Menjaga Nyala Lentara Remaja NTT Dengan Edukasi Kesehatan Seksual

Tahukah kalian akan tradisi Sifon di Nusa Tenggara Timur? Sifon adalah tradisi sunat untuk anak lelaki menggunakan bambu dan dilakukan secara tradisional. Yang membuat berbeda adalah, ketika selesai sunat dan kelamin masih berdarah, anak lelaki diharuskan melakukan hubungan seksual dengan perempuan yang telah disiapkan oleh sang dukun. Tujuannya untuk meredakan rasa sakit dan nyeri paska sunat. Tradisi ini yang menjadi salah satu faktor penyebaran HIV/AIDS

Adalah Mariana Yunita Hendriyani Opat, perempuan asal Nusa Tenggara Timur yang berjuang untuk mendobrak tradisi tersebut melalui jalan edukasi yang lebih ramah untuk remaja dengan mendirikan Tenggara Youth Community. Ini adalah sebuah komunitas yang menjadi wadah untuk memberikan edukasi dan informasi mengenai hak kesehatan seksual dan reproduksi kepada remaja dan masyarakat umum. Perempuan yang akrab disapa dengan nama Tata ini merasa prihatin dengan minimnya informasi literasi tentang Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) di sekitar tempat tinggalnya.

Sumber: tampabatas.com

Pada umumnya membicarakan tentang organ reproduksi dan seksual masih menjadi hal yang tabu bagi masyarakat dan perempuan di NTT. Pun demikian masih marak stigma-stigma yang membatasi perempuan dalam mendapatkan informasi seputar kesehatan reproduksi. Akibatnya banyak perempuan dan remaja yang menjadi korban kekerasan seksual, dan tidak memiliki tempat untuk mengadu atau berlindung. Tembok rasa tabu yang terlalu tinggi membuat korban-korban kekerasan seksual makin terpuruk. Nyala lentera semangat para remaja seolah meredup.

Tentang Tenggara Youth Community

Kepedulian Tata bermula dari bertemu teman-teman sesama penyintas kekerasan seksual. Bukan kebetulan, Tata juga adalah seorang penyintas kekerasan seksual sejak kecil. Dari temannya inilah Tata mengenal istilah HKSR (Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi) yang masih cukup langka di kota Kupang. Bahkan bisa dibilang belum ada aktivis perempuan pemerhati HKSR dari Kupang. Untuk itulah, bersama kawan-kawannya, Tata mulai mendirikan Tenggara Youth Community di tahun 2016 untuk mewadahi para korban kekerasan seksual dan memberikan edukasi kepada lebih banyak lagi remaja di Kupang agar tidak memiliki nasib serupa Tata.

Salah satu program yang dibuat oleh Tenggara Youth Community adalah Bacarita Kespro. “Bacarita” artinya bercerita. Program edukasi ini cukup mendapat sambutan yang baik dari para remaja, bukan tanpa alasan. Jika biasanya program-program edukasi berjalan kaku dan membosankan, dengan Bacarita para remaja lebih luwes dan mudah memahaminya. Bukan cuma bercerita, namun peserta program juga diajak main games agar tujuan edukasi lebih bisa dipahami dengan cara yang menyenangkan. Tak heran, Bacarita Kespro mendapat sambutan yang cukup baik dari Unit PPA (Pelayanan Perempuan & Anak) setempat.

Sumber : instagram @tenggarantt

Dengan kegiatan seperti mendongeng, permainan interaktif dan edukatif, dan penggunaan alat peraga, Bacarita Kespro telah berhasil merangkul 2.000 remaja dari kalangan warga miskin, marginal dan terpinggirkan secara sosial. Jangkauan ini meliputi banyak wilayah seperti Kota Kupang, Desa Oesao di Kabupaten Kupang, Desa Neke di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Pulau Kera di Kabupaten Sumba Timur bersama Kopernik. Untuk memperluas jangkauan, Tenggara Youth Community bergandengan tangan bersama BKKBN, komisi penanggulangan AIDS dan Women For Indonesia.

Tantangan Dalam Edukasi

Meski mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak, bukan berarti edukasi HKSR ini tanpa kendala. Salah satu kendala yang pernah dihadapi justru datang dari pihak gereja. Ketika akan mengadakan edukasi di salah satu gereja, mereka menolak karena beranggapan bahwa edukasi tentang kesehatan seksual akan menjadi ajakan untuk melakukan hubungan seks bebas. Mereka khawatir akan semakin banyak remaja yang melakukan pacaran tidak sehat.

Tantangan bukan hanya berasal dari gereja, namun juga berasal dari para orang tua yang masih menganggap pembicaraan tentang kesehatan seksual dan reproduksi adalah hal yang tabu. Sehingga banyak orang tua yang menghindar apabila Tenggara Youth Community mengajak untuk berdiskusi dan sosialisasi. Bahkan puncaknya terjadi saat badai Covid-19 melanda. Saat kegiatan sosialisasi terhenti, angka covid meningkat drastis, pun demikian dengan angka kekerasan seksual yang terjadi.

Dok pri. Mariana Yunita

Namun demikian dari sekian banyaknya tantangan yang dihadapi oleh Tata bersama Tenggara Youth Community, salah satu capaian terbesar adalah mereka berhasil mengajak para remaja di pulau Timor untuk mulai melakukan sunat di puskesmas dengan prosedur kesehatan yang benar. Memang ada tradisi yang patut dijaga, namun ada juga tradisi yang harus disaring dampak buruknya.

Antara Visi Dan Mimpi

Masih banyak mimpi besar yang ingin diwujudkan oleh Tata bersama Tenggara Youth Community. Mereka berharap program edukasi kesehatan seksual dan reproduksi dapat menjadi bagian dari kurikulum bagi remaja. Sehingga banyak remaja yang peduli akan kesehatan organ intim mereka, tidak terjebak dalam pergaulan bebas dan dapat memperkuat benteng karakter pribadinya.

Tata juga ingin mewujudkan rumah singgah bagi para korban kekerasan seksual untuk mendapat perlindungan lebih kayak. Rumah singgah yang menjadi mimpi Tata ini harapannya bisa menampung para korban dan memberikan

Sumber : Instagram @tenggaraNTT

Lebih lanjut Tata memiliki visi yang besar untuk para remaja Indonesia bersama Tenggara Youth Community. Tata ingin mengembangan program berkelanjutan termasuk pelatihan kesehatan reproduksi dan memperkuat jaringan HKSR. Tata ingin akses kesehatan reproduksi dan edukasi HKSR dapat dijangkau hingga wilayah paling pelosok di Indonesia. Tata ingin terus berjuang untuk memberikan advokasi kepada seluruh masyarakat yang menjadi korban kekerasan seksual sehingga suara mereka bisa didengar.

Langkah nyata Mariana Yunita Hendriyani Opat dalam memperjuangan hak kesehatan seksual dan reproduksi para remaja memang layak mendapat penghargaan setinggi-tingginya. Indonesia membutuhkan Tata-tata yang lain untuk dapat terus menggaungkan edukasi yang positif kepada para remaja di berbagai wilayah di Indonesia. Tak mengherankan jika penghargaan SATU Indonesia Award dari Astra Indonesia berhasil disabetnya. Semoga dengan ini akan semakin banyak tumbuh komunitas-komunitas serupa dan saling bekerja sama untuk memberikan edukasi dan pendampingan lebih luas, sehingga nyala lentera semangat generasi muda dan remaja dan terus menyala di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *