BELAJAR BAHASA INGGRIS SEJAK DINI, DEMI GENGSI ATAU KEBUTUHAN?
Siapa yang sekarang masih menganggap anak kecil ngomong pakai Bahasa Inggris itu hanya sebagai gaya-gayaan saja? Siapa yang masih berpikir bahwa bisa cas cis cus Bahasa Inggris itu cuma untuk pamer gengsi strata sosial saja?
Aduuuhh.. lebih baik hapus deh stereotype seperti itu. Itu sudah gak jaman lagi. Sekarang jaman sudah makin maju. Globalisasi berkembang di segala bidang. Era pasar bebas sudah di mulai. Jangankan generasi muda, pedagang kain di pasar pun sekarang musti bisa berbahasa Inggris. Untuk apa? Ya untuk bersaing dengan pasar dari luar negeri dooong. Sekarang jual mie ayam saja bisa online hingga ke Negara tetangga. Masa sih masih mau mager begitu-begitu aja? Ayo sekarang saatnya mengembangkan sayap lebih lebar.
Naah… karena kebutuhan bahasa yang semakin meningkat inilah, sekarang anak kecil sudah wajib belajar Bahasa Inggris. Anak TK saja sekarang sudah diajari cas cis cus berbahasa Inggris. Bukan hanya di sekolah elit lhoo.. bahkan sekolah TK di pelosok desa sekalipun pengenalan bahasa Inggris ini sudah ada. Jangankan di sekolah, games anak-anak di gadget pun sekarang menggunakan bahasa Inggris semua kan? Pernah merasa heran gak sih kenapa anak bisa mengikuti instruksinya? Ternyata cara kerja otak anak itu amazing luar biasa lhooo…
Roslina Verauli, S.Psi, M.Psi, Psikolog yang menjadi narasumber dalam EF Talkshow, menuturkan bahwa kemampuan otak anak dalam belajar bahasa itu memiliki masa golden moment, yaitu antara usia 0 hingga 6 tahun, dan mengalami puncak tertinggi ketika anak berusia 1 tahun. Terjawab kan kenapa anak rajin bergumam ketika usia 1 tahun’an. Itu karena otaknya bekerja menirukan bunyi-bunyian yang di dengarnya dan menangkap maknanya. Jadi kalau kamu mendengar ada yang bilang anak yang belajar lebih dari 1 bahasa itu bisa bikin terlambat bicara, ternyata itu sebatas mitos belaka. Karena terlambat bicara atau speech delay itu dipengaruhi banyak faktor.

Memangnya anak usia 0 tahun sudah bisa menangkap apa yang kita bicarakan? Jangankan yang sudah lahir, anak yang masih dalam kandungan dan sudah memiliki indera lengkap saja, sudah bisa menerima stimulasi. Ketika di dalam rahim, janin menggunakan indera pendengerannya untuk menerima rangsangan dari luar. Ketika anak sering diperdengarkan murotal bacaan Al-Quran sejak dalam rahim, maka otak anak menyimpan memori tentang bunyi bahasa yang pernah ia dengar sejak di dalam kandungan. Demikian juga dalam berbahasa Inggris. Meskipun baru lahir tetapi diberi stimulasi dengan lagu-lagu berbahasa Inggris, maka otaknya terbiasa mendengar bunyi bahasa tersebut.
Mau anak pinter bahasa Inggris itu sebenarnya gak ribet kok. Kuncinya hanya STIMULASI. Stimulasi seperti apa sih yang bisa kita berikan?
- Merespon bunyi-bunyi dari bayi dengan kata. Ketika bayi memegang boneka pisang, misalnya, maka kita bisa meresponnya dengan mengatakan “Banana”. Si bayi akan merekam dalam otaknya bahwa benda kuning berbentuk panjang itu “Banana”. Gampang tho?
- Memberi perhatian dan komentar pada apa yang anak lihat. Ketika anak sudah mulai menirukan dengan menyebut kata “Banana”, kita bisa memberikan komentar lanjutan, seperti “Do you want some banana?” atau bisa juga dengan menanyakan “are you hungry? Do you want some banana?”. Ini membantu anak untuk mengeksplorasi kata lewat apa yang ia rasakan.
- Bermain social games. Stimulasi bahasa bisa juga dilakukan dengan mengajak anak bermain social games. Karena pada dasarnya anak-anak itu dunianya bermain, maka permainan menjadi stimulasi yang pas. Peraturan dan tata tertib permainan bisa dijelaskan dengan menggunakan bahasa Inggris. Sehingga anak terbiasa mendengar dan berbicara dengan bahasa Inggris dalam suasana yang menyenangkan
- Melibatkan anak dalam bermain pura-pura. Siapa sih yang gak senang bermain dengan imajinasi? Anak-anak pasti senang berpura-pura menjadi tokoh favorite super heronya. Bermain pura-pura juga bisa menjadi ajang stimulasi berbahasa yang seru lhoo..
- Melibatkan anak dalam percakapan sehari-hari. Nah, stimulasi yang intens dan berkelanjutan inilah yang paling bagus dan cepat dalam perkembangan bahasa anak. Dengan menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari, maka penyerapan bahasa semakin mudah. Tentu saja anak juga jadi tidak merasa terpaksa belajar.
Naah… semua stimulasi di atas bisa dilakukan selama orang tua juga menguasai bahasa itu sendiri. Jika orang tua tidak menguasai bahasanya, tentu saja pemberian stimulasi jadi tidak maksimal. Bagaimana bisa mendapatkan hasil yang maksimal dengan kondisi dan keterbatasan orang tua? Seperti kita tahu, sebagai orang tua keterbatasan kadang bukan hanya pada kemampuan, tetapi juga soal waktu. Dengan segala keterbatasan kita sebagai orang tua, bisakah kita memberikan stimulasi bahasa yang maksimal? Bisa sangat bisa.
Baca Juga: Menyiapkan Dana Pendidikan Untuk Anak
Jika orang tua sibuk, atau memiliki keterbatasan dalam memberikan stimulasi berbahasa, anak masih bisa mendapatkan stimulasi yang maksimal dengan memanfaatkan peran lingkungan sekitar dan support sistem yang mumpuni. Jika tinggal dengan saudara ipar yang segambreng dan berjiwa muda, bisa banget dimanfaatkan untuk membantu anak-anak mendapatkan stimulasi bahasa yang maksimal. Kali aja tinggal bareng 3 saudara ipar yang memiliki kemampuan berbahasa asing berbeda-beda, wuaah kece banget deh pastinya. Lalu bagaimana jika lingkungan tempat tinggal pun juga tidak mendukung?
Ya udah masukkan saja ke EF English First!
Kata Darius Sinathrya dan Donna Agnesia, itulah yang mereka lakukan ke anak-anak mereka sejak kecil. Padahal mereka belum sekolah, kenapa kok dimasukkan untuk ikut les Bahasa Inggris? Karena sebenarnya les itu bukan untuk memperbaiki nilai yang jelek. Les itu untuk menunjang kesukaan dan kebutuhan anak. Les itu harus menyenangkan. Les itu harus seru. Dan anak seharusnya menikmati waktu lesnya.
Darius dan Donna memutuskan untuk memasukkan anak-anak mereka ke EF English First bukan untuk Gengsi. Catat ya! Bukan untuk Gengsi, anak artis harus bisa cas cis cus Bahasa Inggris. Bukan! Darius dan Donna memasukkan anak-anak mereka ke EF karena kebutuhan berbahasa Inggris yang makin tinggi. Di EF anak-anak bisa mendapat stimulasi dengan benar dan maksimal, tetapi anak-anak bisa tetap senang melakukannya. Terbukti anak-anak Darius dan Donna hafal sekali kapan waktunya ke EF. Dan ketika mereka harus belajar di EF, mereka tidak mau diajak menghadiri acara yang lain, karena datang ke EF lebih menyenangkan. Naah… Kalau stimulasinya seperti itu, pasti anak-anak senang. Hasilnya pun juga bisa maksimal.
