Camping Keluarga, Cara Seru Mengisi Liburan Bersama Anak

Aroma liburan sudah tiba. Bawaannya pengen kabur keluar kota. Ditambah lagi liburan kali ini berdekatan dengan momen lebaran. Setelah acara halal bihalal, enaknya ngapain ya? Bagaimana kalau ajak anak-anak camping bersama anggota keluarga yang lain? Insyaallah seru!

Liburan tahun lalu kami juga mengisinya dengan acara camping keluarga. Kami berkemah bersama adik, sepupu dan ponakan. Acara petualangan yang seru seperti ini menjadi cara ampuh  untuk merekatkan persaudaraan bagi anak-anak. Dengan melewati acara liburan yang menyenangkan, mereka akan lebih mudah memiliki kedekatan emosi bersama sepupunya. Liburan seru menjadi kenangan yang akan terbawa hingga mereka kelak dewasa.

Sengaja kami memilih lokasi kemah sendiri dan tidak ikut paket camping yang sedang tren, seperti glamping. Kemah mandiri seperti ini selain lebih murah, suasana dekat dengan alam juga jauh lebih terasa. Semua peralatan seperti tenda, alat masak, dan semacamnya kami persiapkan sendiri. Kami juga melibatkan anak-anak dalam melakukan persiapan, sehingga mereka tahu apa saja yang harus dilakukan ketika mereka akan berpetualang di alam bebas.

Tidak ada tips khusus mengajak anak-anak camping di alam bebas. Agar lebih mudah dan aman, kami mencari lokasi camping di bumi perkemahan atau tempat-tempat yang biasa dijadikan lokasi kemah para pramuka. Bumi perkemahan atau sejenisnya biasanya sudah memiliki fasilitas umum seperti toilet dan air bersih. Mencari perlengkapan pendukung seperti kayu bakar, minyak, atau logistik lain juga relatif lebih mudah.

Waktu berkemah biasanya kami pilih ketika musim kemarau. Selain karena lebih gampang dalam menyiapkan tenda, juga tanah tempat berkemah relatif lebih kering, tidak becek. Kegiatan di alam bebas lebih mudah kami lakukan tanpa khawatir turun hujan. Biasanya kalau di musim hujan, mendirikan tenda menjadi lebih ribet. Selain musti rangkap dua untuk mengurangi air masuk ke dalam, juga harus membuat parit di sekeliling tenda. Karena itu musim kemarau adalah waktu yang paling tepat untuk berkemah bersama anak.

Persiapan yang dilakukan sebenarnya tidak banyak, jika sudah terbiasa camping di alam bebas atau di gunung. Perlengkapan wajib seperti sleeping bag, jaket, lotion anti nyamuk dan obat-obatan pribadi menjadi bekal wajib baik sendiri maupun berkemah bersama anak-anak. Karena lokasi yang kami pilih bukan di daerah yang bercuaca ekstrim, maka persiapan yang kami lakukan juga tidak terlalu ribet. Tenda, sleeping bag dan matras kami sewa dari tempat persewaan peralatan kemah yang banyak tersebar di kota besar. Biasanya tempat tersebut juga sudah menyediakan peralatan pendukung seperti kompor portable, nasting, dan perlengkapan sejenisnya.

Untuk anak-anak kami lebih mengutamakan persiapan mental. Karena di alam bebas, mereka tidak bisa tidur dengan menggunakan lampu tidur. Mereka akan tidur dalam gelap dan diiringi suara-suara alam. Di alam bebas mereka tidak akan menemukan AC seperti di kamar tidurnya, tetapi akan ditemani udara segar alam. Mereka akan bermain dan berpetualang bersama sepupu-sepupunya melihat matahari terbenam dan terbit kembali, juga melihat bintang di malam hari sambil menikmati api unggun dan teh hangat.

Meski jauh hari mereka sangat bersemangat untuk berkemah bersama sepupu-sepupunya, tapi ketika berada di lokasi kemah mereka sempat merasa takut. Apalagi ketika gelap mulai menyapa dan suara-suara asing mulai terdengar, mereka mulai terlihat khawatir. Kebetulan lokasi yang kami pilih dekat dengan waduk dan hutan kecil, maka suara pinggir air dan hutan saling bersahutan sangat meriah di malam hari. Untuk pertama kalinya Kira dan Kara tidur ditemani suara alam, hingga mereka tak butuh waktu lama untuk terlelap.

Kami hanya berkemah semalam. Mengingat ini baru pengalaman pertama bagi anak-anak, kami sengaja tidak mengambil waktu kemah lama. Cukuplah untuk menjadi pengalaman pertama yang tak terlupakan. Maka sejak itu, mereka rajin meminta kalau libur sekolah untuk dijadwalkan pergi berkemah lebih jauh dan lebih lama lagi. Meski sempat merasa takut, ternyata itu menjadi pengalaman yang seru bagi mereka. Bukankah menjadi berani itu bukan berarti tidak merasa takut sama sekali? Menjadi berani adalah tentang kekuatan hati mengatasi rasa takut yang muncul. It’s ok to be affraid. 

Jadi sudah siap camping dan berpetualang bersama para bocah? Kapan lagi menantang diri sendiri untuk memiliki pengalaman tak terlupakan bersama anak-anak?


No Comments :

Leave a Reply :

* Your email address will not be published.

ABOUT ME
black-and-white-1278713_960_720
Hi I’am Wiwid Wadmira

I am a mom of twin who love reading, writing and de cluttering. I blog about my parenting style, financial things & reviews. You may contact me at mykirakara@gmail.com

------------------
My Instagram
Invalid Data