Biaya-Biaya Yang Dibutuhkan Selama Masa Kehamilan Hingga Setelah Melahirkan

Biaya-Biaya Yang Dibutuhkan Selama Masa Kehamilan Hingga Setelah Melahirkan – Untuk mendapatkan anak cerdas dan sehat itu perlu persiapan. Bukan hanya persiapan fisik, persiapan ilmu, namun juga persiapan finansial. Buat para calon ayah mungkin yang ada dipikiran ketika mengetahui istrinya hami adalah memikirkan biaya persalinan. Padahal selama masa kehamilan dan setelah melahirkan ada biaya-biaya yang harus disiapkan juga. Seorang suami siaga itu bukan hanya ada di samping istri ketika menjelang persalinan saja, tetapi juga menjadi suami yang harus siaga secara finansial.

Berikut beberapa biaya-biaya yang harus dipertimbangkan para calon orang tua:

MASA KEHAMILAN

Selama masa kehamilan dibutuhkan biaya-biaya yang kadang tak terpikirkan oleh para calon orang tua, namun ternyata wajib dikeluarkan juga. Setelah testpack menunjukkan dua garis merah, calon ayah dan ibu bisa mempersiapkan biaya-biaya sebagai berikut:

  • Biaya Kontrol Rutin

Seorang ibu hamil wajib melakukan kontrol secara rutin ke tenaga medis terdekat untuk memantau kondisi kesehatan ibu dan calon buah hatinya. Selain itu selama melakukan kontrol calon ibu dapat berkonsultasi dengan tenaga medis tentang banyak hal mengenai kehamilan dan persalinan. Ketika kontrol rutin, ibu hamil juga akan dibekali beberapa macam vitamin yang harus dikonsumsi untuk menjaga asupan nutrisi sehat selama masa kehamilan. Kontrol rutin tidak harus dilakukan ke dokter di rumah sakit, namun juga bisa dilakukan ke bidan atau puskesmas terdekat. Semua bisa disesuaikan dengan budget biaya yang dimiliki setiap pasangan.

  • Biaya USG

Sesekali lakukan kontrol USG untuk melihat kondisi janin dalam keadaan sehat dan prima. Dengan melakukan USG bidan atau dokter dapat melihat kondisi janin dan memberitahukannya kepada orang tua. Beberapa dokter atau bidan tidak memasukkan biaya USG kedalam biaya kontrol rutin. Namun USG dapat diberikan jika orang tua berkenan atau meminta. Jika dana tidak memungkinkan, orang tua dapat melakukan USG hanya pada saat-saat tertentu sesuai saran petugas medis. Namun bagaimanapun juga, Biaya USG musti dipersiapkan.

  • Biaya Vitamin Tambahan

Untuk mendapatkan anak cerdas dan sehat, dibutuhkan kecukupan nutrisi sehat selama masa kehamilan. Untuk menjaga angka kecukupan nutrisi pada ibu hamil, petugas kesehatan biasanya memberikan resep yang berisi vitamin yang harus dikonsumsi ibu hamil. Vitamin tersebut bisa berupa zat besi, asam folat, kalsium atau vitamin yang lain. Karena kebutuhan vitamin pada ibu hamil berbeda, maka pastikan asupan nutrisi sehat selalu aman terpenuhi dengan menyisihkan sebagian uang untuk keperluan tersebut.

  • Biaya Tasyakuran

Sepertinya sudah jamak terjadi pada banyak keluarga untuk mengadakan pesta tasyakuran sebagai wujud rasa bahagia atas rejeki kehamilan yang di dapat. Bentuk tasyakuran bisa bermacam-macam tergantung agama dan adat istiadat setempat. Tasyakuran bisa berupa mengadakan pengajian, mengundang tetangga sekitar rumah, mengadakan kebaktian, baby shower, acara adat seperti mitoni, ataupun adat-adat yang lain. Karena pasti dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, tidak perlu malu atau menuruti gengsi. Diskusikan dengan keluarga besar yang bisa dimintai bantuan untuk mengurus acara tasyakuran. Sesuaikan budget tasyakuran dengan dana yang dimiliki.

  • Membeli Kebutuhan Bayi

Setelah kehamilan mulai menginjak trisemester terakhir, para calon orang tua biasanya akan mempersiapkan kebutuhan bayi yang akan dilahirkan. Mulai dari popok, baju bayi, bedong, peralatan mandi, hingga berbagai macam perintilan keperluan bayi. Untuk baju, popok maupun bedong sebaiknya tidak perlu terlalu banyak, mengingat baju bayi baru lahir hanya dipakai untuk beberapa bulan saja. Pada umumnya pertumbuhan fisik bayi akan meningkat dengan cepat. Karena itu sesuaikan dengan kebutuhan dan menjaga agar tidak mudah lapar mata. Untuk menghindari over budget, ayah atau ibu bisa mencari testimoni yang terdapat pada banyak website parenting mengenai keperluan bayi. Apakah bisa langsung dibeli atau bisa dicoba untuk sewa. Misalkan soal stroller dan tempat tidur bayi. Tidak semua bayi mau tidur sendiri di box bayi, dan tidak semua bayi bisa menikmati di dorong menggunakan stroller. Beberapa bayi lebih suka  digendong dan didekap ibunya. Sesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan masing-masing keluarga.

MASA PERSALINAN

Memasuki masa persalinan, banyak ibu yang sudah mulai merasa mudah lelah, sesak nafas, sulit tidur dan aneka keluhan tambahan. Para suami juga mulai merasa harap-harap cemas menanti kelahiran sang buah hati dan menyediakan diri menjadi tenaga ekstra untuk tempat mengeluh istrinya dan memijit punggungnya. Di saat bersamaan, seorang suami juga musti siaga secara finansial.

Berikut beberapa biaya yang dibutuhkan selama masa persalinan

  • Biaya Persalinan

Pertimbangkan dan diskusikan dengan istri dan tenaga medis, akan menggunakan metode persalinan normal, atau Caesar. Diskusikan juga tempat persalinan dan cari tahu berapa perkiraan biaya lahir di tempat tersebut. Jangan lupa untuk memilih kelas biaya persalinan sesuai kemampuan. Tanyakan apakah biaya dapat dibantu menggunakan asuransi. Dan cari tahu dengan detil biaya-biaya apa saja yang bisa ditutup menggunakan asuransi.

  • Dana Darurat

Persiapkan dana tambahan yang dibutuhkan jika terjadi hal-hal darurat yang tidak dapat tertutupi dengan asuransi. Selama mas persalinan, semua kemungkinan bisa saja terjadi baik pada ibu maupun bayinya. Setidaknya anda tahu harus menyiapkan jauh sebelum hari persalinan tiba.

PASCA PERSALINAN

Setelah persalinan, ibu dan bayi siap pulang ke rumah, akan ada dana tambahan yang dibutuhkan lagi. Tidak perlu berkecil hati, karena jika semua dipersiapkan sedini mungkin, maka tidak akan menganggu pos dana sehari-hari

Berikut beberapa biaya yang dibutuhkan setelah persalinan:

  • Biaya Imunisasi

Setelah bayi lahir wajib di imunisasi untuk memberikan kekebalan pada tubuh bayi terhadap jenis-jenis penyakit tertentu. Imunisasi tersedia mulai dari yang diwajibkan pemerintah, hingga imunisasi tambahan sesuai permintaan orang tua. Jika imunisasi dilakukan di posyandu, maka biaya imunisasi bisa dihilangkan, karena untuk imunisasi wajib, pemerintah memberikan secara gratis. Namun jika memutuskan untuk melakukan imunisasi di klinik dokter, maka cari tahu berapa perkiraan biayanya. Masing-masing imunisasi memiliki harga yang berbeda-beda.

  • Biaya Kontrol Bayi Rutin

Setelah melahirkan hingga 1-2 tahun ke depan, ada baiknya orang tua melakukan kontrol secara rutin untuk memantau tumbuh kembang buah hatinya. Apakah tumbuh kembangnya sudah sesuai usianya atau belum, bisa dilihat dan dipastikan oleh dokter atau tenaga medis terdekat. Apabila ada kejanggalan atau keanehan yang ditemui, bisa dilakukan tindakan sedini mungkin oleh petugas kesehatan. Selama masa kontrol tersebut, ayah atau ibu bisa juga berkonsultasi mengenai kesehatan buah hatinya. Tentukan tempat kontrol rutin dan sesuaikan dengan dana yang dimiliki.

  • Biaya Kontrol Ibu

Setelah melahirkan, selain bayi, ibu juga wajib kontrol selama minimal 3 bulan untuk memastikan kesehatan organ reproduksinya. Persiapkan dana tambahan untuk melakukan kontrol agar kesehatan ibu melahirkan dapat terus terjaga. Dengan melakukan kontrol rutin, ibu juga dapat berkonsultasi mengenai menyusui dan perawatan pasca persalinan. Jadi tidak ada ruginya menyiapkan dana untuk kontrol ruti ibu melahirkan.

Total dana yang dibutuhkan dari semua proses diatas akan berbeda satu sama lain bergantung banyak fakor. Namun begitu, usahakan untuk terus melakukan kontrol keuangan agar tidak over budget dan berkesan memaksakan diri. Sesuaikan semua kebutuhan dengan kemampuan finansial yang dimiliki. Tidak perlu mengandalkan gengsi atau malu.

Persiapan semua dana di atas akan lebih mudah jika menggunakan tabungan yang mudah diambil sewaktu-waktu. Cari bank yang memiliki banyak jaringan ATM untuk mempermudah proses pengambilan jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Jangan menggunakan instrument penyimpanan yang sulit proses pengambilannya seperti Deposito yang biasanya hanya bisa diambil setelah jangka waktu tertentu. Cukup menggunakan tabungan konvensional yang tidak ribet ketika sewaktu-waktu dana dibutuhkan.

Bank yang memiliki jaringan ATM luas bisa menjadi pilihan para calon orang tua mempersiapkan dana kehamilan dan persalinan. Bank merupakan tempat yang aman untuk menyimpan uang karena dilindungi oleh LPS atau Lembaga Penjamin Simpanan yang menjamin simpanan nasabah hingga 2 Milyar. Dengan adanya LPS, maka uang nasabah akan aman dari banyak kemungkinan buruk terjadi. Dengan menyimpan di bank, nasabah tidak perlu khawatir dana akan dibawa kabur atau dicuri. Apabila ada pada keadaan yang menyebabkan bank harus ditutup, LPS akan mengganti uang simpananan nasabah tanpa berkurang sepeser pun.

Selain belajar tentang kehamilan, persalinan dan perawatan bayi baru lahir, ada baiknya jika orang tua juga belajar tentang mengatur keuangan. Karena setelah memiliki anak, maka akan ada banyak biaya-biaya tambahan yang harus dipertimbangkan. Karena itu menjadi cerdas finansial sama pentingnya dengan belajar tentang tumbuh kembang bayi.

Selamat mempersiapkan kedatangan buah hati!

Belajar Bahasa Inggris Sejak Dini, Demi Gengsi atau Kebutuhan?

BELAJAR BAHASA INGGRIS SEJAK DINI, DEMI GENGSI ATAU KEBUTUHAN?

Siapa yang sekarang masih menganggap anak kecil ngomong pakai Bahasa Inggris itu hanya sebagai gaya-gayaan saja? Siapa yang masih berpikir bahwa bisa cas cis cus Bahasa Inggris itu cuma untuk pamer gengsi strata sosial saja?

Aduuuhh.. lebih baik hapus deh stereotype seperti itu. Itu sudah gak jaman lagi. Sekarang jaman sudah makin maju. Globalisasi berkembang di segala bidang. Era pasar bebas sudah di mulai. Jangankan generasi muda, pedagang kain di pasar pun sekarang musti bisa berbahasa Inggris. Untuk apa? Ya untuk bersaing dengan pasar dari luar negeri dooong. Sekarang jual mie ayam saja bisa online hingga ke Negara tetangga. Masa sih masih mau mager begitu-begitu aja? Ayo sekarang saatnya mengembangkan sayap lebih lebar.

Naah… karena kebutuhan bahasa yang semakin meningkat inilah, sekarang anak kecil sudah wajib belajar Bahasa Inggris. Anak TK saja sekarang sudah diajari cas cis cus berbahasa Inggris. Bukan hanya di sekolah elit lhoo.. bahkan sekolah TK di pelosok desa sekalipun pengenalan bahasa Inggris ini sudah ada. Jangankan di sekolah, games anak-anak di gadget pun sekarang menggunakan bahasa Inggris semua kan? Pernah merasa heran gak sih kenapa anak bisa mengikuti instruksinya? Ternyata cara kerja otak anak itu amazing luar biasa lhooo…

Roslina Verauli, S.Psi, M.Psi, Psikolog yang menjadi narasumber dalam EF Talkshow, menuturkan bahwa kemampuan otak anak dalam belajar bahasa itu memiliki masa golden moment, yaitu antara usia 0 hingga 6 tahun, dan mengalami puncak tertinggi ketika anak berusia 1 tahun. Terjawab kan kenapa anak rajin bergumam ketika usia 1 tahun’an. Itu karena otaknya bekerja menirukan bunyi-bunyian yang di dengarnya dan menangkap maknanya. Jadi kalau kamu mendengar ada yang bilang anak yang belajar lebih dari 1 bahasa itu bisa bikin terlambat bicara, ternyata itu sebatas mitos belaka. Karena terlambat bicara atau speech delay itu dipengaruhi banyak faktor.

Memangnya anak usia 0 tahun sudah bisa menangkap apa yang kita bicarakan? Jangankan yang sudah lahir, anak yang masih dalam kandungan dan sudah memiliki indera lengkap saja, sudah bisa menerima stimulasi. Ketika di dalam rahim, janin menggunakan indera pendengerannya untuk menerima rangsangan dari luar. Ketika anak sering diperdengarkan murotal bacaan Al-Quran sejak dalam rahim, maka otak anak menyimpan memori tentang bunyi bahasa yang pernah ia dengar sejak di dalam kandungan. Demikian juga dalam berbahasa Inggris. Meskipun baru lahir tetapi diberi stimulasi dengan lagu-lagu berbahasa Inggris, maka otaknya terbiasa mendengar bunyi bahasa tersebut.

Mau anak pinter bahasa Inggris itu sebenarnya gak ribet kok. Kuncinya hanya STIMULASI. Stimulasi seperti apa sih yang bisa kita berikan?

  1. Merespon bunyi-bunyi dari bayi dengan kata. Ketika bayi memegang boneka pisang, misalnya, maka kita bisa meresponnya dengan mengatakan “Banana”. Si bayi akan merekam dalam otaknya bahwa benda kuning berbentuk panjang itu “Banana”. Gampang tho?
  2. Memberi perhatian dan komentar pada apa yang anak lihat. Ketika anak sudah mulai menirukan dengan menyebut kata “Banana”, kita bisa memberikan komentar lanjutan, seperti “Do you want some banana?” atau bisa juga dengan menanyakan “are you hungry? Do you want some banana?”. Ini membantu anak untuk mengeksplorasi kata lewat apa yang ia rasakan.
  3. Bermain social games. Stimulasi bahasa bisa juga dilakukan dengan mengajak anak bermain social games. Karena pada dasarnya anak-anak itu dunianya bermain, maka permainan menjadi stimulasi yang pas. Peraturan dan tata tertib permainan bisa dijelaskan dengan menggunakan bahasa Inggris. Sehingga anak terbiasa mendengar dan berbicara dengan bahasa Inggris dalam suasana yang menyenangkan
  4. Melibatkan anak dalam bermain pura-pura. Siapa sih yang gak senang bermain dengan imajinasi? Anak-anak pasti senang berpura-pura menjadi tokoh favorite super heronya. Bermain pura-pura juga bisa menjadi ajang stimulasi berbahasa yang seru lhoo..
  5. Melibatkan anak dalam percakapan sehari-hari. Nah, stimulasi yang intens dan berkelanjutan inilah yang paling bagus dan cepat dalam perkembangan bahasa anak. Dengan menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari, maka penyerapan bahasa semakin mudah. Tentu saja anak juga jadi tidak merasa terpaksa belajar.

Naah… semua stimulasi di atas bisa dilakukan selama orang tua juga menguasai bahasa itu sendiri. Jika orang tua tidak menguasai bahasanya, tentu saja pemberian stimulasi jadi tidak maksimal. Bagaimana bisa mendapatkan hasil yang maksimal dengan kondisi dan keterbatasan orang tua? Seperti kita tahu, sebagai orang tua keterbatasan kadang bukan hanya pada kemampuan, tetapi juga soal waktu. Dengan segala keterbatasan kita sebagai orang tua, bisakah kita memberikan stimulasi bahasa yang maksimal? Bisa sangat bisa.

                    Baca Juga: Menyiapkan Dana Pendidikan Untuk Anak

Jika orang tua sibuk, atau memiliki keterbatasan dalam memberikan stimulasi berbahasa, anak masih bisa mendapatkan stimulasi yang maksimal dengan memanfaatkan peran lingkungan sekitar dan support sistem yang mumpuni. Jika tinggal dengan saudara ipar yang segambreng dan berjiwa muda, bisa banget dimanfaatkan untuk membantu anak-anak mendapatkan stimulasi bahasa yang maksimal. Kali aja tinggal bareng 3 saudara ipar yang memiliki kemampuan berbahasa asing berbeda-beda, wuaah kece banget deh pastinya. Lalu bagaimana jika lingkungan tempat tinggal pun juga tidak mendukung?

Ya udah masukkan saja ke EF English First!

Kata Darius Sinathrya dan Donna Agnesia, itulah yang mereka lakukan ke anak-anak mereka sejak kecil. Padahal mereka belum sekolah, kenapa kok dimasukkan untuk ikut les Bahasa Inggris? Karena sebenarnya les itu bukan untuk memperbaiki nilai yang jelek. Les itu untuk menunjang kesukaan dan kebutuhan anak. Les itu harus menyenangkan. Les itu harus seru. Dan anak seharusnya menikmati waktu lesnya.

Darius dan Donna memutuskan untuk memasukkan anak-anak mereka ke EF English First bukan untuk Gengsi. Catat ya! Bukan untuk Gengsi, anak artis harus bisa cas cis cus Bahasa Inggris. Bukan! Darius dan Donna memasukkan anak-anak mereka ke EF karena kebutuhan berbahasa Inggris yang makin tinggi. Di EF anak-anak bisa mendapat stimulasi dengan benar dan maksimal, tetapi anak-anak bisa tetap senang melakukannya. Terbukti anak-anak Darius dan Donna hafal sekali kapan waktunya ke EF. Dan ketika mereka harus belajar di EF, mereka tidak mau diajak menghadiri acara yang lain, karena datang ke EF lebih menyenangkan. Naah… Kalau stimulasinya seperti itu, pasti anak-anak senang. Hasilnya pun juga bisa maksimal.

Sebagai penyedia jasa kursus bahasa Inggris, EF English First bisa menjadi pilihan bagi orang tua yang ingin mendidik anak menjadi generasi yang multilingual. Kita tahu dengan segala kesibukan dan keterbatasan kita, tidak bisa menutup kemungkinan kita pun kadang membutuhkan support sistem dalam membantu mendidik anak-anak. Dengan memiliki kemampuan lebih dalam berbahasa, tentu akan meningkatkan rasa percaya diri anak-anak.

Berdasarkan penelitian, anak yang memiliki keterampilan multilingual memiliki IQ lebih tinggi. Sehingga anak juga memiliki kecerdasan sosiokultural yang lebih dibandingkan teman seusianya. Karena anak multilingual akan memiliki kemampuan memetakan penalaran dan flesibilitas dalam berpikir, maka biasanya anak tersebut bisa tumbuh menjadi pribadi yang mampu bersaing dengan sesamanya. Ternyata mendidik anak multilingual itu punya banyak manfaat yaa… Bukan sekedar demi gengsi.

Ketika Si Kembar Belajar Puasa

KETIKA SI KEMBAR BELAJAR PUASA – Satu Ramadhan kembali berlalu. Setiap orang, setiap keluarga tentu menyimpan kenangan tentang Ramadhannya masing-masing. Termasuk keluarga kami. Tahun ini adalah tahun kedua bocah kembar kami belajar puasa. Mungkin buat sebagian orang kisah kami biasa-biasa saja. Banyak yang menjalani hal serupa, bahkan jauh lebih baik. Namun cerita ini bukan tentang siapa yang lebih hebat. Ini hanya cerita orang tua tentang perjalanan anak-anaknya.

Kami tidak pernah memaksakan atau memiliki target bocah kami harus sudah puasa penuh umur sekian. Kami menjalani dan mengajarinya dengan penuh suka cita, tidak ada paksaan, atau iming-iming segala macam. Kami percaya bahwa ibadah adalah tentang perjalanan spiritual masing-masing individu. Tidak bisa dipaksakan apalagi dicampuri.

Kira dan Kara mengenal puasa jauh sebelum mereka benar-benar ikut berpuasa. Sejak umur 2-3 tahun’an, mereka sering terbangun ketika kami sedang bersantap sahur bersama. Karena tinggal dengan mertua, maka hampir setiap santap sahur rumah kami riuh rendah dan meriah oleh celoteh anggota keluarga. Maklum serumah isinya orang banyak yang senang ngobrol dan diskusi bahkan bergosip. Karena itu suasana sahur di rumah kami selalu meriah. Ditambah lagi suara TV yang selalu menyala setiap kali papa bangun tidur, menambah kemeriahan suasana sahur di rumah kami.

Rupanya kemeriahan itulah yang sering mengundang Kira dan Kara untuk ikut bangun dan “makan” sahur. Dulu ketika terbangun mereka akan ikut makan apa saja yang buat mereka menyenangkan. Mulai dari susu, kue, roti atau apa saja yang tersaji di meja kecil di depan TV. Dan semua itu mereka lakukan karena rasa penasaran, dengan sukarela, tanpa dipaksa. Mungkin mereka menganggap makan bareng di pagi buta bersama-sama itu sama menyenangkannya, hingga rasa kantuk pun terkalahkan oleh rasa penasaran. Selesai santap sahur dan sholat shubuh mereka pun kembali terlelap.

Dalam perjalanannya mereka lalu bertanya, kenapa ayah, bunda, uti, akung, dan om selalu makan ketika masih gelap? Saat itulah kami mengenalkan tentang makan sahur dan apa itu puasa. Maka sejak itu mereka penasaran seperti apa rasanya puasa, dan beberapa kali minta untuk ikut puasa. Saya menjanjikan tahun depan, ketika usianya sudah lebih dari 5 tahun mereka boleh ikut berpuasa. Bukan karena apa, tapi karena berat badan mereka yang selalu bikin dag dig dug. Mungkin berat badan Kira tak terlalu mengkhawatirkan, namun berat badan Kara selalu mengundang rasa tak tega jika mengijinkannya untuk berpuasa. Bisa bayangkan, disaat sekarang umurnya genap 7 tahun, berat badannya tak lebih dari 14 kg. Bukan, bukan karena ia kurang gizi, tapi karena dia termasuk tipe slow growth. Seluruh tumbuh kembangnya normal, hanya berat badannya saja susah naiknya. Tak usah tanya kenapa, cukup tengok saja siapa ibunya.

Mengijinkan Kira dan Kara berpuasa dan mengajarkan mereka untuk menahan rasa lapar dan haus sebenarnya bukan hal yang susah bagi kami. Kenapa? Karena memang sangat jarang mereka mengeluh lapar di kesehariannya. Bahkan lebih banyak diingatkan ketika waktunya makan tiba, dibandingkan mereka mengeluh lapar terlebih dahulu. Malah terkadang saya sengaja tidak masak apapun sampai mereka sendiri minta makan. Tega? Ya antara tega dan gak tega. Cuma penasaran saja, sebenarnya mereka ini punya rasa lapar atau tidak..  ^_^

Sesuai janji saya tahun sebelumnya, ketika usianya sudah lebih dari 5 tahun, saya ijinkan mereka untuk ikut berpuasa. Karena masih belajar, seperti kebanyakan anak-anak yang lain mereka masih berpuasa setengah hari. Itu berarti sehari mereka masih makan 3 kali. Bedanya hanya mengatur jam makannya dan jam cemilannya. Tengah hari ketika adzan Dhuhur mereka boleh makan berat dan cemilan sekaligus. Setelah itu kembali berpuasa hingga waktu adzan Maghrib tiba. Tak dinyana ternyata mereka sangat konsisten menjalankan puasa pertamanya. Kami hampir tak mengalami kendala berarti mengajarkan mereka berpuasa. Mulai dari bangun sahur, mengajarkan kapan boleh makan dan kapan harus berhenti, semua dijalani dengan keikhlasan dan kesadaran. Bahkan bisa dibilang mereka jauh lebih konsisten dari saya sendiri. Padahal ketika tahun pertama belajar puasa, kita sedang mudik di rumah ibu di Ngawi. Ketika menempuh perjalanan pulang dari Ngawi ke Surabaya saya sudah berpikiran jika mereka haus di jalan, saya akan mengijinkan mereka untuk membatalkan puasanya. Ternyataa mereka konsisten dan menunggu saat benar-benar waktu berbuka tiba. Jadi tahun pertama puasa dijalankan dengan sukses oleh mereka. Alhamdulillah.

Menginjak tahun kedua, kami masih belum memaksa atau meminta untuk puasa satu hari penuh. Lagi-lagi selain karena pertimbangan berat badan, kami ingin mereka menjalani ibadah karena keinginan sendiri. Menjalankan puasa penuh dengan keinginan sendiri tentu akan lebih mengurangi rewel dan bosan menunggu waktu berbuka tiba. Jadi kami bebaskan mereka untuk puasa sesuai kemampuan mereka. Namanya belajar tentu ditakar sesuai kemampuan sendiri. Bukankah mampu bukan hanya bisa menahan rasa lapar dan haus, tapi juga mampu mengatasi emosi dan mengontrol nafsu diri sendiri. Namun di tahun ini Kira dan Kara sudah tahu kapan waktu berbuka yang sesungguhnya. Sehingga mereka tahu dan punya motivasi untuk bisa terus belajar puasa satu hari penuh.

Seperti harapan kami, pelan-pelan mereka meminta untuk belajar mengupgrade kemampuan sendiri. Di hari kesekian puasa, tiba-tiba Kira minta untuk berbuka ketika adzan Ashar. Dia tidak keberatan meski Kara tetap berbuka ketika adzan Dhuhur. Bukankah kemampuan tiap orang berbeda-beda? Kami ijinkan mereka berbuka diwaktu yang berbeda. Tanpa rewel, tanpa paksaan dan tanpa iming-iming apapun. Kira yang awalnya adzan Ashar makan penuh, lalu minta berbuka Ashar hanya minum dan makan 1 cemilan saja. Lalu dilanjut keesokan harinya minta mencoba puasa satu hari penuh. Alhamdulillah, Kira sukses menjalaninya.

Melihat Kira bisa puasa satu hari penuh, bisa diduga Kara pun penasaran. Diikutilah jejak saudara kembarnya untuk mencoba puasa sampai adzan Ashar, dilanjut keesokan harinya puasa penuh. Alhamdulillah sukses. Tapi karena dasarnya rasa penasaran dan tak ingin kalah, maka untuk Kara masih diselingi pertanyaan sehari 1000x apa adzan Maghrib masih lama. Ternyata belajar pun banyak caranya dan berbeda-beda. Ayo nduk, kita belajar tentang kesadaran diri sendiri dan mengekang keinginan sendiri. Seperti kereta kuda, dibutuhkan tali kekang untuk mengendalikannya agar sampai di tujuan dengan aman dan selamat.

Jadi tahun ini mereka menjalankan puasa on-off antara setengah hari, ¾ hari, hingga puasa satu hari penuh. Insyaallah belajarnya meningkat ya nduk..

Sekali lagi ini bukan tentang siapa yang lebih hebat. Tapi ini tentang catatan sebuah perjalanan.  Selama masih mau untuk terus belajar, maka kalian semua hebaaat!

Kira, Kara Dan Katalog Belanja

katalog belanja

Kira, Kara dan Katalog Belanja – Dulu bocah kembar saya, Kira dan Kara mengenal katalog belanja sebagai etalase gambar. Mereka gembira ketika mampu menyebut nama-nama barang yang ada di dalamnya. “Bunda, lihat susunya ada gambar Elsa..”. Atau dengan sumringah mereka teriak “Bunda, ini Anggur, ini Apel, ini brokoli. Lihat bunda, ini Pisang yang sama biasanya dibelikan uti..” Dengan wajah ceria mereka merasa sudah tahu segalanya hanya dengan menyebutkan beberapa item yang terpampang di dalam katalog. Sungguh wajah yang polos dan penuh suka cita. Sebatas itulah arti katalog belanja bagi Kira dan Kara.

Kini, mereka sudah mulai belajar membaca. Kertas apa saja yang mereka jumpai dan menurut mereka menarik, maka akan mereka baca. Termasuk katalog belanja. Ndilalah, kemarin saya dapat katalog swalayan dekat rumah yang dibawa seorang teman yang datang berkunjung. Tante Nurul menunjukkan ada diskon susu yang biasanya kita beli. Setelah ngobrol ngalor ngidul tentang beberapa issue yang sedang hangat (aka. Ngerumpi), katalog itu saya tinggal di atas meja di teras rumah. Pagi ini, sebelum berangkat sekolah, sambil menunggu ayah selesai bersiap, Kira dan Kara membaca deretan huruf yang mencolok yang ada di katalog tersebut. Maka ketika mata mereka tertuju pada tulisan mencolok, kata “diskon” dan  “beli 2 gratis 1”, tak urung mereka pun bertanya. “Bunda, apa itu DISKON? Beli 2 gratis 1 itu gimana maksudnya?”

Continue reading Kira, Kara Dan Katalog Belanja

Sugar Density: Membuat Air Berwarna Pelangi

Sugar Density: Membuat Air Berwarna Pelangi – Kalau melihat mainan yang warnanya cerah dan meriah, anak-anak pasti suka yaa.. Apalagi bermain air yang warna-warni?! Wuah, dijamin betah. Ternyata kita bisa lho membuat air berwarna-warni tanpa warnanya tercampur satu sama lain. Memanfaatkan tingkat kekentalan gula, kita bisa menghadirkan warna pelangi di air. Seru ya?! Seperti apa caranya? Simak disini..

SUGAR DENSITY
Membuat Sugar Density

Continue reading Sugar Density: Membuat Air Berwarna Pelangi

Kids Whispering

Besok bunda mau berangkat ke Jogja untuk mengikuti acara momBassador SGM. Karena gak bisa bawa si kembar, maka Kira dan Kara stay di rumah sama uti dan ayah. Koordinasi sama uti dan ayah sudah beres. Tinggal berurusan sama si kembar yang belum pernah pisah sama bundanya sama sekali dalam jangka waktu lebih dari 24 jam. Maka whispering wajib dilakukan.

kids whisper

Kid Whispering ini salah satu cara untuk membuat anak-anak stay calm, tetep kalem ketika sesuatu di luar kebiasaan harus terjadi. Seperti harus mengajak mereka ke luar kota, ke tempat baru, menerima tamu baru, menghadiri acara baru, pokoknya semua hal diluar kebiasaan mereka sehari-hari. Termasuk ketika harus ditinggal dinas ayah/bunda nya.

Continue reading Kids Whispering

6 Tips Menghadapi Anak Picky Eater

picky eater

Ada yang anaknya picky eater? Alias memilih-milih makanan. Sediiih banget, dimasakin segala macam yang dimakan ya itu-itu saja. Sudah rempong, jungkir balik sampai salto di dapur, eh yang dimakan tempe lagi, tempe lagi… Belum lagi dengar suara nyinyir tetangga, “ibunya gak telaten masakin nya siih…”. Pengen kunyah batu bata deh rasanya!

Continue reading 6 Tips Menghadapi Anak Picky Eater

Battle Of Surabaya dan Pengalaman Nonton Pertama

Akhirnyaaaa.. setelah satu tahun puasa nonton, pecah telor juga! Untuk pertama kalinya kita nonton lagi, dan kali ini spesial karena nontonnya bareng anak-anak.  Kira dan Kara baru pertama kali masuk bioskop dan nonton di layar yang super lebaar, dengan suara yang cetar membahana.
Hari kamis yang lalu, sedianya kita mau nonton Inside Out, ternyata malah nyasar nonton Battle of Surabaya. Battle of Surabaya memang sudah jadi incaran. Karena kita gak tahu kalau Battle of Surabaya sudah tayang, jadi bilangnya ke Kira dan Kara nonton Inside out. Ternyata setelah sampai di bioskop dan mau beli tiket, diputuskanlah nonton Battle of Surabaya.

Continue reading Battle Of Surabaya dan Pengalaman Nonton Pertama

Anakku Slow Growth

poster KMS Perempuan(2)

Wah ini BBnya kurang! Kok BBnya dibawah garis merah?! Jangan-jangan kurang gizi… Anaknya kurus sekali…

Saya sudah terlalu sering mendengar kalimat-kalimat seperti itu. Apalagi dengan 2 anak yang lahir premature dan perkembangan Berat Badan yang boleh dibilang Slow-growth. Sampai saat ini usia 4 tahun lebih, Berat Badan Kara, salah satu anak kembar saya tidak pernah lolos dari garis merah. Petugas POSYANDU pun sudah sangat hafal dengan KMS yang saya bawa. Tanpa melihat nama, hanya melihat kurva, bisa menebak kalau itu KMS Kara.

Continue reading Anakku Slow Growth