Gaya Pengasuhan Ibu Dulu Ketika Anaknya Ujian

 

Hari ini saya dapat reminder dari wali kelas si bocah kalau bulan depan sebelum puasa, anak-anak sudah menghadapi ujian semester. Tak berapa lama, whatsapp group saya heboh dengan celoteh para ibu yang membahas tentang ujian sekolah. Beruntungnya isi celotehan bukan berbagi kepanikan menghadapi ujian, tetapi berbagi pengalaman bagaimana ibu-ibu kita dulu menghadapi anak-anaknya yang mau ujian. Isinya? Beragam. Ada yang diwajibkan dapat juara 1, ada yang super selow, belajar terserah, gak belajar, rasain sendiri. Bagaimana dengan ibu saya?

Ibu saya bukan seorang ibu yang bisa mengenyam pendidikan tinggi. Kehidupan ibu cukup keras dalam mengawal adik-adiknya. Beliau rela untuk tidak meneruskan sekolah demi adik-adiknya bisa bersekolah, hingga lulus sarjana. Sementara ibu sendiri hanya bisa sekolah sampai kelas 5 SD. Beliau menghabiskan masa mudanya dengan bekerja di sebuah pabrik kosmetik ternama di Surabaya.

Ibu tak pernah memaksakan kami untuk harus menjadi juara. Pun ibu tak pernah memberikan target kepada kami harus mendapat nilai tertentu. Untuk urusan nilai dan ranking, ibu sangat demokratis. Yang ibu tahu hanya ibu harus bekerja sekuat tenaga bersama bapak, demi memberikan hidup yang layak untuk empat anaknya.

Namun jangan dikata hal yang sama berlaku untuk urusan pekerjaan rumah. Saya dan adik-adik punya kewajiban untuk mencuci baju seluruh orang di rumah sejak kami masih duduk di sekolah dasar. Setiap pagi, selain harus mengisi air untuk mandi, kami harus membantu ibu mencuci baju. Awalnya tugas kami hanya membilas baju atau menjemur baju yang sudah dicuci saja. Lama kelamaan, tugas mencuci diserahkan kepada kami sepenuhnya. Kalau bangun kesiangan, jangan dikira kami bebas dari tugas mencuci baju. Kalau bangun kesiangan ya tetap harus selesaikan dulu mencuci baju, baru bisa berangkat sekolah. Sampai sekolah terlambat? Resiko ditanggung sendiri. Mungkin itu juga yang menyebabkan kami harus pandai-pandai mengatur waktu sendiri, sejak kami masih SD. Hampir tidak ada teriakan cempreng yang membangunkan kami. Lantas kenapa sekarang saya menikmati sekali gegoleran di tempat tidur kalau libur tiba ya? Anggap saja itu bentuk pelampiasan dan kemerdekaan. *ngeles*

Untuk urusan ujian, ibu tak pernah benar-benar tahu. Apakah besok mulai ujian atau tidak, ibu blasss gak paham. Jadi tidak ada teriakan panjang, atau tausiah berjam-jam ketika kami mau ujian. Suasana menjelang ujian, mau itu ujian ebtanas atau ujian catur wulan (dulu masih pakai sistem cawu), semuanya bergantung sama kesiapan kami masing-masing. Justru yang sering terjadi malah saya yang ngomel panjang untuk mengajak dua adik lelaki saya belajar.

Yaaaa… mohon dimaklumi, sebagai anak pertama dan perempuan satu-satunya, saya adalah mahluk paling bawel di rumah. Apalagi untuk urusan belajar dan urusan sekolah. Mungkin ibu bisa selow juga karena sudah ada saya yang nyinyirnya masyaAllah ketika adik-adiknya mau ujian. Hampir setiap malam saya yang nguprek-uprek adik dan membantu mereka belajar. Bahkan kalau bapak menyalakan TV saat kami belajar, sudah bisa ditebak siapa yang bakal nyinyir duluan.

Entah kesambet setan mana, yang jelas ketika berurusan dengan pelajaran di sekolah, saya mudah panik sendiri. Meski ibu atau bapak tidak pernah menegur saya atau bertanya dapat nilai berapa, saya merasa takut ketika teman-teman bisa melakukan sesuatu, tetapi saya tidak bisa. Kesadaran untuk belajar itu timbul karena ada rasa saya tidak ingin tertinggal, saya juga harus bisa.

Ibu tidak pernah mewajibkan jam sekian sampai jam sekian harus belajar. Ibu tidak pernah menanyakan hari ini saya ada PR atau ulangan harian saya dapat berapa? Ibu tidak tahu sama sekali apakah hari ini saya bisa menjawab pertanyaan di sekolah atau saya kena strap karena terlupa mengerjakan tugas. Mungkin yang ibu tahu hanya hari ini anaknya pulang sekolah tidak menangis. Itu saja sudah cukup.

Saya kecil adalah mahluk penakut dan cengeng. Masuk TK, saya berkali-kali membuat baju ibu sobek karena adu tarik. Saya tidak mau masuk kelas tanpa ditemani ibu. Saya kecil adalah sasaran empuk perundungan. Waktu TK saya punya teman yang rajin sekali memukul dengan keset atau penggaris setiap kali berbaris, dan saya adalah sansak setianya setiap hari. Masih terbayang jelas betapa takutnya saya setiap kali waktu sekolah tiba. Maka tak heran, saya pun takut bukan main ketika lupa mengerjakan tugas atau tidak bisa menjawab soal. Itu kenapa ibu tak perlu capek teriak untuk membuat saya belajar.

Meski tidak ada tuntutan dari bapak maupun ibu, kesadaran belajar dan mengatur waktu itulah yang membuat saya menjadi langganan juara ketika sekolah. Setiap ujian tiba, biasanya saya minta ibu membangunkan saya jam 3 pagi untuk belajar. Untuk masalah begadang, iman mata saya sangat lemah. Jadi jika ada yang harus saya kerjakan hingga larut malam, saya memilih tidur dulu, dan bangun lebih awal untuk mengerjakannya. Demikian juga ketika ujian. Saya memilih tidur dulu, dan bangun sebelum shubuh untuk belajar. Pagi buta itu biasanya saya sendiri. Setelah membangunkan saya, jika ibu terlalu capek, kadang ibu tidur lagi. Namun tak jarang ibu turut beranjak ke dapur untuk menjerang air dan membuatkan saya secangkir teh hangat. Setelah ditemani teh hangat, ibu kembali membiarkan saya sendiri khusuk dengan buku-buku.

Demikianlah gaya pengasuhan ibu saya dulu dalam masalah sekolah. Beberapa hal masih saya pakai hingga sekarang. Saya juga tidak pernah menuntut dua bocah kecil saya untuk memiliki nilai tertentu. Saya tidak pernah mewajibkan bocah kecil saya jam sekian harus belajar. Namun untuk membentuk disiplin belajarnya, biasanya saya berikan mereka pilihan, mau belajar siang selepas pulang sekolah, atau belajar malam hari setelah pulang mengaji. Mereka bebas memilih. Bahkan kalau bersama ayahnya, mereka juga bebas untuk tidak memilih keduanya. Tapi kalau sama bundanya, tetap harus dipilih salah satu. Selebihnya mereka bebas bermain dan bereksplorasi, main lego, membaca, bikin-bikin, pretend play, terserah.

Kebebasan yang kami berikan bukan berarti kami tidak peduli dengan pendidikan. Kami tetap concern dengan hal-hal yang menjadi minat dan bakat dua bocah tersebut. Mereka harus menguasai skill tertentu yang menjadi kesukaan mereka. Kami tidak mewajibkan mereka harus memiliki nilai 100 di semua pelajaran. Namun untuk hal-hal yang menjadi kesukaan mereka, tanpa harus dikomando dan dipaksa, nilai 100 mudah saja tergenggam.

Seperti yang sering di dengungkan para alumni the urban mama, “there is always different story in every parenting style”. Tidak ada kebenaran yang mutlak dalam pola asuh. Apa yang terjadi dalam keluarga kami, adalah yang cocok bagi gaya kami. Tulisan kali ini pun hanyalah kenang-kenangan atas nama masa kecil. Jika kalian memiliki pendapat yang berbeda pun tak mengapa. Bebas untuk berbagi di kolom komentar. Semoga bisa membantu melegakan perasaan bagi yang sejalan dan senasib. Selamat (terus) belajar!

SUNSILK HIJAB HUNT: Ajang Unjuk Diri Muslimah Bertalenta

 

Pada tanggal 7 dan 8 April 2018, Sunsilk bersama detikcom mengadakan roadshow gelaran Sunsilk Hijab Hunt 2018 di Surabaya. Sunsilk Hijab Hunt 2018 ini menjadi ajang unjuk diri para muslimah bertalenta. Bertempat di Grand City Surabaya, para muslimah muda sudah nampak berdatangan sejak pintu mall belum dibuka. Para muslimah muda tersebut akan menunjukkan aneka bakatnya di hadapan para juri setelah selesai melewati proses registrasi.

