
Beberapa hari lagi Kunyilku akan mengikuti perkemahan di luar kota dalam rangka KTS (Kegiatan Tengah Semester). Seperti layaknya KTS sebelumnya, akan selalu ada perlombaan dan penilaian antar kelas. Setiap siswa diberi kesempatan untuk ambil bagian dalam perlombaan atau penilaian antar kelas. Untuk KTS kali ini Kunyil mendapat jatah lomba Morse berpasangan dengan seorang temannya.
Dalam lomba morse, mereka bekerjasama berpasangan. Satu anak akan mencatat kode morse yang diberikan dan satu anak akan menerjemahkan. Kunyilku yang biasanya enggan bersosialisasi, kali ini jiwa kompetitifnya tergugah. Ia yang tak pernah menyentuh pelajaran pramuka, kali ini serius belajar morse. Hampir setiap saat waktu luang ia gunakan untuk praktik kode morse di setiap coretan tulisannya.
Buat dia yang biasa menulis, bukan hal yang sulit untuk menghafalkan kode morse melalui tulisan setiap saat. Tak butuh tempo lama untuk ia bisa menghafal semua huruf dalam sandi morse. Namun sayangnya ketekunannya tak diikuti oleh temannya. Berkali-kali Kunyil mengajak partnernya untuk belajar bersama, si partner menolak. Adaaa saja alasan yang dibuatnya. Buat Kunyil yang biasanya duduk menyendiri, tentu butuh effort luar biasa ia mau menyapa dan mengajak temannya. Ketika berakhir dengan penolakan berkali-kali tentu mendatangkan rasa kesal yang luar biasa.
Salah satu keunikan di sekolah Kunyil, ketika menjelang lomba antar kelas, biasanya akan ada semacam gladi kotor atau latihan bersama. Seperti try out, anak-anak yang bertugas lomba akan diajak belajar dan praktek bersama layaknya lomba. Sehingga mereka punya gambaran seperti apa aturan lombanya, siapa lawan berat mereka nanti.
Ketika latihan bersama yang pertama kalinya, Kunyil hanya turun sendirian, tanpa partnernya yang entah di mana tiba-tiba menghilang. Tentu saja kunyil kesal. Terlunta-lunta ia mengikuti alur lomba sendirian tanpa partner. Kunyilku kecewa berat.
Sampai di rumah, ia tumpahkan kekesalannya padaku. Lalu kutanya, apa kesulitannya ketika berjuang sendiri? Katanya ia kesulitan menerjemahkan sandi morse secara langsung tanpa mencatatnya terlebih dahulu. Ia tetap butuh partner untuk mencatat sandinya. Lalu kuceritakan bahwa seorang telik sandi di lapangan, ketika mendengar dan memberikan sandi, ia bekerja sendirian. Begitu ia mendengar ia langsung paham.
Ternyata ia pun merasakan hal yang sama. Seharusnya ia bisa langsung tahu begitu kode itu dibunyikan. Lalu ia bertanya “ada gak ya bund, aplikasi yang bisa untuk berlatih morse tanpa aku harus menunggu temanku?” Ia tak membutuhkan jawabanku karena kulihat jarinya terampil mengetik di google. Ternyata ada.
Maka sejak hari itu hingga tadi pagi, ia rajin berlatih sendiri. Kadang-kadang saudara kembarnya menemani dan menjadi partner. Meski tidak sedang lomba, kunyil satunya juga sedang persiapan untuk menempuh ujian pramuka garuda yang pasti juga membutuhkan keahlian membaca sandi morse. Maka kulihat ia kembali bersemangat dan berlatih dengan serius.
Lantas apakah kunyil bisa juara di lomba morse nanti? Entahlah. KTSnya masih akan diadakan minggu depan. Kunyil pun sudah curhat ke wali kelasnya hingga akhirnya disepakati bahwa yang maju menjadi partnernya diganti. Kali ini ia mendapat partner yang bisa diajak kerja sama dan salah satu teman yang membuat Kunyil nyaman. Mari kita tunggu saja hasil lombanya dan cerita keseruan perkemahan mereka. Semoga bisa menjadi salah satu kenangan indah untuk core memorinya ya…
Namun yang jelas aku mendampingi mereka bukan untuk sekedar menang lomba, bukan mengalahkan tiap kompetisi semata, tapi aku ingin mereka memiliki tingkat resilience yang tinggi dalam setiap rintangan yang dihadapi. Karena aku tak selamanya menemani. Aku persiapkan mereka semampuku selagi aku bisa. Semoga dari setiap tantangan yang mereka temui saat ini, mereka punya bekal yang cukup untuk bisa terbang lebih tinggi.