Nduk, pagi ini tiba-tiba bunda terharu. Melihat photo-photomu mulai dari bayi, hingga sekarang sudah mau menjelang 7 tahun. Kalian tumbuh begitu mengagumkan. Yang dulunya sangat takut dengan suara keras dan keramaian, hingga sekarang bicaramu begitu tegas dan terarah. Continue reading Melesatlah Anak Panahku!
Beberapa waktu yang lalu saya mendapat telepon tak terduga. Telepon yang mengaku dari careline SGM Eksplor tersebut menanyakan beberapa hal tentang data diri saya, termasuk menanyakan apakah seandainya terpilih menjadi MOMBassador SGM Eksplor, bersedia mengikuti acara temu Bunda di Yogyakarta tanggal 13-15 Desember. Memang beberapa waktu yang lalu saya diajak untuk mengisi aplikasi pemilihan MOMbassador SGM Eksplor. Tanpa berpikir panjang saya iyakan saja ajakan itu. Alhamdulillah suami pun merestui. Lantas apa sih MOMBassador itu? Ada acara apa saja di TEMU BUNDA SGM Eksplor? Bagaimana perjalanan saya bersama para bunda yang lain? Continue reading Menjadi MOMBassador SGM Eksplor dan Temu Bunda 2016
Begitu kata Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus yang terngiang di telinga saya. Hidup itu sewajarnya saja, kurang lebih seperti itu artinya. Dalam tausyiahnya lebih lanjut Gus Mus menuturkan kalau Nabi Muhammad SAW itu memiliki gaya hidup yang sederhana. Cara berpakaian beliau pun juga sederhana seperti kebanyakan penduduk sekitar. Tidak menonjol atau mencolok, apalagi berlebih-lebihan. Nasihat tersebut melemparkan saya ke ingatan masa lalu. Continue reading Sak Madyo wae!
Setelah hampir 2 minggu tidak memegang laptop, hari ini saya bersorak bahagia bisa pegang keyboard dan mouse lagi. Walau banyak PR menumpuk cantik di sebelah, curcol dulu masih sah kan ya?!
Besok bunda mau berangkat ke Jogja untuk mengikuti acara momBassador SGM. Karena gak bisa bawa si kembar, maka Kira dan Kara stay di rumah sama uti dan ayah. Koordinasi sama uti dan ayah sudah beres. Tinggal berurusan sama si kembar yang belum pernah pisah sama bundanya sama sekali dalam jangka waktu lebih dari 24 jam. Maka whispering wajib dilakukan.
Kid Whispering ini salah satu cara untuk membuat anak-anak stay calm, tetep kalem ketika sesuatu di luar kebiasaan harus terjadi. Seperti harus mengajak mereka ke luar kota, ke tempat baru, menerima tamu baru, menghadiri acara baru, pokoknya semua hal diluar kebiasaan mereka sehari-hari. Termasuk ketika harus ditinggal dinas ayah/bunda nya.
Pernah membayangkan harus ikut suami pindah rumah 10 kali dalam 11 tahun? Ditambah lagi ngopeni 3 anak lelaki, tanpa ART dan harus kejar bocah kesana kemari. Belum lagi beban psikologis dalam beradaptasi dengan lingkungan. Terbayang seperti apa suasananya? Ribet, riweh, riuh rendah penuh teriakan dan tawa di rumah pastinya yaa..
Ternyata kita bisa lho berkebun emas, memiliki lempengan emas yang banyak, hanya dari lima ribuan rupiah. Serius, ini bukan tipuan. Bukan juga iklan menggandakan uang.
Masih ingat investasi dengan pohon emas yang dulu sempat ramai? Pada awalnya menarik sekali ya melihat keuntungan yang akan di dapat dengan berinvestasi emas. Bayangkan kalau kita bisa punya pohon emas yang banyak. Wah.. pasti bisa berkebun emas dong yaa… Namun jadi bertanya-tanya, gimana kalau ternyata investasinya bodong? Hanya tipu-tipu? Sudah susah payah uang dikumpulkan ternyata melayang begitu saja di bawa kabur orang.
Melihat banyak profil tentang wanita-wanita di #UsiaCantik yang berseliweran di timeline sosial media, ingatan saya terbang ke sosok seorang teman. Ia teman yang sangat akrab ketika kita masih tinggal di kost dan bekerja di satu gedung perkantoran yang sama. Tutik Wulandari namanya. Saya biasa memanggilnya “mbak Tutik”, karena usianya beberapa tahun lebih tua dari saya.
Mbak Tutik lahir di tengah keluarga sederhana di Kediri. Kedua orang tuanya kini sudah tak bekerja lagi. Lahir sebagai anak kedua dari 2 bersaudara, kakak perempuannya kini tinggal di Bogor bersama suaminya. Mbak Tutik bekerja sebagai seorang karyawan di sebuah manajemen gedung perkantoran. Saya mengenalnya sebagai sosok yang murah senyum, ramah, cerdas dan cekatan. Namun di usianya yang kini menginjak 36 tahun, Tuhan belum mempertemukan dengan jodohnya. Yang saya kagumi darinya, dengan status single tersebut ia tetap melangkah ringan dengan berbagai aktivitasnya. Ia memang pribadi yang hangat, mudah untuk diajak tertawa dan senang ngobrol tentang apa saja.
“mbak, aku mau pindah aja.. mau cari rumah kost. Mertuaku biar tinggal sama iparku aja. “
Malam itu tiba-tiba notifikasi di w.a saya berbunyi. Seorang teman curhat tentang mertua dan iparnya. Ini bukan pertama kali saya menerima curhatan serupa. Gara-gara tulisan saya tentang mertua, terkadang w.a saya mendadak jadi ajang curhat para menantu-menantu cantik.
Jadi ceritanya si menantu cantik sedang kesal karena dia merasa mertuanya jauh lebih perhatian ke iparnya. Setiap mertua pergi ke luar kota, yang dibawakan oleh-oleh saudara iparnya, mentang-mentang si ipar sering kirim uang ke mertuanya. Setiap kali iparnya main ke rumah, mertuanya heboh masak enak dan pulangnya selalu dibawakan bekal. Setiap kali ngobrol dengan tetangga, selalu yang dibanggakan si ipar yang cekatan dan luwes. Kalau si ipar sakit, bisa sehari 3 kali telepon hanya untuk menanyakan sudah makan belum, sudah minum obat atau belum dan bla..bla… curhatan yang lainnya.
Ada yang anaknya picky eater? Alias memilih-milih makanan. Sediiih banget, dimasakin segala macam yang dimakan ya itu-itu saja. Sudah rempong, jungkir balik sampai salto di dapur, eh yang dimakan tempe lagi, tempe lagi… Belum lagi dengar suara nyinyir tetangga, “ibunya gak telaten masakin nya siih…”. Pengen kunyah batu bata deh rasanya!