Surabaya sebagai kota pertama tempat diadakannya Sunsilk Hijab Hunt 2018, menjaring cukup banyak muslimah muda bertalenta. Dari 250 muslimah yang mendaftar, akan dipilih 20 peserta di hari pertama . 20 peserta tersebut kembali tampil di hari kedua di hadapan juri utama, yang terdiri dari 2 artis cantik, Soraya Larasati dan Terry Putri. Kedua pemenang terpilih inilah yang akan mewakili Jawa Timur untuk beradu di ajang pemilihan muslimah bertalenta di tingkat nasional. Gelaran utama Sunsilk Hijab Hunt 2018 akan diadakan di Jakarta yang menampilkan banyak muslimah berbakat dari seluruh penjuru nusantara.


Sunsilk Hijab Hunt 2018 Surabaya menampilkan peserta yang memiliki bermacam-macam bakat, mulai dari akting, menyanyi, tilawah, tausiah, menari, bermain musik, hingga bercerita. Satu persatu peserta menghadap juri untuk unjuk kebolehan sesuai bakat yang dimiliki masing-masing. Sementara menunggu giliran, para peserta dihibur oleh penampilan musisi lokal Gafarock dengan talentanya dalam bermusik. Dalam acara Sunsilk Hijab Hunt hari pertama dihadiri banyak tokoh penting Jawa Timur, seperti Tri Risma Harini, Gus Ipul dan Emil Dardak. Kehadiran banyak tokoh penting tersebut untuk memberikan support terhadap kegiatan positif yang menjadi ajang meraih prestasi bagi generasi muslimah.

Tri Risma Harini berpesan agar para muslimah fokus dan gigih dalam mengasah bakatnya. Totalitas dalam mengasah bakat akan menghasilkan sesuatu yang berharga. Totalitas dan konsisten adalah kunci utama dalam meraih kesuksesan. Sementara Gus Ipul memberikan sambutan hangat untuk para penyelenggara Sunsilk Hijab Hunt dan memberikan doa bagi seluruh peserta. Gus Ipul mengatakan untuk menjadi seorang pemenang bukan hanya mereka yang berhasil menjadi juara dalam sebuah perlombaan. Semua orang yang berani menantang dirinya sendiri untuk bertarung dan mengalahkan rasa takutnya juga seorang pemenang. Orang yang mau menularkan ilmu yang dimiliki selama bertarung juga seorang pemenang. Untuk alasan itulah, Gus Ipul mengatakan bahwa seluruh peserta Sunsilk Hijab Hunt 2018 Surabaya hari itu sesungguhnya semua adalah pemenang.


Yang mengejutkan ternyata peserta tidak hanya datang dari wilayah Surabaya dan sekitarnya saja, namun datang dari berbagai daerah, seperti Tuban, Banyuwangi, bahkan ada peserta yang datang dari Semarang. Luar biasa memang antusiasme para peserta Sunsilk Hijab Hunt 2018 kali ini. Persiapan yang dilakukan para peserta boleh dibilang cukup maksimal. Karena hadiah yang ditawarkan juga cukup menarik.

Selain beradu bakat, peserta juga diberikan bekal berupa talkshow tentang tips make up masa kini. Ada permainan dan tantangan seru yang bisa diikuti peserta maupun pengunjung dengan hadiah yang menarik. Bagi peserta maupun pengunjung yang berfoto di area Sunsilk Hijab Hunt 2018 dan mengunggahnya di sosial media berkesempatan mendapatkan hadiah, mulai dari hampers dari para sponsor hingga voucher jutaan rupiah.

Setelah melalui babak penyisihan yang cukup melelahkan, akhirnya terjaring 20 muslimah yang beradu di hari kedua. Di hari kedua, peserta dihibur oleh Kunto Aji sebagai bintang tamu. Hingga akhirnya terpilihlah Fadila Yahya dan Tia Shafira yang akan bertarung mewakili Surabaya di Sunsilk Hijab Hunt 2018 di Jakarta. Kedua peserta berkesempatan untuk meraih hadiah utama berupa uang tunai senilai ratusan juta dan paket umroh. Menarik sekali bukan? Selamat berjuang! Semoga muslimah muda Indonesia mampu terus turut berperan menjadi pilar pembangunan akhlak dan kreativitas di Indonesia.

Pertimbangan Memilih Dress Muslim Yang Cocok Untuk Anak

Gambar diambil dari website mataharimall

Lebaran tinggal beberapa bulan lagi. Siapa yang sudah mulai merencanakan banyak hal untuk persiapan lebaran? Adakah yang senasib mulai lirik-lirik dress muslim dari sekarang? Punya anak kembar perempuan itu memang menyenangkan, terutama ketika tiba saatnya hunting pakaian. Meski kembar tak melulu harus semua serba sama, namun yang jelas setiap melihat baju anak perempuan itu lucu-lucu dan menarik ya… Di keluarga kami yang tak kalah heboh dari Bunda adalah eyang nya. Si eyang sejak jauh hari sudah mulai mempersiapkan segala perintilan untuk baju dua bocah kembar. Apalagi yang namanya bocah kan cepat sekali tumbuh tingginya. Baru beberapa bulan kemarin dibelikan baju baru, sekarang sudah terlalu pendek. Maka cukuplah alasan untuk bisa berburu baju muslim baru.

Memilih dress muslim untuk anak-anak sebenarnya bukan hal yang sulit tapi juga bukan hal yang mudah. Banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum akhirnya mengeluarkan uang dari dompet untuk beberapa potong baju. Memiliki anak kembar pasti tak mungkin hanya membawa tentangan sepotong baju saja kan? Karena itulah proses semedi dan meditasi menjadi agak panjang.

Berikut beberapa pertimbangan dalam memilih dress muslim yang cocok untuk anak

 

Bahan yang mudah menyerap keringat

Anak-anak sangat mudah sekali berkeringat, terutama ketika musim panas. Indonesia kaya dengan sinar matahari. Jika ditambah dengan tingkah para bocah yang tak mudah duduk diam, maka bisa dipastikan badan lebih cepat berkeringat terutama ketika memakai baju serba tertutup seperti dress muslim . Karena itu penting untuk memilih dress muslim yang bahannya mudah menyerap keringat seperti bahan kain katun atau kaos.

Pilih juga bahan yang lembut terutama untuk anak-anak yang memiliki kulit sensitif. Karena anak yang memiliki kulit sensitif akan lebih mudah merasa gatal dan merah-merah jika memakai bahan yang kasar dan tidak sesuai dengan jenis kulitnya. Kalau sudah begitu, sayang kan beli mahal tapi si bocah tak suka memakaianya. Meski modelnya kekinian, tapi pemilihan bahan menjadi sangat penting bagi anak-anak.

 

Model yang sederhana dan sesuai untuk anak-anak

Setiap musim model baju pasti berganti sesuai pasar. Namun yang jelas, memilih dress muslim untuk anak, kami lebih menyukai model yang sederhana. Karena meski memakai baju panjang dan serba tertutup, anak-anak tidak akan terganggu geraknya. Dengan model baju yang sederhana, anak-anak masih bebas bereksplorasi dan tetap lincah kesana kemari sesuai fitrahnya, tanpa harus terganggu model baju yang rumit. Alih-alih membuat anak nyaman, jangan sampai anak malah jatuh atau terganggu aksesoris baju yang berlebihan. Memilih model yang kekinian itu bukan hal yang salah, asalkan tetap disesuaikan dengan kebutuhan anak.

gambar diambil dari website mataharimall

Ukuran yang sesuai

Pilihlah sesuai ukuran tubuh anak. Anak-anak memang cepat tumbuh besar dan tinggi. Namun memilihkan dress muslim yang terlalu besar pasti akan sangat mengganggu. Jika ingin melakukan penghematan dan ingin membeli baju dengan size lebih besar, usahakan tidak lebih dari 1 size diatasnya. Karena baju yang terlalu panjang atau terlalu besar bisa sangat mengganggu gerak anak.

 

Warna yang menarik

Anak-anak identik dengan wajah cerah, banyak gerak dan banyak tertawa. Karena itu memilih baju dengan warna yang menarik sesuai dengan warna favorit anak-anak akan menjadi pilihan yang bijak. Jika baju yang dipilih adalah warna yang sesuai kesukaannya, maka anak-anak akan semakin semangat mengenakannya.

 

Motif yang sesuai karakter masing-masing

Memilih motif menjadi salah satu pertimbangan penting untuk ibu-ibu dalam memilih dress anak. Memilih motif sederhana untuk dress muslim anak akan lebih menonjolkan karakter wajah anak. Motif sederhana juga berkesan energik dan lincah, sesuai dengan karakter anak. Jika anak-anak menyukai gambar tertentu untuk bajunya, maka bijak dalam menyikapinya menjadi hal penting. Pasti anak-anak akan lebih semangat jika bajunya ada gambar favoritnya. Tak perlu memaksakan kehendak dan idealisme kita. Masing-masing keluarga memiliki karakter masing-masing. Asalkan gambar dan motifnya sesuai dengan anak-anak, tentu tidak akan menjadi masalah.

 

Harga yang terjangkau

Harga menjadi pertimbangan yang tak kalah pentingnya bagi dompet ibu-ibu. Apalah artinya baju cantik luar biasa, model kekinian, bahan kualitas nomor satu, tapi kalau harga tidak sesuai dengan kondisi dompet, pasti akan bikin menangis juga. Tak perlu memaksa, sesuaikan dengan budget masing-masing rumah tangga. Jika memiliki selera branded, tapi kondisi keuangan yang tidak memungkinkan, kita masih bisa memanfaatkan pesta diskon. Banyak e-commerce yang menggelar pesta diskon atau mall-mall yang berlomba-lomba menarik minat pembeli dengan iming-iming diskon di musim-musim tertentu. Agar tak ketinggalan, kita bisa berlangganan email promo yang rutin diberikan beberapa fashion label.

Ternyata memilih dress muslim anak pertimbangannya banyak ya… Namun jika semua kriteria dapat terpenuhi, maka tentu kita akan bisa melenggang dengan bahagia membawa tentengan di tangan, atau duduk tak sabar menanti pintu diketuk bapak kurir. Selamat hunting dress-dress muslim cantik untuk anak-anak! Selamat bermeditasi!

Nasalina & Bunga Ajaib

Hari ini Nasalina sedang ke pasar. Ia menemukan bunga ajaib. Ia membawa bunga itu ke rumah. Di rumah, bunga itu ditaruh di halaman depan rumah. Setiap hari Nasalina rajin menyiraminya.

Suatu hari Nasalina pulang sekolah dengan bersedih karena mendapat nilai 0. Sampai di rumah ia melihat bunganya layu. Keesokan harinya Nasilina masih bersedih, bunganya semakin layu. Tiba-tiba Nasalina teringat sesuatu, kalau bunganya adalah bunga ajaib. Nasalina mencoba untuk tersenyum. Ia belajar dengan rajin dan mulai tersenyum.

Ajaib! Esoknya ia mendapati bunganya mulai hidup dan tumbuh. Ia juga mendapat nilai 100 di sekolah. Nasalina senang.

Sister

 

Kira adalah anak 1-x (disensor bunda). Kara adalah anak 1-y (kena sensor lagi). Meskipun berbeda kelas, tapi kedua anak itu akrab bermain, belajar. Mereka adalah sister.

**

Hari ini hari ulang tahun kelasku. Aku dikasih jajan banyak. Kelasku terbaik. Aku dapat jajan yang manis-manis lagi. 1-x adalah kelasku. Kalau masuk ke perpustakaan, kami harus memakai pin dulu. Kadang-kadang kami lupa tidak pakai pin. Itulah cerita tentang kelasku.

**

Cerita Di Balik Seuntai Gelang

 

Beberapa waktu yang lalu dua bocah bilang ingin ulang tahunnya dirayakan dengan bagi-bagi goodiebag. Ia ingin seperti teman-temannya yang bisa berbagi goodiebag. Berbagai ide isi goodiebag mereka utarakan. Sebelum bunda mules sendirian, maka diajaklah dua bocah berhitung.

Dua bocah didudukkan dan diajak berdiskusi tentang apa saja yang ingin dijadikan goodiebag, siapa saja yang akan mendapat goodiebag, dan berapa yang akan dibuat. Dari diskusi itu dua bocah belajar berhitung kira-kira berapa biaya yang dibutuhkan untuk merayakan ulang tahun sesuai keinginannya.

Rupanya dari cara itu mereka tahu berapa besarnya uang yang harus dikeluarkan ayah dan bunda untuk merayakan ulang tahunnya. Berawal dari itulah lalu si bocah berpikir bagaimana caranya mendapat uang untuk ditabung. Mulai dari ide mau jualan gambar, jual boneka, hingga tercetuslah ide jual gelang.

