
Di tepi teluk Doreri, sebuah perahu kecil merapat di dermaga sederhana. Seorang pemuda turun membawa tas berisi lembaran bertuliskan huruf dan angka. Suara riuh anak-anak menyambut, berebut membawakan tas. Pulau di kabupaten Manokwari ini jauh dari gemuruh kota namun memiliki peran penting dalam penyebaran injil di Papua. Pulau kecil ini memiliki cerita menarik bagi seorang Bhrisco Jordy Dudi Padatu. Seorang pemuda yang berhasil memotret kelemahan melalui celah kecil yang terlihat dan menyalakan lentera pengetahuan di pulau Mansinam.
Bhrisco begitu ia akrab disapa, sebenarnya tinggal di Papua barat dan berhasil mengenyam pendidikan tinggi di Jakarta. Melihat ketimpangan yang terjadi di Manokwari dengan tingginya angka buta huruf, maka Bhrisco bertekad memberikan perubahan pada literasi di Papua. Letak Pulau Mansinam sendiri sekitar 15-30 menit dari kabupaten Manokwari. Namun masih banyak siswa usia sekolah menengah yang belum mampu membaca dan menulis. Ketimpangan ini bukan hanya sekedar pada fasilitas saja, namun kekurangan tenaga pengajar yang jauh dari kebutuhan jumlah ideal.
Bhrisco menyadari bahwa ini menjadi tanggung jawab bersama bukan hanya menunggu uluran tangan pemerintah. Hingga pada tahun 2020 ia menginisiasi lahirnya Papua Future Project (PFP). Papua Future Project adalah komunitas yang didirikan untuk menyalakan literasi di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Target awal mereka hanya sebatas membantu anak-anak tersebut agar bisa membaca, menulis dan berhitung. Bhrisco menggunakan metode pembelajaran sambil bermain dan bereksplorasi dengan bebas di alam agar lebih dekat dengan keseharian mereka. Misalnya mereka menggunakan permainan ular tangga sebagai media pembelajaran agar anak-anak bisa bermain sekaligus membaca dan berhitung, tanpa merasa terbebani. Bhrisco juga mengintegrasikan nilai adat, permainan tradisional, lingkungan, hingga pengembangan karakter dalam pembelajaran.

Meskipun Bhrisco warga lokal Manokwari, namun bukan berarti perjalanan nyala literasi mereka berjalan mulus tanpa kendala. Kendala muncul bukan hanya sekedar dari segi finansial, namun juga dari relawan yang jumlahnya terbatas, karena memang tidak mudah mencari relawan yang mau tinggal di daerah pelosok dan pedalaman, terpencil dari peradaban. Dari sisi finansial, ada biaya sewa perahu yang tidak kecil, sekitar Rp700.000 hingga Rp800.000 setiap kali tim mereka berkunjung ke pulau Mansinam.
Kendala lain datang dari warga pulau yang masih memiliki pola pikir bahwa tugas anak membantu orang tuanya, termasuk menanam ubi atau memancing. Pilihan anak bersekolah atau bahkan kuliah ke luar pulau nampak seperti mimpi yang terlalu jauh untuk diraih. Namun Bhrisco tak hendak berputus asa, karena ia percaya bahwa semua anak berhak mendapat pembelajaran yang sama bagusnya, baik di kota maupun di desa, di wilayah modern maupun terpencil.
Meski berawal dari mimpi kecil, kini setelah beberapa tahun berlalu, usaha komunitas Papua Future Project mulai menampakkan hasilnya. Dari data yang tercatat ada lebih dari 700 anak menerima manfaatnya. Bhrisco juga berhasil mengajak 250 pemuda untuk menjadi relawan dan mulai belajar peduli. Dari relawan yang ia didik untuk terlibat dalam program tersebut, Bhrisco berharap semakin banyak tenaga-tenaga muda yang peka dan peduli dengan sekitarnya sehingga bisa membantu membangkitkan pendidikan dan semangat yang hampir padam di berbagai wilayah di Indonesia. Melihat anak-anak di pulau Mansinam bisa menulis namanya sendiri dan mulai belajar membaca, membuat ia merasa bahagia dan lega.
Kini pembelajaran sudah berkembang. Bhrisco dan kawan-kawan relawan lain mulai mengenalkan teknologi digital, kemampuan berpikir kritis akan perubahan iklim, kondisi lingkungan dan cuaca. Harapannya nanti mereka mampu menjaga rumahnya dan budaya baik di tanah Papua. Namun seringkali pembelajaran tersebut terkendala akan lemahnya sinyal di wilayah tersebut. Berbekal motto Papua Future Project (PFP) “Every Child Matters” bahwa setiap anak berarti, Bhrisco tak pernah absen untuk selalu memberikan nyala terang literasi di tengah pulau terpencil tersebut.
Kegigihannya berhasil memukau pandangan para juri. Pada tahun 2022, Bhrisco mendapatkan penghargaan dari SATU Indonesia Awards dari Astra International di bidang pendidikan sebagai sosok yang mampu membangkitkan nyala literasi di Papua. Baginya penghargaan ini bukanlah akhir dari tujuan perjuangannya. Ia ingin tahun 2025 ini ada 100 kampung yang bisa jadi melek literasi, bisa membaca, menulis dan berhitung. Ia ingin suatu hari nanti pemuda-pemuda asli Papua mampu menjadi agen perubahan bagi kampungnya sendiri.

Ia senang, kini setiap kali ia turun dari kapal yang ia sewa sambil membawa tas, anak-anak tak lagi sekedar berebut tas yang ia bawa, namun juga berebut buku untuk dibaca. Melihat anak-anak membaca di bawah pohon nyiur di pinggir pantai merupakan kebahagiaan yang tidak dapat ditukar dengan apapun. Dulu, jangankan membaca, memegang buku dengan cerita dan ilustrasi menarik tak pernah mereka impikan dan bayangkan.
Di dalam ruangan terbuka di sebuah pendopo gereja, mereka duduk bersila, melihat papan tulis sederhana, huruf‑huruf cetak besar, angka‑angka warna‑warni. Seorang relawan muda mengangkat kartu, “A… B… C…” Anak‑anak menirukan dengan tertawa. Lalu mereka memainkan ular‑tangga dengan huruf. Satu langkah maju jika bisa baca kata, dua langkah mundur jika salah. Suara tawa semakin lantang.
Setelah sesi belajar, Bhrisco mengambil waktu sebentar untuk berbincang dengan salah satu anak perempuan. “Kenapa kamu suka belajar?” tanyanya. “Supaya bisa baca surat mama,” jawab anak itu lugas. Jawaban yang tak pernah diduga akan muncul dengan jujur dan lugas dari seorang bocah perempuan yang membuat Bhrisco tersenyum. Tak berhenti hanya di situ, Bhrisco kini juga menawarkan beasiswa bagi anak perempuan Indonesia yang rentan mengalami pernikahan dini atau korban kekerasan melalui beasiswa yayasan Khouw Kalbe. Karena perubahan pendidikan bukan kerja satu orang, tapi gerakan bersama, maka Bhrisco mengajak semua pemuda untuk peka dan mau turun tangan membantu, baik menjadi relawan luring maupun daring.
Sekarang mari kita bertanya, apa yang bisa kita lakukan untuk berpartisipasi membawa manfaat buat sesama? Karena setiap langkah kecil kita dapat memperkuat perubahan besar.