
Tahun 2023 adalah tahun terberat dalam buku kehidupanku. Di awal tahun aku kehilangan tiga orang tersayang dalam waktu yang berturut-turut, suamiku, ibuku dan papa mertuaku. Kehilangan tersebut menjadi hantaman hebat dalam hidupku. Aku terpuruk, depresi dan linglung. Meski orang lain melihatku tampak tegar dan kuat, tapi aku tahu aku tidak sedang baik-baik saja.
Salah satu dampak depresiku adalah aku sempat terperangkap dalam impulsive buying. Aku membeli ratusan tas yang bahkan aku tidak tahu mau aku apakan tas-tas ini. Pada saat membeli aku merasa suatu saat aku akan membutuhkannya. Tapi ketika satu persatu tas itu datang, aku bahkan tidak tahu kapan aku akan menggunakannya. Tas-tas yang sangat-sangat banyak itu bahkan tidak lagi muat di lemariku.
Tragedi Decluttering
Untuk menampung tas-tas itu aku berinisiatif untuk menggunakan lemari baju suamiku. Baju-baju suamiku aku sumbangkan ke tempat yang jauh yang tidak terlihat oleh mataku. Namun aku kembali melakukan kesalahan. Aku mengeluarkan begitu saja baju-baju itu tanpa memilah dengan hati-hati dan penuh kesadaran.
Saat itu yang ada di pikiranku aku ingin sesegera mungkin menyingkirkan baju-baju suamiku. Aku tidak ingin melihatnya. Setiap kali aku melihat dan membuka lemarinya, kelebatan kenangan menari dan membuatku kembali terpuruk. Aku tidak ingin terlihat lemah, aku tidak ingin menangis.
Sepulang sekolah anakku kaget melihat lemari baju ayahnya sudah berubah. Lantas ia panik mencari satu kaos yang biasa dipakai ayahnya dan tidak menemukannya. Ia teriak dan menangis. Memprotes tapi tidak tahu berkata apa. Aku meminta maaf. Ternyata di antara sekian banyak baju ayahnya, anakku ingin menyimpan satu kaos yang menjadi favoritnya.
Beruntung barang yang sudah aku serahkan ke ekspedisi masih bisa aku minta kembali untuk aku bongkar sementara. Setelah dicari, ternyata kaos itu ada di dalam kardus. Setelah menemukan kaos yang dicari, barang-barang kembali aku packing dan diberangkatkan ke Kalimantan untuk disumbangkan ke yang berhak menerima.

Perbaiki Gaya Hidup Untuk Pulih
Setelah beberapa kejadian yang membuat hidupku bukannya semakin baik, malah semakin terpuruk, aku tahu ini saatnya aku meminta bantuan. Ada yang sedang tidak baik-baik saja di dalam jiwaku yang butuh untuk didengarkan dan dipulihkan. Akhirnya aku menemui psikolog dan melakukan konsultasi dan terapi.
Psikolog menyarankanku untuk memperbaiki pola hidupku pelan-pelan. Tidak perlu terburu-buru, beri waktu pada diri sendiri untuk berduka. Tidak mengapa menangis dan bersedih. Tidak perlu takut terlihat lemah. Menangis saja jika ingin menangis. Bersedih saja jika ingin bersedih. Setelah itu bangkit dan berdiri lagi.
Ketika aku berkata kalau aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku tidak tahu memulai dari mana untuk bangkit. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan setelah ini. Beliau menyarankan dimulai saja dari membenahi barang-barang di rumah. Pilah perlahan barang apa saja yang masih dibutuhkan dan tidak lagi dibutuhkan. Berkurangnya anggota keluarga tentu akan ada banyak barang yang tidak lagi dibutuhkan dan ada banyak ruang yang akan berubah fungsinya.