Ide itu mantap mereka eksekusi karena mereka bisa buat barangnya sendiri, harga jualnya terjangkau untuk teman-temannya dan barangnya mudah dibawa di tas sekolah. Akhirnya selama weekend kemarin mereka sibuk membuat gelang untuk dijual di sekolah.

Selama 2 hari bekerja, jadilah 11 untai gelang mungil yang siap dijual dengan harga 2.000an. Pas lagi beberes, eh ada om nuni yang datang bersama para ponakan yang ceriwis. Melihat duo kunyil yang heboh dengan barang dagangannya, dibelilah 6 gelang oleh si om.

Memang dari dulu si om adalah truly guardian angelnya Kira & Kara, maka yang dibeli om bukan sekedar untaian gelang, tapi om membayar dengan semangat dan cinta untuk duo kunyil. Kalai dipikir-pikir buat apa coba si om beli gelang sebanyak itu dengan warna yang unyu-unyu pula, kalau bukan untuk cinta dan semangat. Bisa ditebak bahagianya dua bocah setelah 6 gelangnya laku.

Ketika sore teman-teman kompleks nya datang untuk bermain, maka disuguhilah 2 kotak manik-manik yang bebas mereka bikin sendiri, gratis! Maka sore itu, teras rumah berubah menjadi tempat crafting para bocah-bocah cilik. Tetep yaaa yang heboh ya cewek-ceweknya, sementara anak laki sibuk lari-larian atau bermain lego.

Dari seuantai gelang yang awalnya mereka buat untuk iseng dipakai sendiri, lalu timbulah semangat dan asa untuk berbagi. Kita tidak bisa menebak dari mana anak-anak bisa belajar tentang banyak hal. Kita hanya perlu menyediakan banyak media untuk belajarnya, karena belajar adalah hak mereka dan memfasilitasinya adalah kewajiban kita.

Buku loakan, manik-manik sisa, kertas bekas, gunting, majalah usang, lem, kapur, atau hanya sekedar tempat yang nyaman untuk bertanya adalah fasilitas belajar yang tak ternilai harganya bagi mereka. Kami tak pernah keberatan mereka menghabiskan jajanan di rumah atau membuat halaman rumah jadi penuh coretan. Kami bahagia turut menjadi bagian dari coretan masa kecil mereka.

Dari seuntai gelang kami belajar tentang banyak hal, tentang semangat pantang menyerah dan tentang empati. Dari seuntai gelang untuk semangat belajar yang akan terus terbawa. Semoga!

Taman Bermain

 

Kara: Hai Kira! Aku punya tiket Transmart lho. Ayo kita bermain-main di sana.

Kira: Kita main apa dulu?

Kara: Rollercoaster dulu.

Kira: Oke!

Kara: Sekarang naik yang itu…

Kira: Oke! Sekarang itu yaa..

Kara: Oke! Sudah ya, tiketku habis.

Kira: Oke. Ya sudah, aku pulang ya… Terima kasih, Kara!

Kara: Sama-sama, Kira!

CD Baru

 

Kara: Hai Kira! Hari ini aku punya CD baru lhoo..

Kira: Aku ikut nonton ya..

Kara: iya.. ayuuk… tunggu apa? Bakso?

Kira: Enggak laah!

Kara: Ya ayuuuk…

Kira: Iya… iyaa….

Kira: Wah, CD nya bagus ya… Tentang Riyuho. hihihi… Aku gemes sama Riyuho!

Kara: Iiiih kamu kan perempuan. Riyuho kan Cowok.

Kira: Mataku jadi keluar hati kalau lihat Riyuho.

Kara: hiiiih… Dasar!

Belajar Parenting dari kisah DILAN dan MILEA

Film Dilan 1990 ternyata feedbacknya luar biasa yaaa… Film yang diadaptasi dari Novel Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990 karya Pidi Baiq ini cukup menjadi hiburan yang renyah untuk anak muda. Eh bukan cuma anak muda ding, tapi juga ibu-ibu macam kami. heuheu…

Awalnya ketika ada ajakan nonton bareng teman-teman, ada rasa enggan. Selain karena anggaran nonton yang gak ada, juga karena ngerasa bukan genre film kesukaan saya. Tapi ketika ada tawaran untuk kedua kali, dan bioskop juga udah sepi, akhirnya cusss berdua sama teman nonton filmnya. Keluar dari bioskop, ternyata hati ikut berbunga-bunga. Serasa habis dihujani kata-kata indah. hahaha… receh sekali ya bahagianya. Seneng aja gitu digombalin.

Penasaran dengan isi novelnya, akhirnya ubek-ubek dan dapatlah 2 buah novel DILAN dan 1 novel MILEA. Dalam waktu 4 hari, 3 buku habiiisss… (Ibu macam apa coba? Kayak gak ada kerjaan ajaa…) Novelnya ringan, dengan gaya bahasa yang mengalir, membacanya jadi gak kerasa. Tahu-tahu sudah habis saja.

Novel ini berkisah tentang perjalanan cinta anak SMA antara Dilan dan Milea. Mulai dari masa pendekatan hingga jadian, bahkan hingga putus. Bedanya, kalau novel DILAN diceritakan dari sudut pandang Milea, sedangkan MILEA diceritakan dari sudut pandang Dilan. Setelah baca ketiganya, kita jadi bisa menilai keseluruhan jalan cerita. Kita juga bisa menyelami bagaimana perbedaan jalan pikiran perempuan dan laki-laki, tentang bagaimana mereka menghadapi masalah dan mengambil keputusan.

Jadi, kalau kalian mau tahu kenapa Dilan dan Milea bisa sampai putus, wajib baca semua novelnya. Dengan begitu kamu tidak akan merasa patah hati yang berlebihan. Ayo ngaku, siapa yang patah hati dan gagal move on ketika tahu kalau Dilan dan Milea ternyata putus? hahaha… Gak usah baper! Baca novelnya dan nantikan seri film selanjutnya.

Sebagai seorang yang kini sudah punya anak dan pernah melewati masa-masa SMA dan ditembak sama Dilan versi KW Super, saya memiliki pesan moral yang berbeda. Ternyata setelah selesai membaca 3 novel tersebut, saya dibuat jatuh cinta pada ibunya DILAN. Kalau jatuh cinta sama DILAN kan sudah banyak yang mengalami ya? Lagian saya sudah menikah dan punya DILAN sendiri di rumah. Jadi sudah gak iri lagi sama yang di novel. Tapi kalau ibunya DILAN itu salah satu sosok ibu yang patut ditiru dan diteladani.

Siapa yang setuju kalau menghadapi anak balita dengan anak SMA itu bedanya jauuuhh… Jadi kalau kita tetap pada pola yang sama, bisa jadi anak SMA kita bakal kabur setiap hari dari rumah. ya kali anak SMA mana mau didikte macam anak TK “ayo bajunya diberesin! Mainannya jangan berantakan!”. Engap gak sih kalau di rumah isinya omelan mulu?!

Sebenarnya pada awalnya saya dibuat kagum oleh sosok DILAN yang menaruh respek tertinggi terhadap ibunya, yang kerap ia sapa dengan sebutan “bunda”. Sekesal apapun, semarah apapun, ketika ibunya yang berbicara, maka ia akan duduk diam dan tenang mendengarkan. Coba bayangkan, anak muda, laki-laki yang ada di usia sangat kritis, bisa duduk takzim mendengarkan omelan ibunya, itu yang hebat luar biasa pasti ibunya. Anak SMA itu kan masa-masa pemberontakannya luar biasa ya? itu usia yang pengennya ya “semau gue”, the only rule is no rules.

Demi belajar sifat ibunya, akhirnya khusus pada bagian interaksi dan percakapan sang bunda saya baca ulang. Bagaimana bunda berinteraksi dengan DILAN, dengan adik dan kakaknya, dengan teman-temannya, dan hasilnya menakjubkan! Berikut beberapa hal yang saya pelajari dari sosok sang bunda tentang mengasuh anak remaja:

Bunda memberikan kesempatan kepada anaknya untuk berbuat salah dan memperbaikinya.

Usia anak remaja adalah usia di mana ia belajar untuk mempertanggungjawabkan semua keputusannya. karena itu, dibutuhkan dukungan bahwa keputusan anaknya adalah yang terbaik yang diambil oleh anaknya. Kalaupun memang ternyata keputusan yang diambil salah, maka anak akan belajar dari masa trial and error.

Seperti ketika Bunda harus kembali menghadapi Dilan yang tawuran dengan teman-temannya, sampai harus menginap di kantor polisi. Di situ digambarkan bahwa bunda bukan seorang yang mudah panik. Bunda memberi kesempatan bahwa Dilan sedang mempertanggungjawabkan keputusannya. Bunda pun yakin bahwa Dilan belajar sesuatu dari keputusannya. Bahkan saking kalemnya si bunda menghadapi Dilan, ia justru bisa meminta Milea untuk ikhlas dan sabar. Luar biasa bukan?

Dibandingkan harus marah-marah dan mengomel, bunda memilih memberikan kesempatan bagi Dilan untuk memperbaiki kesalahannya. Bukankah manusia tidak pernah luput dari kesalahan? Daripada harus bersusah payah menghabiskan tenaga untuk membahas kesalahan, sepertinya lebih bijak jika kita memberikan kesempatan pada anak-anak untuk memperbaiki kesalahannya.

Bunda memberikan Kepercayaan kepada anaknya

Suatu hari Dilan kembali melakukan kesalahan berkelahi dengan temannya. Hingga ia harus dikeluarkan dari sekolahnya karena melanggar peraturan untuk kesekian kalinya. Bagaimana reaksi si Bunda?

Ia berkata bahwa Bunda percaya kepada anaknya. Apabila si anak berkelahi, tentu bukan karena si anak yang memulai. Si anak berkelahi itu karena melakukan sesuatu yang menurutnya benar. Lantas bunda melanjutkan nasihatnya bahwa sebenarnya tidak semua hal harus diselesaikan dengan perkelahian. Bunda mengajarkan Dilan untuk berbuat bijaksana dengan menaruh kepercayaan dan mempertanggungjawabkannya.

Bunda memberikan kebebasan dalam mengambil keputusan.

Siapa yang tidak pernah mendengar tentang reputasi geng motor? Ketika anaknya meminta motor dan memutuskan untuk ikut bergabung ke dalam geng motor, Bunda tidak lantas menjadi orang yang frontal melarang. Bahkan ketika anaknya dikenal sebagai panglima tempur sekalipun bunda masih bisa bersikap tenang. Ada masanya ketika Bunda memanfaatkan reputasi anaknya untuk mengatur muridnya yang bandel.

Bunda memberikan kebebasan bagi Dilan untuk mengambil keputusan, karena bunda percaya bahwa ia telah menanamkan pondasi yang cukup baik terhadap anak-anaknya agar mereka tak mudah terbawa arus atau hanya sekedar ikut-ikutan. Terbukti, meski menjadi panglima tempur, Dilan digambarkan bukan sebagai sosok yang urakan.

Bunda Selalu Memberikan Pilihan, Bukan Paksaan.

Anak usia remaja bukan lagi anak yang sukarela diajari atau bahkan didikte melakukan sesuatu. Namun terkadang sebagai ibu kita punya tuntutan agar anak melakukan sesuatu. Namun masalah tidak akan berhenti jika si ibu melakukannya dengan memerintah atau memaksa anak. Nah! Bunda selalu punya pilihan untuk anak-anaknya yang seolah “memaksa” secara halus si anak melakukan sesuatu. Pilihan tersebutlah yang menggiring anak-anak melakukan hal yang dikehendaki bunda.

Seperti ketika Bunda meminta Disa untuk memanggil Banar, kakaknya, ia menggunakan kalimat:

“Bunda yang manggil atau Disa?”

Dengan kalimat pilihan tersebut, anak digiring untuk memanggil kakaknya, tanpa perlu bunda yang melakukannya. Cerdas bukan?

Bunda memberi tahu kapan ia akan marah.

Ini juga menjadi hal yang menarik dari sosok Bunda. Bunda ketika ia akan marah, maka ia memberi tahu kepada anaknya bahwa bunda akan marah. Dengan demikian ia meminta anaknya untuk bersiap-siap. Si anak akan otomatis duduk diam dan mendengarkan dengan takzim selama bunda menumpahkan amarahnya. Tidak ada yang membantah apalagi menyerang balik.

Bagaimana jika anaknya belum siap?

Maka bunda akan terus menunggu hingga anaknya siap. Bahkan tak jarang sampai lupa. Namun demikian, bunda tetap akan memberikan wejangannya ketika sudah merasa lebih tenang dan terkontrol. Sehingga anak pun tetap menaruh segan dan hormat kepada bundanya. Di sinilah seorang bunda dituntut untuk bisa mengendalikan emosinya. Bukan hal yang mudah buat saya yang bawaannya pengen nyolot dan teriak. Tapi sangat berharga untuk dipelajari sebelum kedua bocah benar-benar beranjak remaja. Jika tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Waktu tidak bergerak mundur.

Menarik bukan mempelajari sifat bunda dan caranya “menaklukkan” anak remaja?