WOTD : Seishinryoku – inner strength (keteguhan – kemampuan menghadapi kesulitan)

Akhir pekan kemarin duo kunyil mengajakku nonton film “Beautiful Boy”. Film ini berkisah tentang seorang anak yang terjerat dalam lubang narkoba. Si anak tumbuh di lingkungan yang sangat kondusif, orang tua kandung dan tiri yang sayang dan kooperatif, dari keluarga dengan ekonomi yang mapan, rumah yang nyaman. Si anak pun tumbuh menjadi anak yang cerdas, berpendidikan baik di lingkungan yang positif. Namun ternyata dia masuk ke dalam jerat narkoba bahkan hingga berkali-kali keluar masuk pusat rehabilitasi.

Kira awalnya sudah menonton sendiri karena tokoh lelaki dimainkan oleh aktor favoritnya, Timothy Chalamate. Namun ada banyak hal yang dia tidak paham. Karena itu dia memaksa kami untuk ikut menonton, dan seperti biasa sepanjang film ada banyak pertanyaan yang harus aku jawab sambil nonton. Salah satu pertanyaan besar yang dia gak paham adalah kenapa anak yang tumbuh di lingkungan semenyenangkan itu, rumah senyaman itu, keluarga sepositif itu, masih terjerat narkoba hingga sangat susah untuk keluar, bahkan nyaris meninggal karena overdosis.

Lalu kuceritakan padanya tentang eksperimen tikus. Seorang ilmuwan melakukan eksperimen pada sekelompok tikus dengan memberikan semua kebutuhannya, dibuat hidup senyaman mungkin, dicukupi semua kebutuhan makanannya dengan makanan yang paling mereka sukai, dibuatkan sarang yang nyaman sesuai kebutuhan mereka. Namun yang terjadi adalah, tikus itu saling gigit, saling serang, saling membunuh.

Lalu kuceritakan pada duo kunyil bagaimana otak dan narkoba bekerja. Kuperkenalkan mereka pada hormon dopamin dan endorfin. Pada dasarnya manusia membutuhkan kedua hormon ini untuk merasa menjadi manusia yang utuh. Kedua hormon ini dapat diproduksi oleh otak secara alami. Misalnya, hormon dopamin akan diproduksi ketika manusia merasa bahagia dan puas setelah mencapai sesuatu, perasaan lega dan gembira ketika menikmati makanan yang terasa enak. Namun apa yang terjadi ketika semua perasaan itu “dibajak” dan “dirampas” dengan pemenuhan kebutuhan secara instan?

Anak yang tidak perlu melakukan apapun namun bisa mendapatkan segalanya tentu otaknya tidak akan dapat memproduksi hormon dopamin dengan baik. Buat mereka makanan sama saja rasanya, karena setiap hari bisa dinikmati tanpa perlu bersusah payah. Barang dan segala fasilitas nyaman bisa didapatkan kapan saja mereka minta.

Bahwa ternyata sebagai orang tua yang memberikan rasa nyaman dan fasilitas serba ada, ternyata kita telah membajak salah satu fungsi otak anak. Sehingga secara naluri anak akan mencari pemenuhan kebutuhan untuk produksi hormon dopamin tersebut dengan melakukan hal yang lain. Bisa saja dengan cara yang sehat seperti melakukan hobi-hobi ekstrim atau bisa juga dengan cara merusak otak seperti narkoba.

Dari diskusi itu kunyil mengetahui bahwa kesulitan itu diciptakan untuk mereka bisa memproduksi hormon dopamin dan endorfin dengan sempurna tanpa merusak tubuh. Perasaan bahagia dan rasa puas yang ditimbulkan oleh produksi hormon tersebut membuat mereka menjadi manusia yang utuh. Kemampuan menghadapi kesulitan tentu tidak muncul begitu saja di lingkungan yang serba ada dan serba nyaman. Terkadang kesulitan dan tantangan itu harus diciptakan.
Seperti layaknya ketika berpuasa, waktu berbuka adalah waktunya otak banjir dopamin dan endorfin. Sesederhana minum es teh dan menikmati gorengan menciptakan kepuasaan yang luar biasa. Dari hal-hal sekecil itulah aku menciptakan obrolan dan kedekatan dengan duo kunyil. Hal-hal yang tidak bisa aku beli dengan apapun dan tidak akan bisa aku ulangi lagi. Selamat bertumbuh, selamat terbang lebih tinggi lagi. Allah menjaga kalian sebaik-baik penjagaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *