Menyalakan Cahaya Ilmu Di Antara Asa Pengungsi Timor Leste

Menurut data UNHCR ada hampir 300.000 jiwa pengungsi dari Timor Leste paska konflik lepasnya wilayah Timor Timur dari Indonesia. Ada sekitar 100.000 ribu di antaranya adalah anak-anak. Di antara ketidak pastian nasib di pengungsian, ada seseorang yang peduli akan pendidikan anak-anak tersebut. Daerah pengungsian yang ada di Nusa Tenggara Timur sebagai wilayah yang paling dekat dengan Timor Leste tersebar di 15 wilayah, salah satunya Atambua.

Adalah seorang Redemptus De Sales Ukat yang membantu memberikan bimbingan belajar secara gratis sejak tahun 2018 bagi anak para pengungsi Timor Leste. Lelaki lulusan sarjana Filsafat ini mendirikan Kelompok Belajar Oan Lidak yang berfokus pada pembelajaran literasi dasar (membaca, menulis dan berhitung). Redemptus juga mengajar bahasa Inggris bagi anak-anak yang sudah bisa membaca.

Redemptus di Oan Lidak (doc: instagram @tbmoanlidak)

Kepeduliannya berawal dari keinginannya untuk memberikan kursus bahasa Inggris gratis ke anak-anak yang kurang mampu. Namun dia mendapati kenyataan yang cukup menyesakkan ketika melihat banyak anak-anak yang belum mampu membaca bahkan saat sudah sekitar kelas 3-4 sekolah dasar. Untuk menjaga nyala cahaya ilmu di tempat tersebut Redemptus menggunakan pendekatan yang ramah anak, seperti mendongeng, bernyanyi, membuat jurnal, membuat karya, melalui program sahabat pena dan sejenisnya.

Maklum saja, rata-rata anak tersebut berasal dari keluarga yang memiliki kendala ekonomi. Mereka lebih banyak menghabiskan waktunya sebagai anak pekerja untuk membantu ekonomi keluarganya. Untuk memenuhi kebutuhan pengajaran, Redemptus rela menyisihkan gajinya agar bisa membeli papan tulis, spidol, buku dan lain-lain.

Komunitas Pensil Belu Untuk Nyala Literasi Lebih Terang

Ternyata dari data kementerian pendidikan tahun 2018, kabupaten Belu menjadi salah satu kota/kabupaten dengan angka buta huruf tertinggi di Indonesia. Kenyataan itu tentu membuat Redemptus sedih. Maka untuk memperluas manfaat pembelajaran, ia mendirikan komunitas Pensil Belu dan mengajak partisipasi dari masyarakat lain yang lebih mumpuni untuk menjadi relawan pengajar. Ia rekrut sendiri para relawan pengajar yang telah memiliki pengalaman dalam dunia literasi dan sanggup bekerja mencerdaskan anak bangsa demi

Belajar membaca di Komunitas pensil Belu (doc. Instagram @oanlidak)

Redemptus juga bekerja sama dengan relawan dari Bagi Buku Untuk NTT yang mendonasikan banyak buku bacaan. Ini menjadi kesempatan emas bagi Redemptus untuk mengajak anak-anak agar mau membaca sejak dini. Membaca menjadi salah satu jalan yang dibuat oleh Redemptus untuk mengajak anak-anak memiliki pandangan lebih luas dan menciptakan persepsi yang lebih bijak.

Meski masiih dengan segala keterbatasan sarana belajar, komunitas Pensil Belu kini sudah membantu mendirikan kelompok-kelompok belajar di daerah-daerah lain, di antaranya:

  • Kelompok Belajar Oan Lidak
  • Kelompok Belajar Rumbia
  • Kelompok Belajar Fatubaun
  • Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Toro
  • Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lesepu
  • Kelompok Belajar Malun Diak
  • Kelompok Belajar Toman Diak.

Kendala Yang Dihadapi Redemptus Bersama Komunitas Pensil Belu

Redemptus menemui banyak kendala selama menjaga nyala lentera literasi anak-anak di NTT ini. Di antaranya adalah kurangnya tenaga relawan yang bisa membantu mengajar. Hal ini disebabkan para penggerak ini juga memiliki kegiatan dan prioritas hidup yang lain, sehingga memiliki keterbatasan waktu dalam menjalani peran sebagai petugas relawan membaca. Dengan keterbatasan tenaga pengajar, Redemption memiliki kendala terutama dalam program membaca. Untuk itu Redemptus membuka kesempatan bagi siapa saja yang memiliki minat dalam membantu mengajar dan menjadi relawan di Komunitas Pensil Belu.

Minimnya fasilitas di komunitas Pensil Belu (doc. Instagram @tbmoanlidak)

Kendala lain yang pernah dihadapi adalah Redemptus harus memindahkan anak-anak muridnya karena rumah kosong yang awalnya disewakan cuma-cuma oleh seorang kenalan tiba-tiba akan dibangun menjadi rumah Billiard dan rumah Judi. Tentu saja mau tidak mau Redemptus harus mencari tempat belajar pengganti. Beruntung Pak RT mengizinkan halaman depan rumahnya menjadi kelas dadakan setiap 2 hingga 3 kali seminggu. Meski hanya beralas tikar dan kadang-kadang terpal biru, anak-anak masih tetap semangat belajar

Belum termasuk kendala kurangnya fasilitas seperti buku-buku bacaan yang layak untuk menampung dan menumbuhkan minat baca anak. Belum lagi susahnya mengajak anak untuk datang belajar. Akibatnya Redemptus kadang masih harus bergerilya untuk membawa anak-anak belajar. Hal ini karena anak-anak terbiasa banyak membantu orang tua bekerja mencari uang daripada harus repot untuk urusan belajar.

Terlepas dari apapun kendala yang dihadapi oleh Redemptus, namun ia yakin bahwa melalui peningkatan literasi, peningkatan minat baca anak dan memperluas pengetahuan mereka, pelan tapi pasti akan mampu mengurangi dan menghapus angka kemiskinan di NTT terutama di Belu dan Atambua. Membaca akan menjadi sarana bagi anak-anak memperluas ilmu dan pengetahuannya untuk membuka mata mencari cara penghidupan yang lebih layak.

Maka tak heran jika semangatnya memperoleh ganjaran penghargaan SATU (Semangat Astra Terpadu Untuk) Indonesia Award dari PT Astra International Tbk. Penghargaan bergengsi yang diberikan kepada superhero Indonesia yang bergerak di berbagai bidang untuk memajukan Indonesia dari berbagai sisi. Seperti Redemptus yang meraih penghargaan di bidang Pendidikan dan penggerak literasi pada tahun 2022. Semoga semangat Redemptus menular ke seluruh murid-muridnya sehingga akan semakin banyak Redemptus-Redemptus berikutnya untuk memajukan dunia pendidikan di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *