaitu:
Percaya Tuhan: harus berpikir bahwa ini adalah rencana Tuhan dan manusia tidak tahu rencana Tuhan. Sehingga harus menerima semua yang dialami.
Berpikir positif ke depan: ingin berubah atau tidak kembali pada diri sendiri. Yang menentukan langkah ke depan adalah diri sendiri bukan orang lain.
Melanjutkan hidup
Meng-edukasi orang-orang sekitar
Bahwa semua kembali pada diri sendiri, sehingga orang-orang di sekitar bisa menjadi support system OYPMK dan penyandang disabilitas.
Ada salah seorang penanya yang menanyakan, mengapa proses healing tidak memanfaatkan kecanggihan teknologi agar OYPMK dan penyandang disabilitas tidak ketinggalan teknologi alias melek teknologi. Menurut Ardiansyah, bisa saja memanfaatkan teknologi. Namun sayangnya, tidak semua berpendidikan tinggi. Banyak yang tinggal di daerah pelosok. Upaya penyembuhan lebih difokuskan pada mengatasi luka hati, yang membutuhkan proses lebih lama dari pada teknologi.
Ardiansyah mengatakan, salah satu cara healing yang mungkin ampuh adalah menulis. Dengan menulis tentang diri sendiri, bisa menceritakan atau menumpahkan segala apa yang dirasakan dan dipikirkan. Ardiansyah juga membagikan kisahnya tentang langkah kongkrit yang dilakukan saat harus meyakinkan kedua orang tua (terutama ibu) dan orang terdekat. Langkah tersebut adalah:
Meningkatkan kemampuan diri di berbagai bidang (apa yang disukai kembangkan).
Jangan membatasi diri, perluas relasi agar menguasai teknologi dan informasi.
Menjadi OYPMK dan penyandang disabilitas jangan dijadikan alasan untuk menutup diri atau membatasi diri, tetapi buktikan bahwa dalam keterbatasan ada kesempatan yang sama. Di mata Tuhan, semua sama.