Sebagai penyedia jasa kursus bahasa Inggris, EF English First bisa menjadi pilihan bagi orang tua yang ingin mendidik anak menjadi generasi yang multilingual. Kita tahu dengan segala kesibukan dan keterbatasan kita, tidak bisa menutup kemungkinan kita pun kadang membutuhkan support sistem dalam membantu mendidik anak-anak. Dengan memiliki kemampuan lebih dalam berbahasa, tentu akan meningkatkan rasa percaya diri anak-anak.
Berdasarkan penelitian, anak yang memiliki keterampilan multilingual memiliki IQ lebih tinggi. Sehingga anak juga memiliki kecerdasan sosiokultural yang lebih dibandingkan teman seusianya. Karena anak multilingual akan memiliki kemampuan memetakan penalaran dan flesibilitas dalam berpikir, maka biasanya anak tersebut bisa tumbuh menjadi pribadi yang mampu bersaing dengan sesamanya. Ternyata mendidik anak multilingual itu punya banyak manfaat yaa… Bukan sekedar demi gengsi.













Ini terbuat dari kardus susu UHT bekal sekolah anak-anak. Saya gunakan untuk menyimpan alat jahit dan kertas Origami. Kebetulan dua bocah saya gemar sekali gunting-gunting kertas origami. Entah sudah berapa saja kertas origami yang masih mulus itu menjadi berkeping-keping di tangan duo Kira & Kara. Karena merasa sayang untuk dibuang begitu saja, suka saya kumpulkan. Lain waktu kertas-kertas tersebut bisa kita tempel-tempel menjadi bentuk apa saja dengan teknik kolase. Begitulah emak pelit macam saya memanfaatkan apa saja yang tersisa.
Rak tempat buku Kira dan Kara sudah tak lagi mampu menampung hasil lapar mata saya. Buku anak-anak bertumpuk di rumah kami. Hampir semuanya bukan buku mahal. Buku tersebut hasil hunting saya di rak-rak obral buku. Isinya gak kalah kece kok. Jadilah saya harus memutar otak untuk membuat tempat-tempat baru untuk buku-buku tersebut. Membeli rak buku baru, duitnya kalah melulu sama genteng bocor di rumah. Haha… Jadilah ngalah dulu ya. Akhirnya Kardus Aqua, disulap menjadi rak buku ala-ala bunda Kira & Kara. Seperti inilah hasilnya. Bukan yang istimewa, namun Alhamdulillah, kini buku-buku tersebut tak lagi berantakan. Meski sudah mulai reyot karena dibikin sekitar 2 tahun yang lalu, namun masih bisa menampung buku-buku agar tidak berantakan.
Selain bermain dengan kertas origami, Kira dan Kara juga gemar menggambar di kertas bekas yang baliknya masih kosong. Kertas bekas dari tempat saya kerja, sering saya bawa pulang. Kalau sudah mendapatkan itu, Mereka seperti ketemu harta karun. Bisa menghabiskan setumpuk dalam sekali waktu. Menggambar apa saja mengikuti imajinasinya. Karena itu, biar rapi saya bikin semacam tempat file untuk taruh kertas-kertas Kira dan Kara. Lumayanlah, mengurangi post dana belanja barang perintilan.
Tempat mainan ini saya bikin dari kardus bekas susu atau bekas sereal. Kalau mau lebih kuat bisa juga bikin dari kardus bekas susu UHT. Untuk memudahkan Kira dan Kara mengambil mainannya, biasanya saya klasifikasikan berdasar jenis-jenis mainan. Balok dengan balok, barbie dengan barbie, ada masak-masakan, ada hewan-hewan, mobil-mobilan, dan segala macam. Kalau melihat di pinterest, klasifikasi mainan di tempatkan di kotak plastik bening. Berhubung budget saya mepet, tapi keinginan saya gak mau kepepet, jadilah bikin beginian. Meskipun tak jarang pada akhirnya mereka campur aduk juga. Tapi seru, bisa mengajarkan anak-anak untuk mengelompokkan mainannya sesuai kriteria.