Menerapkan Minimalisme dan Belajar Decluttering
Bersama dua anakku aku berdiskusi tentang barang-barang dan ruang-ruang di rumah. Apa yang akan kita lakukan dengan barang-barang dan ruangan di rumah kita, agar kita kembali nyaman. Akhirnya kita memutuskan untuk menyortir barang-barang yang nampak oleh mata terlebih dahulu, seperti aquarium-aquarium.
Dulu suamiku menyukai aquascape. Ada banyak akuarium di rumah. Setelah ia meninggal, aku tak lagi sanggup merawat ikan-ikan dan aneka tanaman air tersebut. Akhirnya aku memutuskan untuk memberikan ke siapa saja yang mau. Ada sekitar 12 aquarium yang ada di rumah dan aku memutuskan hanya menyisakan satu akuarium paling kecil. Aku senang melihat ikan tapi aku tak sanggup merawat banyak ikan. Jadi satu akuarium aku rasa masih bisa untuk aku jadikan penghibur.
Proses memilah barang seperti ini yang pelan-pelan aku lakukan bersama anak-anak. Aku memilah barang-barang tersebut berdasarkan prioritas dan yang paling terlihat mudah untuk disortir terlebih dahulu. Aku juga membuat gambaran sederhana tentang rencana yang akan kita lakukan kedepan bersama anak-anak.
Misal, ke depan aku ingin bekerja kembali di rumah. Lalu apa saja yang aku butuhkan untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Barang-barang apa saja yang masih aku butuhkan dan apa saja yang bisa dijual untuk menyambung hidup. Ruangan mana saja yang akan aku prioritaskan untuk ditata ulang menjadi ruang kerja. Merencanakan dan memilih prioritas seperti ini membuatku dan anak-anak memiliki semangat baru.
Akhirnya dari 5 ruangan yang harus ditata ulang, hingga hari ini masih tersisa 1 ruangan saja. Satu ruangan paling krusial dan paling berat untuk aku bongkar. Ruangan ini adalah ruang kerja suamiku yang dulu sekaligus sebagai ruang kerja dan perpustakaan miniku. Ruangan yang paling banyak menyimpan kenangan buatku dan anak-anak. Sekarang ruangan itu masih serupa gudang karena bertumpuk barang-barang yang masih harus dipilah dan disortir.
Tapi sekarang aku tahu, aku tidak perlu terburu-buru. Aku menikmati setiap langkah dan setiap momen memilah barang-barang itu satu persatu. Menanyakan apakah aku masih membutuhkannya. Dibutuhkan untuk apa. Dalam waktu berapa lama aku akan memakai barang tersebut. Apakah aku akan merasa bahagia atau justru malah menjadi sedih karena teringat suamiku. Masih banyak list pertanyaan yang aku tanyakan setiap kali aku memilah dan melihat barang-barang tersebut.
Tak jarang kenangan akan barang-barang tersebut kembali muncul. Kalau sudah seperti itu, aku memilih berhenti sejenak. Memberi waktu untukku memulihkan diri tanpa terburu-buru. Jika sudah mereda baru aku lanjutkan kembali. Aku tak lagi tergesa-gesa. Aku menikmati memilih barang dengan penuh kesadaran.
Manfaat Yang Didapat Setelah Menerapkan Gaya Hidup Minimalis
Proses decluttering dengan penuh kesadaran itu ternyata memiliki imbas sangat banyak untuk hidupku. Proses decluttering itu ternyata bukan sekedar proses memilah barang-barang. Dari proses menata barang-barang di rumah inilah akhirnya aku membuka jalan untuk menata hidup. Dari memilah barang akhirnya aku dapat memilih prioritas dalam hidup. Menyederhanakan tatanan di dalam rumahku ternyata membuka proses menyederhanakan tatanan hidupku setelah berantakan.
Berikut beberapa manfaat yang aku dapatkan dari menerapkan gaya hidup minimalis:

- Membantu melepaskan ketergantungan emosional.
Jika awalnya aku susah memilah barang karena ada ikatan emosional, akhirnya aku mengajak diskusi anak-anakku. Jika aku menemukan barang-barang yang membuat hatiku galau, aku akan bertanya kepada mereka, apakah kita akan memerlukan barang-barang tersebut atau tidak. Anak-anak yang belum memiliki sejarah hidup sepanjang aku tentu tingkat perlekatannya juga lebih rendah. Hal ini bisa membuatku memiliki perspektif yang berimbang terhadap suatu barang. Sehingga aku bisa memutuskan proses decluttering tersebut dengan lebih waras dan sadar.

- Mengurangi kebisingan emosional
Mengurangi jumlah barang yang ada di dalam rumah ternyata mampu mengurangi kebisingan emosional. Aku hanya fokus pada barang-barang yang penting dan pasti digunakan dalam jangka waktu maksimal 3 bulan ke depan. Jika barang-barang tersebut akan digunakan masih tahun depan lagi aku memutuskan untuk menyumbangkannya saja, daripada rusak karena usia, dan ketika tahun berganti belum tentu kita masih ada mood untuk menggunakannya, maka lebih baik biarkan barang tersebut menjadi rejeki orang lain yang lebih membutuhkan dalam waktu dekat.
Dengan barang yang tak lagi sepenuh dan sebanyak biasanya, kekhawatiranku akan perawatan barang-barang tersebut juga berkurang. Bahkan saat Surabaya sedang dilanda musim hujan berat pun aku tak banyak khawatir, karena barang yang harus disimpan tak sebanyak dan sepenuh dulu. Aku juga jadi lebih fokus merawat barang-barang yang dibutuhkan dengan lebih layak tanpa terbengkalai.

- Memiliki ruang untuk tumbuh
Ruang yang semakin lega dan barang yang semakin minimalis, akhirnya ada ruang untuk anak-anakku tumbuh dan berkreasi. Jika biasanya ada banyak akuarium berjejer, maka sekarang berganti lukisan di mana-mana. Kami juga jadi memiliki rak khusus menyimpan peralatan camping yang biasa kami gunakan untuk menyepi setiap libur sekolah tiba. Maklum generasi milenial yang tumbuh di alam gak bisa jauh dari camping untuk liburan. Gaya hidup minimalis juga akhirnya membuat kami memahami tentang arti frugal living. Merawat barang-barang yang minimalis dan secukupnya tentu dana yang dibutuhkan pun tak sebesar biasanya. Dari memangkas banyak barang di rumah aku berhasil menghemat 30% biaya tagihan bulananku.

- Fokus pada cerita baik bukan tentang penyesalan
Memilih prioritas dalam hidup menjadi lebih sederhana akhirnya membantuku untuk berani menatap masa depan. Menyederhanakan masalah adalah salah satu hal yang kini bisa aku lakukan berkat proses menyederhanakan tatanan rumah. Proses ini membuatku bisa melihat dan bersyukur akan nikmat-nikmat yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Jika biasanya dalam memilih barang aku selalu berat karena terlalu banyak barang yang menyimpan kenangan dan penyesalan kenapa tidak lagi dapat menggunakan barang-barang tersebut, sekarang aku memilih fokus kepada cerita-cerita baik yang dihasilkan dari barang-barang itu. Beberapa teman yang menerima hibah barang-barang, banyak yang mengirimkan cerita dan foto tentang barang tersebut yang kini jauh lebih bermanfaat di tangan mereka. Cerita dan foto-foto itu ternyata memberikan penghiburan yang luar biasa buatku.
Ada cerita dari seorang yang menerima jas suamiku yang dulu dipakai ketika kami menikah. Ibunya yang seorang pemulung sedang kesulitan mencarikan jas untuk anaknya yang akan wisuda kelulusan SMA. Dresscode jas untuk anak lelaki membuatnya galau. Kalau beli baru tentu mahal. Kalau beli bekas, nantinya akan dipakai untuk apa lagi, hanya dipakai sekali. Ketika akan menyewa, tempat sewa di sekitar rumah sudah banyak yang habis karena disewa untuk musim wisuda dan pernikahan.
Lantas kukasihkan saja jas suamiku. Ia senang bukan main. Ukurannya pas untuk anaknya yang masih SMA, masih generasi Z. Ternyata di tangan anaknya, jas itu tak hanya dipakai untuk prosesi wisuda saja. Tetapi jas itu juga yang ia pakai untuk melamar kerja dan training yang kebetulan diwajibkan memakai jas. Sungguh senang bukan main anaknya tak perlu pusing mencari pinjaman jas lagi selama proses tersebut. Aku pun yang mendapat cerita seperi itu juga jadi lebih bahagia.
Masih banyak cerita serupa yang aku terima dari berbagai barang yang aku donasikan. Aku tak lagi enggan untuk melepas barang meski ia menyimpan kenangan yang sangat berharga. Cerita-cerita baik yang dibawa oleh takdir barang-barang tersebut menjadi hal yang sangat meringankan. Tentang kenangan dari barang itu, cukup aku simpan dan aku lihat dari berbagai foto-foto di album saja.
Dari proses memperbaiki gaya hidup menjadi lebih minimalis inilah aku menemukan proses untuk pulih dan bangkit. Aku tak lagi takut untuk menatap masa depan. Jika sesekali ragu datang, aku tak lagi terlalu khawatir. Aku cukup berhenti sejenak untuk memantapkan hati, lalu setelah itu akan ada banyak cerita bermunculan dari prosesnya.
Cerita ini aku tulis dalam rangka mengikut lomba yang diadakan oleh IWITA untuk memperingati hari blogger nasional. Iwita Kreatif Inovasi adalah organisasi yang fokus pada pemberdayaan perempuan dan pemberdayaan komunitas melalui teknologi informasi.
Aku membacanya semacam menonton scene demi scene cerita drama, terutama yang memasukkan baju alm suami tanpa kesadaran. Membayangkannya saja kutak berani, Mba.
Semoga Allah Swt senantiasa merangkulmu dan keluarga, Mba Wid -xoxo
Proses di balik pemulihan memang banyak yang seperti drama mbak. Nanti diungkap satu per satu. Amin… amiin… terima kasih doa dan supportnya mbak Ning. Semoga Mbak Ning dan keluarga sehat selalu ya…