Wotd : Gambit (Penuh Perhitungan)

Pagi tadi di tengah kegalauanku aku ngobrol sama anakku. Topiknya tentang kegalauan para ibu di seluruh bumi, “masak apa hari ini?”. Lalu aku katakan, aku pengen makan dadar jagung yang ada udangnya. Sedangkan di dekat rumah tidak ada penjual dadar jagung yang gurih udang. Itu berarti aku harus masak sendiri. Sedangkan kalau masak sendiri, aku malas menyerut biji jagung yang cenderung rusuh dan berantakan.

Kalau beli dadar jagung, dengan uang yang kumiliki, aku hanya dapat sedikit. Tapi kalau aku masak sendiri, aku harus belanja di ibu penjual sayur yang baru datang jam 9. Sedangkan pagi itu aku sudah lapar dan kabita sekali. Ada sih, penjual sayur yang pagi, tapi harganya lebih mahal.

Di waktu yang berbeda, aku pernah berbagi keluh kesah dengan anakku tentang yang harus aku kerjakan hari itu. Kebetulan jadwalku lumayan padat, mulai dari ambil rujukan Uti ke klinik, belanja sayur, menyelesaikan deadline edit video, mencuci baju hingga berbagai printilan pekerjaan domestik lainnya. Sedangkan hari itu moodku sedang berantakan, dan aku tidak tahu harus memulainya dari mana dulu. Seolah semua pekerjaan memanggil bersamaan. Kalau sudah seperti itu, biasanya aku tinggal rebahan saja saking pusingnya.

Apakah kegalauanku berhenti di situ? Oooh tentu saja tidak. Adaa saja kegalauan yang aku alami, yang pada ujungnya tidak ada yang kukerjakan karena aku tidak tahu harus memilih yang mana. Lantas bagaimana tugas-tugas itu selesai? Tugas-tugas itu selesai karena aku harus “diseret” keluar dari kamar. Seperti misalnya untuk ambil rujukan, akhirnya Uti datang ke kamar menanyakan rujukannya sudah diambil atau belum, maka mau tidak mau aku beranjak keluar kamar.

Deadline pekerjaan yang bisa aku selesaikan dari dalam kamar, aku selesaikan satu persatu sambil rebahan di lantai dingin. Pernah anakku bertanya, ngapain aku rebahan di lantai, aku jawab “grounding”.

Kali lain aku pernah berdiskusi tentang sekolah SMA yang cocok untuk anak-anak. Mengingat satu tahun lagi anakku mulai beralih jenjang. Kepada seorang kawan aku bertanya tentang reputasi sekolah-sekolah yang ada di Surabaya. Maklum, aku tidak besar dan bersekolah di kota ini, sehingga aku tidak tahu pasti tentang reputasi masing-masing sekolah. Ketika seorang teman bertanya apakah aku sudah pernah survey ke sekolah-sekolah swasta yang akan aku jadikan cadangan, aku jawab belum.

Aku memang belum melihat satupun sekolah swasta yang aku incar. Padahal aku harus menyiapkan rencana cadangan kalau ternyata anak-anakku tidak masuk ke sekolah negeri terdekat. Aku memikirkan dan mempertimbangkan mulai dari jarak sekolah, metode pengajaran, ekstrakurikuler hingga program-program sekolah. Untuk mendapatkan informasi itu, aku memang harus datang ke sekolah-sekolah. Seperti yang aku lakukan saat dulu mencari sekolah SMP.

Namun, setiap kali mau berangkat survey, jiwa introvertku meronta-ronta. Rasanya berat harus bertanya dan bersosialisasi dengan orang-orang yang tidak aku kenal. Kalau waktu mencari sekolah SMP dulu, aku diajak seorang teman untuk sama-sama survey mencari sekolah untuk anaknya. Aku harus diseret untuk keluar dari kepompong zona nyamanku. Aku sadar itu bukan hal yang patut dijadikan teladan. Tidak seharusnya aku seperti itu.

Bahkan anakku pernah menyentilku dengan mengatakan, “bunda, terlalu banyak pertimbangan dan terlalu banyak alasan itu beda tipis…” Mendengar sentilannya itu aku tertawa terbahak-bahak. Ya memang benar sih. Mungkin kegalauanku selama ini bukan karena aku orang yang penuh pertimbangan tapi karena aku terlalu banyak alasan. Kalau mau ya harusnya dilakuin aja, tanpa alasan blablabla lalalili. Just Do It!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *