Perjalanan mendampingi bocah menjadi pramuka Garuda sungguh menguras mental.
Si bocah awalnya semangat mengikuti berbagai bimbingan dan tes. Pencapaian tesnya melesat melampaui teman-teman yang lain di sekolahnya. Semangatnya luar biasa. LALUUU… TIBA-TIBA….
Akhir pekan kemarin duo kunyil mengajakku nonton film “Beautiful Boy”. Film ini berkisah tentang seorang anak yang terjerat dalam lubang narkoba. Si anak tumbuh di lingkungan yang sangat kondusif, orang tua kandung dan tiri yang sayang dan kooperatif, dari keluarga dengan ekonomi yang mapan, rumah yang nyaman. Si anak pun tumbuh menjadi anak yang cerdas, berpendidikan baik di lingkungan yang positif. Namun ternyata dia masuk ke dalam jerat narkoba bahkan hingga berkali-kali keluar masuk pusat rehabilitasi.
Beberapa hari lagi Kunyilku akan mengikuti perkemahan di luar kota dalam rangka KTS (Kegiatan Tengah Semester). Seperti layaknya KTS sebelumnya, akan selalu ada perlombaan dan penilaian antar kelas. Setiap siswa diberi kesempatan untuk ambil bagian dalam perlombaan atau penilaian antar kelas. Untuk KTS kali ini Kunyil mendapat jatah lomba Morse berpasangan dengan seorang temannya.
Dalam lomba morse, mereka bekerjasama berpasangan. Satu anak akan mencatat kode morse yang diberikan dan satu anak akan menerjemahkan. Kunyilku yang biasanya enggan bersosialisasi, kali ini jiwa kompetitifnya tergugah. Ia yang tak pernah menyentuh pelajaran pramuka, kali ini serius belajar morse. Hampir setiap saat waktu luang ia gunakan untuk praktik kode morse di setiap coretan tulisannya.
Pagi tadi di tengah kegalauanku aku ngobrol sama anakku. Topiknya tentang kegalauan para ibu di seluruh bumi, “masak apa hari ini?”. Lalu aku katakan, aku pengen makan dadar jagung yang ada udangnya. Sedangkan di dekat rumah tidak ada penjual dadar jagung yang gurih udang. Itu berarti aku harus masak sendiri. Sedangkan kalau masak sendiri, aku malas menyerut biji jagung yang cenderung rusuh dan berantakan.
Para Potterhead tentu tidak asing dengan istilah “veritaserum“. Mungkin kata ini diadaptasi JK Rowling dari kata veracious, sebuah kata dari bahasa latin yang berarti kebenaran. Setelah mendapat tantangan menulis hari ini tentang veracious: selalu berkata jujur, otomatis anganku melompat ke veritserum, ramuan kejujuran dalam serial Harry Potter.
Tahun 2023 adalah tahun terberat dalam buku kehidupanku. Di awal tahun aku kehilangan tiga orang tersayang dalam waktu yang berturut-turut, suamiku, ibuku dan papa mertuaku. Kehilangan tersebut menjadi hantaman hebat dalam hidupku. Aku terpuruk, depresi dan linglung. Meski orang lain melihatku tampak tegar dan kuat, tapi aku tahu aku tidak sedang baik-baik saja.
Salah satu dampak depresiku adalah aku sempat terperangkap dalam impulsive buying. Aku membeli ratusan tas yang bahkan aku tidak tahu mau aku apakan tas-tas ini. Pada saat membeli aku merasa suatu saat aku akan membutuhkannya. Tapi ketika satu persatu tas itu datang, aku bahkan tidak tahu kapan aku akan menggunakannya. Tas-tas yang sangat-sangat banyak itu bahkan tidak lagi muat di lemariku.
Tulisan ini hanya luapan emosi sesaat emak-emak yang butuh menyalurkan 20 ribu kata. Masih pada inget gak beberapa waktu lalu marak berita tentang anak-anak usia SMP yang masih belum bisa membaca. Aku tidak tahu persis apakah benar-benar tidak bisa membaca atau bisa membaca tapi tidak tahu maknanya. Entah yang mana persisnya.
Mungkin mainku kurang jauh. Mungkin mainku masih sebatas pulau Jawa saja. Tapi melihat pola didik anak-anak TK jaman sekarang yang sudah mati-matian digembleng bisa baca tulis dan berhitung, kok rasanya agak aneh ya ada anak SMP yang belum bisa membaca sama sekali. Guru SD kelas 1 saja kalau tahu ada muridnya yang belum bisa membaca sudah mumet sembilan keliling dan melakukan segala upaya untuk bersinergi dengan orang tua murid gimana caranya agar si anak bisa membaca, setidaknya bisa mengeja. Iya apa iya?
NEW YORK, NY – APRIL 22: Actor Nicholas Saputra attends the SAG Indie Party during the 2012 Tribeca Film Festival at the Bowlmor Lanes on April 22, 2012 in New York City. (Photo by Cindy Ord/Getty Images)
Tulisan ini sebenarnya dibuat dalam rangka nulis bareng teman-teman Ning Blogger Surabaya. meski deadline pengumpulan tulisannya sudah lewat, tapi demi meramaikan acara, yuk kita tetap nulis saja. Tema yang diambil adalah “Publik Figur Yang Diinginkan Jadi Tetangga”. Tapi berhubung aku membayangkan jadi tetangga rumah seorang publik figur itu susah, belum lagi kalo mereka kena gosip dan diburu banyak wartawan, jalan perumahan jadi macet. Trus susah ditemui buat ditagih iuran RT, ditambah lagi nomor HP yang gak boleh dipublish jadi yang bisa dihubungi hanya asistennya, yang kadang kalo menganggap urusan bayar iuran RT itu nomor sekian jadi nunggak berbulan-bulan, males banget. Jadi mari kita membayangkan “tetangga” tenda saja. Camping bareng artis selama 3 hari 2 malam. Sama siapa ya enaknya? hhhmmm…
Pengalaman Camping Bertiga di Dlundung, Trawas, Mojokerto
Beberapa waktu lalu aku dan duo kunyil camping bertiga saja di Dlundung, Trawas, Mojokerto. Berkemah seperti ini sudah semacam ritual tahunan bagi kami. Jika biasanya dilakukan berempat bersama ayahnya, maka kemarin hanya berangkat bertiga saja. Seperti biasa, kami berkemah 3 hari 2 malam. Ketika share pengalaman di story sosial media, sempat banyak pertanyaan dari kawan dan kerabat yang muncul. Untuk mengurai pertanyaan-pertanyaan itu, mari kita mulai dari kisah dan pengalaman camping bertiga terlebih dulu.
Ritual camping ini sebenarnya dulu kami buat untuk mengajak duo kunyil merayakan ulang tahunnya dengan suasana berbeda di alam. Eh loh kok ndelalah Kunyil-kunyil nya suka dan ketagihan. Jadilah waktu itu ayahnya berjanji akan mengajak mereka camping berempat saja setiap tahun di bulan mereka ulang tahun. Setelah ayahnya meninggal maka ritual itu masih tetap aku lanjutkan dengan segala dinamika dan suka dukanya bertiga saja.
Kehilangan satu orang tersayang saja sudah menyisakan duka yang panjang. Bagaimana jika dua atau tiga orang sekaligus? Sampai hari ini aku masih belum mampu memahami banyak hal dibaliknya.
Setelah kehilangan tiga orang tersayang dalam waktu kurang dari dua bulan, bisa kah kalian membayangkan rasanya? Percayalah, banyak yang menanyakan hal yang sama kepadaku. Gimana rasanya kehilangan banyak orang dalam waktu yang berdekatan?