
Fungsi kognitif otak manusia semakin menurun. kalimat yang cukup menohok dari seorang teman di obrolan singkat kami. Benarkah? Tapi kenapa?
Kemudahan teknologi dalam mendapatkan informasi melalui mesin pencari atau AI membuat manusia menyerahkan fungsi berpikir kepada mesin. Padahal otak membutuhkan stimulasi untuk terus menyambungkan neuron-neuronnya. Pernah lihat iklan susu balita? Simulasi cara kerja otak terangkum singkat di sana. Saat otak belajar hal baru, berpikir dan melakukan fungsi kreatifnya, maka akan ada simpul-simpul ikatan baru antar saraf yang terbentuk, seperti kabel-kabel listrik yang saling tersambung. Makin banyak ikatan yang terbentuk, makin banyak pula aliran listrik yang mengalir, maka stempel manusia cerdas sukses melekat.
Nah, dengan menyerahkan fungsi berpikir kepada mesin pencari maupun AI maka, pembajakan terhadap fungsi otak terjadi. Akibatnya simpul-simpul yang terbentuk semakin sedikit. Lantas bagaimana dengan ikatan-ikatan lama yang sudah pernah terbentuk? Bayangkan kamu memiliki perpustakaan tapi tidak pernah membaca atau menggunakan bukunya. Simpul-simpul akan melemah, seperti buku usang yang penuh debu dan lembab. Seperti otot yang tidak pernah dilatih, demikian juga saraf, bisa melemah.
Jangan heran jika beberapa tahun ke depan angka kepikunan meningkat dan terjadi pada orang yang jauh semakin muda. Seperti yang terjadi pada tubuh manusia sekarang, angka diabetes, stroke, serangan jantung dan berbagai penyakit degeneratif juga menyerang manusia di usia yang semakin muda.
Analisa itulah yang melemparkan aku pada ingatan ketika berbincang dengan anakku. Pernah anakku bertanya tentang satu hal, dan seringnya dengan ringan kita berkata “coba cari di google”. Ada yang salah dengan jawaban tersebut? Kelihatannya tidak ya… Tapi sebenarnya dengan menjawab seperti itu, kita menutup ruang diskusi dengan anak, membajak sebagian fungsi otaknya dalam menganalisa dan berpikir. Semestinya dari pertanyaan yang dilontarkan anak, kita bisa mengajak anak menganalisa bersama, melihat dan mencari jawaban melalui proses berpikir. Bukan pada salah atau benar hasil jawaban akhirnya, tapi pada proses berpikir yang tidak boleh diskip begitu saja.
Lantas, apakah itu berarti kita tidak boleh menggunakan mesin pencari atau AI sama sekali? Tidak juga. Ibarat kita memiliki koleksi buku yang menyimpan berbagai macam ilmu pengetahuan, begitu juga kita menggunakan mesin pencari dan AI. Menggunakan informasi di dalamnya sebagai bahan diskusi, menganalisa jawaban yang kita dapat dari mesin pencari atau menggunakan AI sebagai brainstorming ide, masih sah dan bisa sangat membantu.
Seperti membuat kue, kita bisa mencari referensi resepnya di mesin pencari. Namun jika ada bahan yang kurang, tidak sama atau tidak sesuai selera, gunakanlah proses berpikir dengan menganalisa bahan dasar, aromanya, mencari subtitut bahan dengan memberikan kesempatan pada otak untuk berpikir kreatif. Proses pengambilan keputusan, analisa, memikirkan plot, mencari jalan keluar adalah proses berpikir yang semestinya masih terus kita jalankan. Mesin pencari dan AI adalah pelengkap dalam proses.
Seperti kalkulator, jika kita mendapat pertanyaan 88 + 9 dan tombol angka 8 rusak, kita tidak serta merta bertanya pada google untuk mendapat jalan keluar. Analisa, berpikir, amati, cermati untuk belajar mencari jalan keluar dengan memanfaatkan otak menjalankan fungsi sebagaimana mustinya. Proses itulah yang semestinya bisa kita terus pelihara untuk dapat menjaga kesehatan fungsi otak manusia. Jangan sampai terjadi manusia kehilangan insting dan kemampuan berpikirnya.
Ikatan antar neuron dan aliran listrik di dalamnya inilah yang harus terus kita pelihara melalui proses berpikir dan menganalisa. Seperti perpustakaan, memori-memori yang terekam dalam otak ini yang harus dijaga agar tidak melemah, usang dan berdebu. Karena dalam kehidupan, mendapat jawaban atau sampai pada tujuan bukanlah intinya, tapi proses berpikir melakukan perjalanan adalah keindahan yang tidak bisa diabaikan. Selamat berproses, selamat mencari!
Tabik.