Pernahkah kalian mendengar ujaran “jadilah seperti lebah, jangan jadi seperti lalat yang selalu hinggap di tempat sampah”? Lalat yang selalu diidentikkan dengan hal-hal yang dianggap kotor dan bau, ternyata memiliki peran yang sangat besar bagi Bumi dan manusia. Setidaknya bagi warga di desa Banjaranyar, Banyumas, Jawa Tengah. Melalui budidaya maggot yang merupakan larva dari lalat BSF, warga Banjaranyar bisa memperoleh penghasilan tambahan sekaligus mampu mengolah hingga ribuan kg per hari sampah organik.
Adalah Arky Gilang Wahab, pemuda dari Banyumas ini berhasil melakukan budidaya maggot menjadi berbagai bentuk produk yang banyak membantu meningkatkan perekonomian warga sekitar sekaligus menyelamatkan lingkungan. Usaha tersebut didirikan Arky karena keresahan melihat banyaknya sampah organik yang dihasilkan warga sekitar. Jika sampah-sampah tersebut hanya diolah menjadi kompos maka akan membutuhkan waktu sekitar 1-3 bulan agar kompos sempurna terolah. Dengan terbatasnya lahan pastinya akan menimbulkan timbunan sampah yang bau.

Kiprah Arky Gilang Wahab Bersama KSM Gema Brawijaya
Sekitar tahun 2018 silam di Banyumas sempat ramai adanya demo yang meminta penutupan TPS (Tempat Penampungan Sampah) karena mencemari sawah di sekitarnya. Hal tersebut tentunya menjadi keresahan warga. Tanpa TPS sampah akan berserakan di mana-mana. Namun timbunan sampah yang tidak terkendali akibat pengolahan sampah yang buruk tentu menjadi dilema yang tidak bisa dihindarkan.
Dari hasil diskusi bersama masyarakat sekitar, akhirnya Arky Gilang Wahab mendirikan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang diberi nama KSM Gema Brawijaya. KSM Gema Brawijaya berfokus pada pengolahan sampah organik menggunakan maggot. Tujuannya untuk mengurangi bau sampah dan membuat sampah lebih cepat terurai. Hal ini karena 1 ekor maggot mampu memakan sampah hingga 5 kali berat tubuhnya. Itu berarti 1 kg maggot mampu mengolah sampah organik 3 hingga 5 kg sampah dalam waktu satu jam.
Maggot adalah larva yang berasal dari telur Black Soldier Fly (BSF) atau lalat dewasa. Maggot mengandung asam amino kompleks yang menjadi salah satu nutrisi terbaik bagi hewan ternak. Maggot mengandung vitamin dan mineral penting, seperti kalsium, fosfor, dan vitamin B yang menjadi nutrisi dalam pembentukan tulang dan metabolisme energi bagi tubuh ternak. Selain itu maggot juga mengandung antibiotik alami sehingga ternak tidak mudah terkena hama.

Konsumsi maggot bagi hewan ternak juga menguntungkan peternak karena dapat menekan biaya pakan ternak. Selain itu hewan ternak jadi tidak mudah sakit dan lebih sehat. Kandungan nutrisi dalam maggot lebih mudah dicerna oleh hewan ternak sehingga jarang mengalami gangguan pencernaan. Maggot, larva dari lalat, binatang yang sering dianggap remeh ternyata memiliki banyak manfaat bagi lingkungan dan kehidupan manusia.
Perkembangan KSM Gema Brawijaya Menjadi PT Greenprosa Adikara Nusa
Awalnya Arky Gilang Wahab tidak pernah membayangkan bahwa maggot yang membantu mengolah sampah organik tersebut akan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Arky Gilang Wahab awalnya hanya fokus pada pengolahan sampah organik agar tidak menyebar dan menimbulkan bau. Itu saja. Karena ada banyak kolam ikan dan warga yang memiliki hobi memelihara ikan sering datang untuk meminta maggot, maka Arky Gilang Wahab melihat ini menjadi peluang.
Bahkan ada pemilik peternakan ikan yang menjadi langganan tetap membeli maggot untuk tambahan pakan ternak ikannya. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak langganan peternak yang datang untuk membeli maggot maka usaha KSM Gema Brawijaya pun berkembang dan memiliki nilai ekonomi. Lantas tahun 2021 Arky Gilang Wahab mengubah KSM atau Kelompok Swadaya Masyarakat menjadi perusahaan agar bisa memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Gilang mengubah KSM Gema Brawijaya menjadi PT. Greenprosa Adikara Nusa yang berfokus pada pengolahan sampah organik dan budidaya maggot.
Arky Gilang Wahab bersama PT. Greenprosa Adikara Nusa mengolah maggot menjadi tiga produk, diantaranya:
- Dried Larva BSF yaitu produk yang berupa larva kering dan cocok untuk pakan hewan
- Maggot Meal adalah produk tepung dari maggot dan cocok sebagai campuran pakan ternak
- Pakane merupakan produk pelet untuk pakan ikan

Arky Gilang Wahab (tengah), warga Desa Banjaranyar, Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah sebagai penggagas budidaya Larva Maggot pengedukasi karyawan Bumdes tentang budidaya Larva Manggot di TPST Sokaraja, (3/9/21). (Foto : Budi Purwanto)
Melalui pengolahan budidaya maggot tersebut Arky Gilang Wahab berhasil mengolah sampah organik hingga 5 ton atau sekitar 5.000 kg per hari. Sampah tersebut diangkut dari berbagai tempat seperti instansi, perusahaan, cafe, restoran, pusat perdagangan seperti pasar, dan lain sebagainya.
Dalam mengelola perusahaan tersebut Arky Gilang tidak ingin menyingkirkan masyarakat yang mencari nafkah dari sampah seperti pemulung dan pengelola sampah. Ia lantas merangkul mereka dan mengajaknya menjadi operator. Arky Gilang memberikan edukasi kepada mereka yang rata-rata lulusan SD dan SMP ini tentang bagaimana memilah sampah yang baik. Agar usahanya mampu mendatangkan manfaat lebih banyak tentunya dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran dalam memberikan pemahaman kepada mereka.
Didemo Warga Hingga Hampir Gulung Tikar Saat Pandemi
Arky Gilang Wahab menjalankan usaha tersebut bukan tanpa kendala. Banyak kendala yang dihadapi mulai dari didemo warga hingga hampir gulung tikar akibat pandemi. Memberikan edukasi dan pemahaman kepada warga salah satu yang menjadi kendala dalam usaha pengolahan sampah. Bahkan Arky Gilang pernah didemo warga akibat bau tidak sedap yang ditimbulkan oleh tumpukan sampah yang belum terolah.
Hal tersebut bukan tanpa sebab. Desa Banjaranyar saat lebaran tiba maka menjadi jujugan atau tujuan mudik bagi para perantau. Nah saat-saat seperti itu maka jumlah sampah organik hingga 5 kali lipat lebih banyak dari biasanya. Akibatnya tumpukan di tempat pengelolaan sampah pun menggunung dan banyak lalat berterbangan. Setelah melalui diskusi dengan warga adanya kejadian “force majeure” akhirnya demo berhasil diredakan. Arky Gilang berusaha memberikan pengertian dan edukasi ke warga bahwa lalat dewasa jenis BSF berhenti makan hingga bertelur lalu mati (bagi betina) dan untuk lalat jantan akan mati setelah kawin. Sehingga lalat-lalat tersebut tidak menyebarkan penyakit. Arky Gilang dan karyawannya pun tetap melakukan pengelolaan sampah di tengah perayaan lebaran.

Saat pandemi kemarin pengolahan sempat hampir terhenti karena hantaman badai pandemi. Sampah organik yang datang sebagian besar berasal dari pasien yang sedang isoman. Sempat ada kekhawatiran terserang penyakit dan tertular akibat mengolah sampah. Berbekal pengetahuan dan keyakinan akhirnya Arky Gilang tetap melakukan pengolahan. Melihat banyaknya dump truck yang akan berhenti beroperasi, Arky Gilang tidak dapat membayangkan bagaimana nasib sampah-sampah tersebut nantinya. Padahal ada belasan dump truck yang biasanya mengangkut sampah setiap harinya.
Belum lagi cemooh, ledekan dan stigma yang datang dari kawan-kawan atau saudara yang belum paham. Pernah ketika Arky Gilang sedang mengambil sampah organik dari cafe dan ada temannya sedang nongkrong, lalu menegur dan mencemooh kala dia sedang mengangkut sampah-sampah organik tersebut. Karena sudah melalui banyak hal, cemooh dan stigma tak lagi menjadi rintangan besar buat Arky Gilang. Terlebih lagi sekarang dia bisa merasakan manfaatnya dan memberikan dampak ekonomi dan lingkungan yang besar bagi warga sekitar.
Hingga Maret 2022 sudah lebih dari 6 ribu ton sampah organik berhasil diolah oleh PT. Greenprosa Adikara Nusa. Berkat kegigihannya Arky Gilang berhasil membawa pulang penghargaan SATU Indonesia Award dari Astra pada tahun 2021 dalam bidang konservasi limbah organik. Dibutuhkan kegigihan banyak Arky Gilang Wahab lainnya di Indonesia untuk membuat Indonesia makin hijau dan nyaman. Kalau kamu, kontribusi apa yang sudah kamu lakukan untuk lingkungan?